Unduh Aplikasi

Jumlah Rumah Dhuafa Dikurangi, Elit Aceh Dinilai Tidak Pro Rakyat Miskin

Jumlah Rumah Dhuafa Dikurangi, Elit Aceh Dinilai Tidak Pro Rakyat Miskin
RKA Dinas Perkim Aceh. Foto: Dok AJNN

BANDA ACEH - Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Taufik menilai, pengurangan jumlah rumah dhuafa dari 4.430 unit menjadi 780 unit merupakan upaya mendapatkan untung besar.

"Ada usaha untuk mendapatkan untung besar dari proyek rumah dhuafa, maka dilakukan pengurangan dan dialihkan ke anggaran lainnya," kata Taufik kepada AJNN, Rabu (13/1/2021).

Ia mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2021 sebesar Rp 16,9 triliun.

Taufik menduga, pembatalan pokok pikiran (pokir/aspirasi dewan) berdasarkan hasil evaluasi Mendagri menjadi salah satu faktor pengurangan jumlah rumah dhuafa tersebut.

Baca: Keputusan Akhir Rapat TAPA dan Banggar, Rumah Dhuafa Disepakati Hanya 780 Unit

"Hasil rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRA dengan Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), menunjukkan bahwa elite Aceh sama sekali tidak pro-rakyat miskin," ungkapnya.

Ia merincikan, jika satu rumah dhuafa itu seharga Rp 92 juta per unit, maka rata-rata sekitar Rp 92 juta untuk 780 unit rumah, maka totalnya sekitar Rp 71 miliar lebih. 

"Artinya 4.430 unit rumah dikalikan sekitar Rp 92 juta, maka totalnya sekitar Rp 407 miliar, sehingga ada selisih sekitar Rp 328 miliar.

"Sehingga hitungan nominal kuantitatif uang sebanyak itu akan dialihkan untuk pokok pikiran DPRA atau mau dibawa kemana," tambah Taufik.

Komentar

Loading...