Unduh Aplikasi

Jufri: Akmal Maunya Apa?

Jufri: Akmal Maunya Apa?
Jufri Hasanuddin dan Akmal Ibrahim. Dok AJNN

BANDA ACEH - Mantan Bupati Aceh Barat Daya Jufri Hasanuddin berang dengan sikap Bupati Akmal Ibrahim. Pasalnya sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Abdya, Akmal dinilai terus-menerus seperti menyerangnya, baik melalui media sosial maupun media massa.

"Akmal maunya apa?," kata Jufri Hasanuddin kepada AJNN, Selasa (24/10).

Jufri mengaku selama ini sengaja diam karena tidak ingin adanya kekisruhan di Abdya. Apalagi ia mengatakan sangat mendukung Pemerintah Abdya yang baru.

"Saya sangat sayang dengan Abdya. Awalnya saya tidak mau berkomentar ketika diserang, tapi karena sudah terlalu disudutkan, saya sudah mulai terganggung dengan sikap Akmal," ujar Jufri.

Baca: APBK-P Abdya Minim, Dana Segar Tinggal Rp 13 Miliar

Dari awal pertama menjabat bupati, kata Jufri, Akmal sudah menyinggung masalah Abu Nawas Award, kemudian masalah anggaran PKK, utang Rp 27 miliar, dan terakhir proyek Pasar Modern Abdya.

"Akmal ngerti anggaran tidak, mengerti tentang tata kelola pemerintahan tidak, yang dimaksud utang Rp 27 miliar itu utang yang mana," ujarnya.

Ia menilai Akmal Ibrahim tidak mengerti masalah anggaran ketika menyatakan Rp 27 miliar itu hutang.

"Rp 27 miliar dana DAK, yang tahun 2016 yang belum dikirim pemerintah pusat. Sebenarnya prestasi besar pemerintah saya dulu berupaya mengembalikan uang itu Rp 27 miliar itu, kemudian pusat mengirim kembali pada tahun 2017," jelasnya.

Apabila masyarakat tidak paham, seakan-akan Pemerintah Jufri Hasanuddin meninggalkan warisan hutang.

Baca: Anggaran PKK Abdya 2017, SPPD Satu Orang Rp 10 Juta

"Yang perlu diketahui itu dana DAK, yang peruntukannya juga untuk program-program yang sudah dijalankan. Kalau Akmal mau belajar persoalan-persoalan ini, saya tidak keberatan kok, memberikan kuliah singkat tentang anggaran kalau dia (Akmal) tidak paham, atau ingin memancing agar suasana di Abdya itu keruh," tegasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada Akmal Ibrahim untuk tidak selalu membalikkan fakta. Kalau memang ada persoalan-persoalan dengan janji-janjinya, jangan menyudutkan Pemerintahan Abdya yang lalu.

"Orang mengerti anggaran akan ketawa, kalau Akmal menyebutkan itu hutang. Hampir seluruh kab/kota pada masa itu terjadi hal yang sama, karena dana perubahan APBN 2016 tidak selesai dibayar oleh Pemerintah Pusat. Bukan Abdya saja, yang lebih besar Aceh Selatan, kalau tidak salah hampir Rp 40 miliar. Kenapa ini menjadi pentas dan komoditinya si Akmal. Apa tidak ada cara-cara lain," katanya.

Komentar

Loading...