Unduh Aplikasi

Kalong di Langit Banda Aceh, Pengamat Lingkungan: Itu Berkah, Bukan Musibah

Kalong di Langit Banda Aceh, Pengamat Lingkungan: Itu Berkah, Bukan Musibah
Kalong (pteropus sumatrensis) di langit Banda Aceh. Foto: aceh indiphoto.

BANDA ACEH - Penampakan sekelompok kalong besar berjumlah ratusan terbang mengitari Simpang Jam, Banda Aceh, mengundang perhatian banyak warga dan pelintas di sekitar kawasan itu. Kejadian ini sempat mengakibatkan kemacetan lalu lintas di kawasan itu lantaran banyak warga yang menjadikan sebagai tontonan.

Itu merupakan rekaman dalam video berdurasi sekitar 15 menit. Video ini diterima AJNN kemarin, sekitar pukul 15.40 WIB. Banyak warga yang mengait-ngaitkanya dengan kejadian gempa beberapa waktu lalu di Pidie Jaya. Ada juga yang beranggapan bahwa ini menjadi pertanda buruk di Banda Aceh.

Namun menurut pengamat satwa liar Banda Aceh, Azhar, keberadaan kalong itu menjadi penanda bahwa lingkungan hidup di Banda Aceh semakin membaik. Karena mamalia ini merupakan penyerbuk dan pemakan serangga.

“Ada kalong besar di dalam kota adalah sesuatu yang mungkin tidak pernah dialami warga Banda Aceh dalam tiga atau empat dekade belakangan ini. Kemunculannya di tengah kota menandakan bahwa pepohonan di Banda Aceh mulai membaik,” kata Azhar kepada AJNN, Jumat (16/12).

Kemunculan kalong-kalong berukuran hampir setengah meter itu menandakan di areal yang dikelilinginya terdapat makanan. Seperti di musim hujan seperti saat ini, keberadaan walang sangit, sebagai pakan, di sekitar kawasan Taman Sari itu mengundang ratusan kalong. Keberadaan pohon tinggi, terutama cemara, di kawasan itu serta ketersediaan pakan, membuat kalong tak perlu terbang jauh untuk mencari makan. 

Binatang ini juga menjadi penyerbuk. Terutama untuk pohon durian. Karena itu, Azhar berharap masyarakat tidak berasumsi negatif terkait keberadaan kalong di tengah kota. Bahkan, menurut dia, ini adalah berkah dan keberadaan kalong ini harus dijaga. Jangan diburu untuk dibasmi.

“Kalong ini menyediakan servis lingkungan. Mamalia itu membasmi hama. Bayangkan saja, berapa kerugian warung-warung kopi karena harus mematikan lampu di malam hari untuk mengusir walang sangit. Belum lagi para penikmat kopi yang terganggu dengan bau busuk yang dikeluarkan binatang ini,” ujar Azhar. “Keberadaan kalong di langit Banda Aceh akan mengurangi keberadaan serangga.”

Komentar

Loading...