Unduh Aplikasi

Kala Mazhab Dikultuskan

Kala Mazhab Dikultuskan
Ilustrasi: positive news.

INTERVENSI pemerintah ke dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat semakin terasa. Bahkan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, membatasi kajian Islam hanya untuk ahlussunnah wal jamaah dan mazhab syafi’yah.

Keputusan ini bukan hanya memicu konflik baru di masyarakat. Hal ini akan semakin menumbuhkan budaya superioritas satu kalangan di atas kalangan lain di Aceh, terutama mereka memiliki mazhab berbeda. Apalagi, terminologi keduanya belum mutlak.

Di saat yang sama, Pemerintah Aceh dan pemerintah daerah juga masih grogi untuk bersikap. Terutama dalam melindungi hak-hak menjalankan keyakinan warga negara. Tentu kita masih ingat, beberapa waktu lalu, massa yang marah melabrak sebuah masjid hanya karena di dalamnya digelar pengajian dari orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda. Alih-alih menindak para penyerang, kasus ini malah dibiarkan saja berlalu tanpa kepastian hukum atau islah. 

Harusnya Nova memperhatikan sebuah ayat Alquran dalam surat An-Nahl sebelum memutuskan untuk menerbitkan aturan itu: ”Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu adalah agama yang mengharuskan umatnya berpikir. Namun sayang, sering kali terselip ihwal kesombongan. Hal ini pula yang mendorong munculkan sikap satu aliran mengharamkan sesuatu sementara yang lain menghalalkan. Padahal masing-masing “kubu” berada pada posisi “mudah-mudahan”. Yang tahu kepastiannya hanya Allah SWT.

Pemerintah Aceh gagal memahami saat memutuskan untuk mengakomodir satu mazhab dari empat mazhab imam besar. Padahal, mazhab-mazhab ini bukan sesuatu pasti. Melarang satu mazhab dan membolehkan mazhab lain dalam Islam sama dengan memutlakkan sesuatu yang relatif.

Pemerintah Aceh harusnya berdiri di atas semua golongan. Dan Nova Iriansyah, sebagai umara berdiri dan menyerukan masyarakat untuk saling mendoakan bukan malah menzahirkan garis yang seharusnya ditiadakan: garis perbedaan yang membawa kepada kesombongan. Harusnya sebagai seorang pemimpin, dia berdoa, “Ya Allah, semoga pendapatku ini benar adanya. Dan pendapat yang lain tidak salah. Karena kami memang tak punya pengetahuan, kecuali sedikit yang Kau berikan.”

Komentar

Loading...