Unduh Aplikasi

Kampung Aceh

Kampung Aceh
Ilustrasi: cinday

SEJUMLAH usaha kecil di Aceh dinyatakan lolos sebagai calon penerima bantuan pemerintah. Atas dasar surat Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMKM), penerima bantuan melalui enam tahapan.

Sebanyak 102.896 usaha mikro melewati proses pembersihan data pengecekan duplikasi nama penerima, NIK sesuai dengan format, tidak sedang dalam pembiayaan KUR dan perbankan lainnya. Para pemilik usaha mikro ini akan mendapatkan bantuan hibah uang tunai senilai Rp 2,4 juta. Uang ini diharapkan digunakan untuk mendorong produksi dengan digunakan sebagai modal kerja.

Namun di tengah kelesuan ekonomi ini, kita tentu tak boleh terlalu berharap agar uang ini akan mampu menggerakkan ekonomi. Nilai ini sangat kecil dari yang dibutuhkan untuk kembali menormalkan perputaran ekonomi yang disebabkan oleh sejumlah kebijakan ekonomi yang tidak tepat dan diperparah oleh pandemi covid-19.

Bantuan ini dapat dikatakan sebagai upaya menahan agar pelambatan perputaran ekonomi ini tidak terlalu cepat. Karena di akar rumput, kesulitan ekonomi ini sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Terutama di kalangan menengah ke bawah.  Sampai saat ini, perekonomian masih sangat disokong oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai setengah dari total PDB. Sektor riil ini harusnya tetap dipertahankan napasnya dengan menjaga menjaga daya beli masyarakat.

Karena saat ini, sektor lain, seperti investasi dan pariwisata, yang masih menjadi andalan Aceh selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh, untuk menjaga nyala api perekonomian. Bahkan dapat dipastikan, sektor investasi dan pariwisata tidak segera bangkit setelah diterjang krisis ini.

Bantuan terhadap usaha mikro ini juga dapat didorong menjadi lebih bertahan lama jika pemerintah, baik di daerah maupun provinsi, mampu mendorong kemandirian pangan. Pemerintah harus mampu menciptakan kantong-kantong pertanian dan peternakan yang menjadi sumber ketahanan pangan Aceh.

Bahkan tak salah jika pemerintah mengucurkan uang untuk mendorong pertumbuhan sektor ini dengan mentransformasikan Aceh dari daerah konsumtif menjadi daerah produktif. Lahan-lahan yang tidak produktif dapat ditanami sayuran atau buah-buahan yang dibutuhkan masyarakat.

Atau menggalakkan sektor peternakan, tentu saja dengan ukuran dan kaidah yang sesuai dengan keinginan untuk menjadikan Aceh sebagai daerah penghasil pangan. Bukan malah jadi bancakan pejabat. Kita tak boleh mengharap dari perusahaan besar karena itu akan cenderung menjadi mainan segelintir orang. Ibaratkan warung dan plaza, mungkin lebih baik bagi kita untuk berbelanja di kedai tetangga ketimbang memborong kebutuhan dari 

Kita harus menyadari bahwa masyarakat kita adalah “masyarakat kampung” yang melakukan segala sesuatu dengan cara sederhana dan penuh rasa kekeluargaan. Mengapa kita takut mengakui hal itu dan menjadikan kesederhanaan dan kekeluargaan sebagai kekuatan untuk membangun kembali Aceh.

Komentar

Loading...