Kadis ESDM: Izin Produksi Pabrik Semen di Tamiang Tergantung Amdal

Kadis ESDM: Izin Produksi Pabrik Semen di Tamiang Tergantung Amdal
Aliran Sungai Kaloy yang terancam oleh pendirian pabrik semen. Foto: pertasa wacana (caves.or.id)

BANDA ACEH - Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, Akmal Husen mengatakan izin produksi terkait pembangunan PT Tripa Semen Aceh yang rencananya akan dibangun di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, tergantung pada Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

"Saya sudah berkoordinasi dengan Gubernur Aceh, dan pak gubernur bilang asal tidak masuk dalam hutan lindung tidak masalah, dan semuanya tergantung dengan Amdal, kalau Amdal tidak memungkinkan, pak gubernur tidak akan mengeluarkan izin," kata Akmal Husen kepada AJNN, Jumat (29/12).

Ia mengungkapkan perusahaan hingaa kini baru memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tamiang.

"Perusahaan baru akan mengajukan IUP produksi ke Pemerintah Aceh," ujarnya.

Sebelumnya, tim peneliti dari Indonesia Speologi Society atau ISS dan KEMPRa, didampingi masyarakat lokal, turun ke lokasi untuk melihat kondisi kawasan karst di Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, lokasi akan dibangunnya pabrik semen itu.

“Sekaligus juga untuk membuktikan formasi batu gamping kaloy memiliki kriteria sebagai kawasan bentang alam karst sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2012,” ujar M. Oki Kurniawan dari KEMPRa, beberapa waktu lalu. Kuala Parek, kata dia, letaknya di dalam kawasan karst tersebut.

Baca: Karst Kaloy Terancam Pabrik Semen

Di lokasi, tim menemukan sumber mata air yang keluar dari celah batuan, telaga, gua, ponour atau lubang resapan air dan beberapa satwa unik. “Bahkan ada air terjun yang airnya setelah jatuh tidak nampak karena langsung hilang masuk ke dalam celah bebatuan,” ujar Oki.

Formasi batu gamping kaloy yang diteliti tim tersebar di perbukitan Alur Gajah dan Karang Putih. Lokasinya hanya hitungan jam dari pemukiman penduduk di Dusun kaloy, Kampung kaloy. Kedua bukit ini masuk ke dalam Kawasan Ekosistem Leuser atau KEL; salah satu wilayah konservasi terpenting di bumi. Secara geografi, sekitar 88 ribu hektare wilayah Tamiang masuk ke dalam KEL. Letaknya memanjang di Bukit Barisan yang membentang dari barat daya hingga barat laut.

Sebagai penanda kawasan karst, kata Oki, di formasi Batu Gamping kaloy ditemukan sebuah bukit kerucut. Warga lokal menyebutnya Bukit Sarang Burung karena dihuni burung walet. Bukit yang mengerucut ini, kata dia, akibat proses karstifikasi. “Bukit ini menjadi penyangga sistem sungai bawah tanah yang mengalir dalam Gua Sarang Burung,” ujarnya.

Menurut Petrasa Wacana dari ISS, di kawasan karst Batu Gamping kaloy memang banyak gua yang memiliki jaringan sungai bawah tanah. Contohnya, kata Petrasa, salah satu dari dua mulut Gua Sarang Burung menjadi tempat keluarnya aliran sungai bawah tanah.

“Gua Sarang Burung merupakan gua aktif yang dibentuk oleh penjajaran rekahan. Ini dapat ditunjukkan dengan bentuk lorong yang membentuk rekahan memanjang dan saling tegak lurus arah lorong,” ujarnya.

Sementara, di sisi barat Karang Putih tim melihat adanya depresi cekungan atau dolina berbentuk lembah memanjang. Di tempat ini, tim menemukan beberapa aliran air yang muncul ke permukaan. Di barat laut Karang Putih, ditemukan sebuah gua berdiameter 10 meter. Gua ini, kata Oki, adalah ponour tempat masuknya air ke bawah permukaan saat hujan.

Adapun di timur perbukitan tersebut tim melihat empat sumber mata air keluar dari celah bebatuan. Di arah mata angin yang sama, juga ditemukan dua telaga karst pada ketinggian 388 dan 166 meter dari permukaan laut.

Selain Gua Sarang Burung, kata Oki, di perbukitan Alur Gajah juga ditemukan tiga gua yang kemudian diberi nama Sarang Kambing. “Disebut Gua Sarang Kambing karena bagian dalam masing-masing gua ditemukan banyaknya jejak-jejak kaki dan sarang kambing Hutan,” ujarnya. Gua ini berbentuk horizontal dan tidak memiliki sungai bawah tanah.

Potensi kawasan batu gamping kaloy yang harusnya dilindungi kini terancam oleh rencana pendirian pabrik semen di kawasan tersebut. Bupati Aceh Tamiang Hamdan Sati mengeluarkan keputusan nomor 541 tahun 2016 tentang izin lingkungan rencana kegiatan industri semen untuk PT Tripa Semen Aceh. Jika jadi berproduksi, pabrik itu nantinya disebut mampu menghasilkan 10 ribu ton per hari klinker, bahan utama pembuatan semen. Luas area pabrik dan penambangan mencapai 2.549,2 hektare.

Baca: Karst Kaloy dan Selembar Izin yang Merusak Kehidupan

Pembangunan pabrik semen tersebut juga salah satu program yang diusung Hamdan bersama calon wakilnya Izwardi dalam Pilkada Tamiang. Awal Desember, saat mengukuhkan tim pemenangannya, Hamdan berujar pembangunan pabrik semen itu tak boleh berhenti.

“Walaupun LSM tersebut menghendaki pabrik tersebut harus ditutup,” ujarnya seperti dikutip media online tersebut. LSM yang dimaksud Hamdan adalah Walhi. Walhi menggugat pembangunan pabrik semen tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara di Banda Aceh.

Hamdan menyayangkan ada penolakan seperti itu. Menurutnya, bila pabrik dibangun akan menyerap sekitar dua ribu tenaga kerja lokal.

“Jadi inilah salah satu keinginan saya maju kembali menjadi Bupati Aceh Tamiang periode kedua, karena saya melanjutkan program pembangunan pabrik semen tersebut,” ujar Hamdan.

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini

Umum
USK Jalin Kerja Sama dengan KPK

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala menjalin kesepakatan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya...