Unduh Aplikasi

Kan, Sudah Kubilang

Kan, Sudah Kubilang
Ilustrasi. Foto: the guardian
HUJAN lebat melanda hampir seluruh kawasan Aceh. Dampak buruknya mulai dirasakan oleh masyarakat. Di kawasan Barat-Selatan Aceh, banjir mulai menggenangi permukiman. Merendam sekolah-sekolah dan jalanan.

Tulisan ini sama sekali tidak membahas soal hujan yang mengguyur Aceh. Sebagai makhluk beragama dan mempercayai keberadaan Tuhan, tentu tak elok menyalahkan hujan lebat yang turun dalam beberapa hari ini.

Namun sebagai manusia, yang dilengkapi pikiran dan emosi, dampak buruk akibat hujan ini harusnya sudah dapat diprediksi. Banjir yang melanda kawasan Barat-Selatan, misalnya, bukan kejadian pertama kali. Masyarakat juga mulai “menikmati” banjir yang kerap datang saat hujan lebat.

Harusnya banjir ini membuka mata para pemangku kepentingan di hutan Aceh. Gubernur, kepala kepolisian, komandan daerah militer hingga, kepala kejaksaan, harusnya berpikir keras mengatasi banjir yang terus menerus membuat masyarakat merugi. Kerusakan hutan tak bisa lagi ditangani sendiri-sendiri karena perusaknya ramai. 

Banjir ini menjadi bukti betapa hutan di Aceh semakin rusak. Dan kerusakannnya sangat masif. Dampak dari pertambangan, penebangan liar dan aktivitas lainnya. Curah hujan yang deras tak mampu lagi ditampung oleh kantong-kantong hujan yang tersembunyi di dalam akar-akar pepohonan besar.

Tulisan ini juga bukan ingin berujar, “kan, sudah kubilang.” Apalagi, setiap kritik di masa-masa kampanye saat ini akan dikait-kaitkan dengan aktivitas politik yang serasa menjauh dari keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. 

Tulisan ini hanya hendak mengetuk hati nurani siapa saja yang membaca. Bahwa kita hidup dalam satu kesatuan. Satu ekosistem. Tanpa kepedulian terhadap kerusakan hutan yang tersembunyi di belantara Aceh, bencana ini akan semakin dekat dengan kita. Tak peduli apakah kita seorang pejabat atau pemulung sampah.

Komentar

Loading...