Unduh Aplikasi

Kalau Kamu Ingin Jadi Bupati, Bukan Begini Caranya

Kalau Kamu Ingin Jadi Bupati, Bukan Begini Caranya
Fauzan Azima

Oleh: Fauzan Azima

Pada tahun 2017 lalu, heboh ada ular besar di sekitar Bandara Udara Rembele, Bener Meriah. Cerita dari mulut ke mulut pun berkembang sampai ke pelosok kampung.

Bermula dari seorang bapak tua pencari daun pakis berlari meninggalkan kereta sorongnya.

“Ular...ular...ular...tolooong...” teriaknya dengan terengah-engah. Hampir saja dia tidak mampu menarik nafasnya. Seorang warga memberinya air putih agar pak tua itu tenang dan bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Warga mulai berdatangan, namun tidak serta merta menuju lokasi tempat ular itu berada. Kumpulan warga mengadakan musyawarah serta disimpulkan dan dipilih secara aklamasi beberapa pemuda yang gagah berani dengan senjata; parang, tombak, pisau komando dan katapel untuk mendatangi lokasi yang dimaksud oleh pak tua.

Sedangkan anak-anak, ibu hamil dan tua renta menunggu di dekat pekuburan Kampung Bale Atu.

Para istri pemuda gagah berani itu, demi tugas suci nan mulia, walau berat untuk berpisah dengan suaminya, mereka rela korban waktu menunggu untuk kepentingan masyarakat umum. Sungguh mulia hati para istri itu.

Di antara sekian pemuda gagah itu diangkat seorang pemimpin mengkomandoi operasi senyap tersebut. Mereka berangkat ke lokasi dengan perlahan tapi pasti. Mengepung dari segala penjuru dan memeriksa di setiap sudut. Ternyata ular itu tidak ditemukan. Mereka hanya berhasil menyelamatkan kereta sorong milik pak tua yang ditinggalkan tadi.

Para pemuda gagah berani itu membawa kabar berita masing-masing. Ada yang menyatakan telah bergeser ke kolam masyarakat di sebelahnya dan ada pula yang mengatakan itu ular jadi-jadian. Ceritanya semakin panjang dan tidak berkesudahan.

Masyarakat semakin penasaran dengan cerita simpang siur itu. Aparat sipil dan militer pun turun tangan, tetapi tetap saja ular itu tidak ditemukan.

Pada waktu itu, sempat juga beredar kabar ular itu sudah mati dijepit dengan baket ekskavator, namun sangking besarnya ular itu, operator pun lari tunggang langgang.

Masyarakat kembali berkumpul. Karena ular itu sudah mati diundanglah bupati dan wakil bupati untuk mensahkan bahwa ular itu benar sudah mati.

Bupati dan wakil bupati serta beberapa kepala dinas terkait datang ke lokasi. Bupati tepat berada di depan kepala ular tersebut. Sedangkan wakil bupati berada di samping kepalanya.

“Haaaaa....” teriak wakil bupati sambil membuka mulut ular itu dengan maksud menakut-nakuti bupati.

Bupati loncat ketakutan. Mengira ular itu hidup kembali. Jantungnya seperti copot. Keringatnya bercucuran dan menangis melihat tingkah laku wakilnya.

“Kalau kamu ingin menjadi bupati, bukan begini caranya” kata bupati dengan terbata-bata dan meninggalkan lokasi itu dengan penuh kecewa.

Hampir saja bupati melaporkan wakil bupati kepada polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan, tetapi atas inisiasi dewan adat dan para tokoh, akhirnya bupati tidak jadi mempolisikan wakil bupati.

Penulis adalah mantan Panglima GAM Wilayah Linge

Komentar

Loading...