Unduh Aplikasi

Karena Bus Bukan Mesin Pembunuh

Karena Bus Bukan Mesin Pembunuh
ilustrasi

LANGKAH Kepala Dinas Perhubungan Aceh Zulkarnain memanggil manajemen perusahaan pengelola Simpati Star memang harus diapresiasi. perusahaan bus antarkota antarprovinsi ini tercatat 12 kali mengalami kecelakaan selama 2017. Di awal tahun ini saja, tercatat dua kali Simpati Star mengalami kecelakaan.

Langkah ini semakin krusial karena beberapa hari sebelumnya, dinas, bersama Balai Transportasi Aceh, Dirlantas Polda Aceh dan beberapa unsur lainnya, baru saja memanggil manajemen Simpati Star. Sore nanti, mereka akan kembali dipanggil dengan mengundang langsung Direktur Perhubungan Darat. Mereka akan dicecar dengan pertanyaan tentang kecelakaan yang kerap melibatkan bus tersebut.

Dalam lima tahun terakhir, pamor Simpati Star meningkat seiring dengan keberanian manajemen perusahaan memperbaharui armanda mereka dengan sasis asal Swedia dan karoseri kelas satu di Indonesia. Bahkan mereka mengoperasikan bus dua dek yang memiliki bangku seluas tempat tidur.

Kondisi ini mendorong sejumlah perusahaan lain berlomba-lomba meningkatkan kualitas layanan mereka dengan meremajakan armada mereka. Namun tetap saja, upaya ini tidak cukup mampu mengejar layanan diberikan oleh Simpati Star. Para sopir Simpati Star juga tak perlu mengejar setoran karena mereka digaji layak setiap bulan, tidak seperti di perusahaan bus lain.

Namun ternyata ini tak cukup menjamin keamanan di jalan. Manajemen harusnya benar-benar memastikan setiap sopir layak berkendara sebelum diberikan kepercayaan membawa puluhan nyawa di dalamnya. Pertemuan sore nanti hendaknya tak sekadar pelipur lara. Pertemuan itu hendaknya menjamin keselamatan di jalan, dan ini bukan hanya untuk Simpati Star. Karena bus-bus Aceh bukan mesin pembunuh.

Komentar

Loading...