Unduh Aplikasi

Kasus Kredit Fiktif Bank Mandiri Bireuen Dilimpahkan ke Pengadilan

Kasus Kredit Fiktif Bank Mandiri Bireuen Dilimpahkan ke Pengadilan
Panitera Muda Tipikor Banda Aceh, Samuin (kiri) memeriksa berkas kredit fiktri Bank Mandiri Bireuen yang diantar jaksa, ke Pengadilan Tipikor Banda Aceh

BANDA ACEH - Kejaksaan Tinggi Aceh melimpahkan berkas dakwaan kasus kredit fiktif pada Bank Mandiri Bireuen, ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh, Kamis (14/9) kemarin.

Kasus kredit yang merugikan negara sebesar Rp 18,5 miliar tersebut tinggal menunggu proses penetapan jadwal sidang oleh pengadilan.

"Biasanya tujuh hari setelah berkasnya dilimpahkan, jadwalnya sidangnya sudah ada dan kami tinggal menunggu jadwal," kata Zilzaliana, tim Jaksa Penutut Umum Kejati Aceh usai penyerahan berkas ke Pengadilan Tipikor Banda Aceh.

Ia mengatakan seluruh berkas yang diserahkan berjumlah 15 berkas untuk kelima orang tersangka yang ditetapkan dalam kasus itu. Kelimanya yakni Muhammad Diki, Cut Malem, Mauri Safitri, Ruhniyanti, dan Saiful Bahri.

"Untuk Cut Malem, Muhammad Diki, dan Saiful Bahri dikenakan dua tindak pidana yakni korupsi dan pencucian uang. Mereka ini menjabat mikro kredit sales atau yang mensosialisasikan ke dinas-dinas di Bireuen tentang adannya kredit bagi PNS,"kata Zilzaliana.

Adapun untuk Mauri Safitri dan Ruhniyanti, meski juga dikenakan dua pidana yang sama, namun diduga lepas dari tindak pidana pencucian uang karena dalam pemeriksaan keduannya mengaku tidak menikmati uang hasil penyelewengan kredit fiktif itu.

Hal tersebut berbeda dengan Cut Malem, Muhammad Diki, dan Saiful Bahri yang menggunakan uang tersebut untuk sejumlah keperluan pribadi.

"Diki uangnya digunakan untuk membuka usaha Laundry, Cut Malem ada yang ditransfer ke mertua termasuk membeli mobil dan kamera.Berkas ketigannya komulatif, dimana dakwaan primer subsidernya tipikor dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang(TPPU). Kedua perkara ini dalam satu berkas jadi bisa sekali jalan dan tinggal dibuktikan saat sidang,"sebutnya.

Menurutnya modus yang digunakan ke lima tersangka dengan memalsukan identitas dari 113 orang debitur penerima kredit seolah sebagai pegawai negeri sipil pada sejumlah dinas di kabupaten Bireuen. Padahal dari 113 debitur hanya 22 orang yang berstatus sebagai pns.

"Padahal cuma 22 yang pns sementara 93 orang lainnya ada yang pedagang, ibu rumah tangga dan pekerja bangunan maupun petani. Oleh tersangka data identitasnya dibuat pns agar kreditnya cair. Identitas mereka dipalsukan menjadi pns di lima instansi, yakni di Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu, BPBD, Dinas Syariat Islam dan PNS di Kantor Camat,"jelanya.

Dari 113 debitur tersebut sebut Zilzaliana, 22 orang dipalsukan datanya menjadi PNS di Kantor Camat Kuala, 10 orang PNS di kecamatan Jangka, dan 56 orang sebagai PNS di Dinas Syariat Islam. Selanjutnya 18 orang PNS di BPBD dan tijuh orang dipalsukan datanya sebagai PNS di KPTSP.

"Baru lima tersangka yang kami terima dari kepolisian dalam kasus ini. Ada kepala dan bendahara dinas yang diduga ikut terlibat khususnya dalam pemalsuan dokumen debitur. Jadi saat pencairan ke 113 debitur ini juga datang ke bank untuk tanda tangan pencairan uang padahal mereka hanya menerima 2 sampai 5 juta dari 200 juta platform untuk satu debitur.Sedang PNS, menerima aliran kredit fiktif lebih besar antara 20 hingga 30 juta,"ungkapnya.

Terungkapnya kasus ini berawal dari tertangkapnya salah satu tersangka oleh kepolisian atas kasus kepemilikan narkotika. Akibatnya, angsuran kredit sepanjang tahun 2013 hingga 2014 tersebut macet karena pelaku ditahan pihak kepolisian. Polisi akhirnya melakukan pemeriksaan sejak Maret 2016 melalui subdit kejahatan perbankan dan menetapkan 13 tersangka.

Dari seluruh tersangka, penyidik akhirnya menyidik lima tersangka yang terkait tindak pidana korupsi dan pencucian uang sementara delapan tersangka lainnya masih menjalani penyidikan di Ditreskrimsus Polda Aceh dimana dua diantarannya kepala dinas. "Untuk tersangka itu masih dikepolisian dan barang bukti yang kami terima yakni ada enam unit mobil diantarannya dua unit Honda Jazz dan Freed serta empat jenis Toyota Rush, Avanza, Fortuner dan Agya," katanya

Komentar

Loading...