Unduh Aplikasi

Karena Ummi Fatimah Patut Dikenang

Karena Ummi Fatimah Patut Dikenang
Rumah Sakit Umum Daerah Pidie Jaya. Foto: Ist

Oleh: Fakhri Abdul Muthalib

Setiap gerak Tgk Abdullah Syafi'i memang layak "disantap" pers. Ia dianggap tokoh penting untuk menyelesaikan konflik Aceh yang telah berlarut-larut dan berdarah-darah.

Namun, 22 Januari 2002 sebelum Serambi Mekkah aman, damai dan tenteram, Tengku Lah begitu Panglima Gerakan Aceh Merdeka biasa disapa lebih dulu meninggal dunia.

Ia meninggal begitu dramatis bersama Ummi Fatimah binti Abdurrahman, istrinya yang tengah mengandung enam bulan, dalam keyakinan menjadi syahid. (ULF/Tim Liputan 6 SCTV).

Tidak ada orang yang tidak percaya akan kegigihan perjuangan Panglima Chik Tgk Abdullah Syafi'i. Namun kegigihan dan kesederhanaan beliau tidak bisa lepas dari kegigihan dan kesederhanaan serta kesetiaan dari Ummi Fatimah istri beliau.

Ummi Fatimah adalah seorang istri pejuang yang selalu setia mendampingi suaminya bahkan sampai ajal menjemputnya. Ummi Fatimah turut menjadi "Syahidah" karena terjangan peluru bersama suaminya dalam mempertahankan perjuangan yang mereka yakini suatu kebenaran.

Tidak disaat Aceh telah diamanahkan kepada kita pengagum Tgk Abdullah Syafi'i dan Ummi Fatimah, nama Ummi Fatimah pantas dikenang dan tidak perlu dilupakan sesuai kata bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.

Ya, mungkin paling kurang namanya ditabalkan pada nama Rumah Sakit Umum Daerah Pidie Jaya menjadi RSUD Ummi Fatimah Pidie Jaya merupakan cara sedehana generasi kita untuk bisa mengingat jasa mereka yang telah mendahului kita.

Cara sederhana ini seperti halnya yang pernah dilakukan masyarakat Bireuen yang menamakan RSU Bireuen menjadi RSUD Dr Fauziah yang juga meninggal saat konflik masa lalu.

Mudah-mudahan dengan mandirinya RSUD Pidie Jaya, di tahun 2019 ini kemuliaan nama dan keteduhan hati seorang Ummi Fatimah juga akan menyejukkan hati seluruh warga Pidie Jaya dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Ummi Fatimah Pidie Jaya.

Mungkin langkah ini tidaklah asing seperti langkah Pemkab Pidie (Bupati Sarjani Abdullah) yang lebih dulu telah memberi nama RSUD Beureunuen menjadi RSUD Tgk Abdullah Syafi'i Beureunuen-Pidie.

Orang-orang terdahulu ketika perjuangan telah usai dan mereka ikut ambil bagian membangun pemerintahan, mereka segera menjadikan pemerintahan sebagai media membangun peradaban.

Bersegeralah mereka mengukir nama-nama para pejuang yang telah mengantarkan mereka menjadi para pengambil kebijakan pada nama-nama jalan protokol, nama-nama universitas, nama-nama rumah sakit bahkan nama bandara.

Alhasil di Banda Aceh banyak dijumpai jalan jalan protokol seperti nama-nama para pejuang seperti Jalan Tgk HM Daud Beureueh bahkan Jalan Hasan Saleh walau nama-nama mereka pernah menjadi nama yg paling terlarang di zaman rezim Orde Lama.

Langkah-langkah seperti itu nampaknya belum terlihat sampai tahun 2019 walau sudah satu dekade perjuangan telah usai. Kita belum menemukan adanya nama Jalan Dr Hasan Di Tiro di ibukota provinsi Aceh dan lain sebagainya.

Kita baru melihat RSU dr Zubir Machmud Idi, RSUD dr Fauziah Bireun, dan RSU Tgk Abdullah Syafei di Kota Beureunuen.

Tidak begitu pentingkah di zaman berbasis anggaran seperti ini kita hanya sekadar mengingat mereka walau hanya mencantumkan nama-nama mereka di sekitar kita berkarya?

Atau terganggukah konsentrasi kita dan semangat kita dalam "mencari kehidupan yang layak" jika dibayang-bayangi oleh nama-nama mereka?

Wallahu'alam

Penulis adalah mantan aktifis 1999

Komentar

Loading...