Unduh Aplikasi

Juru Damai GAM-RI, Farid Husain Meninggal Dunia

Juru Damai GAM-RI, Farid Husain Meninggal Dunia
Mantan Juru Damai GAM-RI, dr Farid Husain. Sp.B (K) . Foto: IST.

MAKASSAR - Innailaihi wa Innailaihi Raji'un. Salah seorang juru damai pada proses perdamaian Indonesia-GAM, Dr Farid Husain, Sp.B (K) meninggal dunia. Almarhum meninggal di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudiro Husodo Makassar.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun... turut berdukacita atas berpulangnya orangtua/guru,  Mentor kami dr Farid Husain. Sp.B (K) Semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah Subhana wata'ala, diampuni segala dosanya dan diberi tempat yang mulia disisiNya, Aamiin ya Rabbal alamiin," tulis salah seorang sahabat Almarhum yang dikutip AJNN.

Menurut informasi yang diperoleh AJNN, Farid Husain meninggal pukul 20.18 WITA di Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo, Makassar. Namun sampai saat ini belum diketahui penyebab meninggalnya dokter Farid.

"Mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat beliau semasa hidupnya. Dan jika masih ada sangkutan beliau mohon menghubungi keluarga untuk diselesaikan segera," kata kata anak almarhum, Langgo Farid, dalam keterangan yang diterima, Selasa (23/3/2021).

"Terima kasih atas segala perhatian dan bantuan kepada beliau saat sehat dan sakit. Semoga bantuannya bernilai pahala di sisi-Nya," imbuhnya.

Sosok Farid Husain dikenal sebagai salah seorang  anggota delegasi pemerintah Indonesia dalam perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia pada tahun 2005. Perundingan yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari ini berhasil mewujudkan Kesepakatan Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.

Dengan kesepakatan ini, Konflik Aceh yang telah berlangsung 30 tahun diakhiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia gerakan separatis diselesaikan dengan solusi politik yang komprehensif.

Peran utama tokoh yang lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan pada 9 Maret 1950 adalah melaksanakan inisiatif Wakil Presiden Jusuf Kalla  di belakang layar (second track diplomacy) sebelum dan dalam proses perundingan.Sejak tahun 2003, ia menjalin komunikasi untuk membangun kepercayaan ke dalam lingkungan pimpinan GAM di dalam dan di luar negeri.Bersama Juha Christensen, ia melakukan kontak awal dengan tokoh GAM di luar negeri, termasuk ke Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Dalam melaksanakan misi ini, mereka sering menerobos batas-batas protokoler.

Pejabat RI pertama yang Berjabat tangan dengan Hasan Tiro

Mengutip dari Wikipedia Indonesia, Farid Husain merupakan pejabat pemerintah Indonesia pertama yang bertemu dan berjabat tangan dengan Hasan Tiro sejak tokoh sentral GAM itu mendeklarasikan kemerdekaan Aceh-Sumatera pada tahn 1976 dan mengasingkan diri ke Swedia pada 1979.

Pertemuan Farid Husain dan Hasan di Tiro terjadi pada bulan Desember 2005, empat bulan setelah Kesepakatan Helsinki ditandatangani. Pertemuan berlangsung sore menjelang malam di apartemen Hasan Tiro di Stockholm.

Dalam kunjungannya selama dua jam, Farid Husain menyampaikan undangan kepada Hasan di Tiro untuk menghadiri pertemuan segitiga antara Wakil Presiden RI, Martti Ahtisaari dan GAM. Hasan di Tiro tidak dapat memenuhi undangan tersebut.

Selama beberapa dekade Hasan di Tiro menjadi pemimpin utama GAM dan mengendalikan gerakan separatis itu dari luar negeri. Walaupun keputusan organisasi ini diambil secara kolektif, peran Hasan Tiro sebagai Wali Naggroe Aceh sangat menentukan. Dalam berbagai perundingan, GAM memandang tinggi restu dari Hasan di Tiro.

Selama perundingan antara pemerintah RI dengan GAM di Helsinki dari Januari hingga Agustus 2005, Hasan di Tiro berada di balik layar. Dia menghindar dari pertemuan dengan pihak Indonesia.Ia mendelegasikan wewenangnya kepada para perunding GAM, terutama kepada Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. 

Kesediaan Hasan di Tiro menemui pejabat Indonesia merupakan sinyal perubahan sikap GAM ke arah yang lebih kooperatif dalam mengupayakan dan menjaga perdamaian pasca Kesepakatan Helsinki.

Pada 11 Oktober 2008, Hasan di Tiro kembali ke Aceh setelah 30 tahun di pengasingan. Farid Husain turut menjemputnya dari Kuala Lumpur, tempat Hasan di Tiro transit sebelum bertolak ke Banda Aceh. Dalam penerbangan ke Banda Aceh, Hasan di Tiro duduk di kursi penumpang bernomor 1A.

Hasan di Tiro meninggal dunia pada tanggal 3 Juni 2010 di Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh.Farid Husain berada bersama dengan kerabat Hasan di Tiro di rumah sakit pada saat-saat terakhir hidupnya.

Dalam tugas menjalin kontak dengan tokoh-tokoh utama GAM, Farid Husain mengawali pendekatannya kepada orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh besar atas tokoh utama.

Dengan pendekatan ini diharapkan jalan untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh kunci lebih terbuka. Di antaranya, Farid Husain menemui Abu Abdullah pada bulan Agustus 2003 di kediamannya di Ciputat. Abu Abdullah adalah kakak Hasan Tiro, dan ayahanda dari Zaini Abdullah dan Hasbi Abdullah. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh tokoh Aceh, Mahyudin.

Farid Husain juga menemui Sayid Mustafa, yang kala itu dikenal sebagai Panglima GAM untuk Aceh Timur, di Bandara Schipol, Amsterdam. Bersama Sayid Mustafa, ada Fadlun, perwakilan GAM di Belanda yang baru tiba dari Vanuatu. Selanjutnya, Farid Husain mempertemukan mereka dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pada bulan Desember 2004, Farid Husain bersama Mahyudin menemui Tengku Idi, tujuh hari sesudah bencana Tsunami melanda Aceh. Tengku Idi adalah sesepuh di kalangan anggota GAM. Ia dipandang sebagai penasihat spiritual yang ramalannya kerap menjadi kenyataan. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari cara Farid Husain membangun kepercayaan antara pihak GAM dan pemerintah Indonesia.

Pada tahun 2005, di antara jeda putaran perundingan dengan GAM, Farid Husain bertemu dengan Irwandi Yusuf di Singapura. Irwandi Yusuf ketika itu merupakan koordinator think tank GAM. Ia merupakan salah seorang tokoh faksi angkatan muda GAM dan di pertengahan perundingan ikut bergabung dengan delegasi GAM di Helsinki.

Masih di Singapura, Farid Husain juga mencari dan akhirnya dengan bantuan Irwandi Yusuf menemukan Tengku Amir. Tengku Amir adalah kakak Malik Mahmud. Di Singapura Tengku Amir yang hidup membujang mengasuh salah serang putra Malik Mahmud.

Pada bulan Juni 2005, menjelang perundingan dengan pihak HAM berakhir, Farid Husain mendapat perintah untuk menemui panglima GAM, Sofyan Dawood di markas GAM di rimba Aceh. Farid Husain diutus untuk menyampaikan perkembangan di meja perundingan dan memastikan kesediaan anggota GAM yang berada di hutan menerima hasil perundingan bila sudah disepakati.

Dalam upaya menjalin kontak dengan sebanyak mungkin tokoh GAM, Farid Husain beberapa kali menemukan kesulitan. Di antaranya karena keengganan tokoh untuk bertemu atau karena keliru dalam menilai ketokohannya.

Riwayat hidup dan karier

Farid Husain lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan pada 9 Maret 1950. Ayahnya, Haji Muhammad Husain, adalah guru, pernah menjadi kepala sekolah SMP Negeri Pinrang, Sulawesi Selatan dan mendapat predikat Guru Teladan dari pemerintah Indonesia pada tahun 1974.

Ibunya bernama Hajjah Sitti Saidah. Setelah menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Pinrang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Frater di Makassar dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 di Makassar, ia melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Farid Husain menyelesaikan pendidikan kedokteran pada tahun 1978 dan meraih gelar spesialis bedah (Dr.Sp.B/Sp. I) pada 1981 dari almamater yang sama. 

Pada tahun 1984 Farid Husain menyelesaikan pendidikan spesialis bedah digestif (Dr Sp.BD/Sp.II/Konsultan) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Farid Husain pada awalnya berkarier di dunia pendidikan. Pada tahun 1979, ia mulai bekerja sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Sebagai akademisi, ia pernah menjabat wakil dekan Fakultas Kedokteran (1991-1995). 

Pada periode 1995-2001 Farid Husain menjabat sebagai direktur utama Rumah Sakit Islam Faishal, Makassar (1995-2002). Pada periode yang sama ia juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia wilayah Sulawesi Selatan. Pada periode 1996-2001 Farid Husain menjabat Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia wilayah Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2001, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla meminta Farid Husain membantunya sebagai Staf Ahli Menko Kesra Bidang Peran Serta Masyarakat (2001-2002) dan kemudian menjadi Deputi II Menko Kesra Bidang Kesehatan, Lingkungan Hidup dan Sosial (2002-2005). 

Dalam kapasitas ini, Farid Husain turut terlibat dalam mengupayakan perdamaian di Poso dan Ambon. Sejak tahun 2005 hingga tahun 2010, ia menjabat Direktur Jenderal Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan.

Beberapa penugasan Farid Husain lainnya adalah Ketua Dewan Pengawas RSCM (2006-2011), Utusan Utusan Khusus Wakil Presiden RI dengan  Pemerintah Thailand untuk proses Perdamaian di Thailand Selatan (2007-2008), Komisaris Utama PT ASKES (2008-2013) dan Utusan Khusus Presiden RI Untuk Damai Papua (2011 – 2014).

Selanjutnya Dewan Pengawas RSUP Persahabatan (2011- 2016), Ketua Dewan Pengawas RS PMI Bogor (2011-sekarang), Ketua Dewan Penasehat Medis (DPM) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan (2014-2016), Ketua Pengurus Pusat PMI (2014-sekarang), Komisaris Utama PT Kimia Farma (2015 - 2018) dan Dewan Pengawas RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar (2016-2021) serta Komisaris Utama PT Bio Farma (Persero) (2018-Sekarang).

Kepergian Sang juru damai meninggalkan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh. Selamat jalan Dr Farid Husain...

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...