Unduh Aplikasi

INTERMESO

Karakter Menentukan Tindakan

Karakter Menentukan Tindakan
Ilustrasi: Shutterstock

PARTAI-partai politik pengusung pasangan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah, pemenang Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017, mulai menyiapkan kuda-kuda. Sejumlah jurus pun dilancarkan untuk mengisi posisi Wakil Gubernur Aceh yang kosong usai Nova Iriansyah sah menjadi gubernur definitif. 

Masing-masing partai pun mulai menunjukkan perangai yang sebenarnya. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, misalnya, mencoba mendeklarasikan ketua partai itu sebagai calon wakil gubernur. Hasrat ini disampaikan langsung sang ketua partai, Muslahuddin Daud. Lagi pula, menjadikan Muslahuddin sebagai wakil bisa jadi mengembalikan marwah PDIP di Aceh.

Melihat cara PDIP mengusung Muslahuddin tentu wajar. Karena memang karakter partai ini blak-blakan. Mirip lambangnya, banteng merah. Sifat banteng memang suka menyeruduk. Sedangkan merah adalah simbol keberanian, tanpa tedeng aling-aling. 

Cara berbeda dipilih oleh Partai Daerah Aceh. Saat sang ketua umum, Muhibussabri alias Abuya Muhib, tak ada di kantor, sejumlah pengurus partai bermufakat--tentu dalam terminologi yang baik--untuk mengusung sang ketua umum sebagai kandidat. 

Ini memang khas anak-anak pesantren, malu-malu tapi mau, haya-haya kittun. Namun karena diajarkan untuk tidak terlalu berambisi mengejar amanah harus ada upaya menyamarkan keinginan untuk berkuasa. Bahkan sejumlah orang alim menilai, saat seseorang muslim berambisi untuk menjadi pemimpin, mungkin dia akan mendapatkan jabatan itu, tapi Allah akan meninggalkannya. 

Artinya, cara yang dilakukan sejumlah pengurus ini adalah langkah yang tidak akan menghilangkan marwah pimpinan mereka. Kalaupun Abuya Muhib bersedia, maka gugurlah ketentuan tentang ambisi itu. Bahkan mereka juga mengeluarkan ancaman jika sang ketua tidak bersedia dicalonkan. Cerdas. 

Sedangkan Partai Nanggroe Aceh memilih untuk melakukan konvensi. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ini berarti konferensi tokoh masyarakat atau partai politik dengan tujuan khusus. Mudah-mudahan terminologi ini yang dipakai. Para petinggi partai politik cukup berdiskusi di lantai yang sama untuk mendapatkan kandidat yang cocok.

Karena jika mengikuti konvensi ala pemilihan calon presiden di Amerika Serikat, atau seperti yang pernah dilakukan oleh Partai Golkar atau Partai Demokrat, langkah ini jelas sangat berisiko. Konvensi model ini membutuhkan waktu panjang. Mulai dari menjaring kandidat hingga memutuskan sosok layak sebagai calon wakil gubernur. 

Tapi jika langkah ini yang dipilih, itupun tak salah. Karena memang karakter menentukan sikap. Meski terlihat sebagai langkah yang bijak, mengingat waktu dan urgensi, menggelar konvensi menunjukkan kebingungan hebat di PNA untuk mengembalikan kader mereka ke puncak kepemimpinan di Pemerintah Aceh.

Komentar

Loading...