Unduh Aplikasi

Kadis Cipta Karya Aceh Sebut Masalah Pembangunan Rumah Dhuafa Hanya Soal Teknis

Kadis Cipta Karya Aceh Sebut Masalah Pembangunan Rumah Dhuafa Hanya Soal Teknis
Doto zaini
SIMEULUE- Terkait pembangunan rumah dhuafa di Simeulue yang disebut-sebut tak layak huni, Kepala Dinas Cipta Karya Aceh Rizal Aswandi mengatakan hal itu hanya persoalan tekhnis.

"Itu hanya persoalan tekhnis saja," katanya Saat berkunjung ke Simeulue bersama Gubernur Aceh bersama sejumlah kepala SKPA lainnya.

Kadis Cipta Karya Provinsi Aceh menyebutkan persoalan tekhnis di lapangan seperti penggunaan material yang tidak sesuai dengan gambar merupakan kelemahan dari pengawasan.

"Yang penting desain bangunannya sesuai dan tidak bermasalah. Soal tekhnis, hanya perlu peningkatan pengawasan saja nanti," sebutnya.

Sebelumnya diberitakan pembangunan rumah duafa di Simeulue diduga dikerjakan asal jadi. Satu unit rumah yang sudah selesai pengerjaan atap bangunan, terbang diterjang angin sehari sebelum hari raya Idul Adha kemarin. Pemilik rumah mengaku kecewa, bangunan yang akan ditempatinya dikerjakan asal jadi. Pasalnya, tidak ada pengikat antara body dengan atap rumah seperti yang tertera di dalam gambar.

Persoalan terbangnya atap rumah duafa tidak hanya terjadi di tahun ini. Pekerjaan rumah duafa 2014 mengalami hal yang sama. Atap rumah di Alafan terbang puluhan meter saat diterjang angin. Kondisi tersebut menjadi temuan Pansus DPRK priode sebelumnya.

Bahkan, temuan tadi tak tanggung-tanggung, rangka baja atap yang dipakai ternyata sudah karatan dan bekas pakai.

Bangunan rumah duafa di Kecamatan Teupah Tengah, ventilasi jendelanya berbahan kayu bekas papan mal yang tidak diketam.

Gonjang ganjing bangunan rumah duafa jadi lahan salah satu proyek yang menguntungkan sudah jadi rahasia umum. Mencuatnya bangunan asal jadi rumah duafa ditanggapi Kuasa Direktur PT Pondok Indah Sejahtera Abu Bakar sebagai isu sakit hati yang sengaja dihembuskan oleh anggota DPRK Simeulue Aryaudin karena tidak berhasil menjadi fasilitator membagi pekerjaan tersebut untuk dapat dikerjakan dua perusahaan.

Sebaliknya, Aryaudin membantah tuduhan rekanan tadi. Wakil rakyat ini mengaku disodorkan uang suap senilai Rp 1 juta oleh PPTK yang berasal dari kontraktor. Namun, dirinya menolak uang titipan tersebut.

Informasi yang diperoleh media ini, proyek 102 unit rumah duafa itu sebelumnya dibagi dua untuk dapat dikerjakan dua perusahaan yakni PT Pondok Indah Sejahtera dengan PT Traya Anggun Permai. Kabarnya, pembagian proyek itu telah direstui bupati setempat, belakangan pembagian proyek gagal dan tidak diketahui penyebabnya.

SEPTIAN

Komentar

Loading...