Unduh Aplikasi

KADIN Antah Berantah

KADIN Antah Berantah
Ilustrasi: Fotolia

KAMAR Dagang Aceh di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf, bekas Wakil Gubernur Aceh, menandatangani kesepakatan dagang dengan AgForce Quensland, Australia. Keduanya sepakat untuk melakukan investasi dan saling berjual beli produk-produk hasil pertanian, peternakan, produk-produk pengolahan daging dan susu, produk perikanan, serta kerja sama ekonomi dan penguatan kapasitas kemitraan.

Dengan perkiraan transaksi sebesar USD 20 juta atau sekitar Rp 280 miliar, ini tentu bukan kerja sama cilet-cilet. Apalagi penandatanganan kesepakatan kerja sama itu difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan Indonesia. Dari Aceh diwakili oleh Dr Phil Suraiya IT, MA. Sedangkan dari Negeri Kangguru diwakili oleh Mr Welly Salim, International Trade Officer kamar dagang negeri itu.

Urusan investasi, KADIN pimpinan Mualem--nama alias Muzakir Manaf--ini getol menghadirkan investasi. Mereka mendorong produk Aceh yang berkualitas untuk dijual di negara-negara maju. Selain Australia, Amerika dan India menjadi salah satu tujuan ekspor produk Aceh.

KADIN Aceh versi Mualem, baru-baru ini, mengirimkan tim dagang ke India untuk menjajaki tindak lanjut nota kesepahaman yang diteken bersama Andaman Chamber of Commerce and Industry (ACCI), Port Blair dan United Economic Forum (UEF) Chamber of Commer Chennai, India.

Menurut Mualem, pasar India akan sangat bermanfaat bagi penjualan produk-produk asal Aceh. Selain jumlah penduduk yang mencapai 1,2 miliar orang, Aceh dan India juga memiliki selera yang tak jauh berbeda.

Tentu saja langkah KADIN Aceh versi Mualem ini harus ditiru oleh KADIN Aceh di bawah pimpinan Makmur Budiman. Dengan latar belakang sebagai pengusaha moncer, Makmur harusnya dapat melakukan hal konkrit untuk mengembangkan dunia usaha, terutama usaha mikro kecil dan menengah, di Aceh, seperti digaungkan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Karena pada hakekatnya--dan semua organisasi, lembaga, tingkatan pemerintahan harusnya memahami--masyarakat Aceh tak terlalu peduli dengan urusan-urusan sekat. Mereka tak peduli apakah KADIN memiliki dua “kamar” berbeda. Tak peduli ada organisasi kepemudaan atau partai politik dengan dua kepemimpinan. Bahkan mereka tak peduli apakah itu organisasi antah berantah.

Rakyat Aceh memerlukan sekumpulan, atau banyak kumpulan, orang-orang peduli dan mampu membuktikan kata-kata dalam perbuatan. Karena kalau cuma cakap-cakap, di warung-warung kopi di seluruh penjuru Aceh, orang-orang seperti ini cukup mudah dijumpai. Dan jenis  terakhir ini jumlahnya cukup banyak.

Komentar

Loading...