Unduh Aplikasi

Kala Penceramah Berdarah-darah

Kala Penceramah Berdarah-darah
Ilustrasi: Moved by Purpose

KASUS penusukan seorang pendakwah di Aceh Tenggara adalah pekerjaan rumah baru bagi Kepolisian Resor Aceh Tenggara. Pelakunya adalah bekas anggota Shabara, sebuah unit di kepolisian, yang dipecat karena tidak disiplin. 

Sejumlah saksi yang mengenali pelaku mengatakan pelaku gemar bermabuk-mabukan. Namun penyidik tidak menemukan tanda-tanda kegilaan pada pelaku. Ini menjadi tugas kepolisian untuk mengungkapkan motif lain di balik peristiwa penusukan itu, termasuk mengungkap kemungkinan kejahatan itu didalangi atau disponsori atau pihak lain. 

Penyerangan terhadap penceramah atau orang-orang alim, termasuk para kiai, menjadi sejarah yang berulang di Indonesia. Di Aceh, ini adalah kasus pertama. Kasus-kasus kekerasan di Aceh lebih banyak dilakukan oleh sekelompok orang terhadap orang lain atas nama perbedaan pandangan jalan beragama. 

Di masa Presiden Suharto, misalnya, banyak ulama diserang oleh orang yang belakangan dicap memiliki sakit jiwa. Hal ini dilakukan oleh untuk mengekalkan pemerintahan Suharto. Kasus-kasus ini mendorong masyarakat untuk berpikir bahwa saat itu hanya militer yang layak memimpin karena hanya mereka bisa mengendalikan situasi kekejian seperti itu di masyarakat. 

Namun di era sipil saat ini, tindakan itu tidak mungkin didalangi oleh orang berkuasa. Bahkan tindakan itu dapat merontokkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengendalikan aksi kriminal. 

Beberapa waktu lalu, penyerangan terhadap seorang alim, Syekh Ali Jaber, terjadi di Lampung. Meski awalnya pelaku diarahkan sebagai orang yang sakit jiwa, namun kepolisian berhasil bersikap tegas dan menjerat pelaku atas pasal-pasal upaya pembunuhan. 

Tentu saja kepolisian harus bekerja lebih keras lagi. Termasuk agar tidak mudah menerima hal-hal yang disodorkan oleh tersangka sebagai pengalihan untuk melindungi dalang di balik kejahatan itu. Karena penyerangan terhadap penceramah adalah upaya mendiskreditkan kepolisian dan pemerintah saat ini. 

Tanpa membongkar motif pelaku penikaman terhadap para penceramah, polisi dan pemerintah akan dicap tidak mampu mengendalikan keamanan agar tetap kondusif. Lantas kalau urusan keamanan saja semakin tidak terkendali, masyarakat tak tahu lagi harus menggantungkan harapan apa kepada pemerintah selaku pemangku amanah kedaulatan negara. 

Komentar

Loading...