Unduh Aplikasi

Joe Biden, Pandemi Global dan Tantangan Amerika Serikat

Joe Biden, Pandemi Global dan Tantangan Amerika Serikat
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Ketika Joe Biden bersumpah untuk menjadi Presiden AS yang ke 46  satu hari yang lalu, korban Covid-19 di AS telah mencapai lebih dari 400.000 orang dan jumlah kematian global telah mencapai lebih dari 2.000.000 jiwa. Saat ini jumlah manusia yang tertular di seluruh dunia sudah hampir mencapai 100 juta jiwa dan tersebar di semua benua. Sementara itu pada tataran global baru 40 juta vaksinasi telah dilakuan.
 
Apa relevansi  mengaitkan nama Biden sebagai presiden baru AS dengan dinamika pandemi yang telah membuat manusia dan semua negara di dunia kelimpungan selama tahun 2020 kemaren? Kompleksitas pandemi yang mengerogoti sektor ekonomi, sosial, dan korban manusia belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan pengendaliannya, kecuali di sejumlah kecil negara Asia Timur dan Asia lainnya seperti Cina, Taiwan, Korea Selatan, Vietnam, dan Singapore. Ini artinya dibutuhkan koalisi  dan kepemimpinan global. Seperti biasa, AS dituntut untuk lebih berperan tidak hanya untuk mengatasi karut marut penanganan pandemi domestik, tetapi juga untuk mengisi peran tradisionalnya sebagai adi daya dunia sebelum presiden Trump berkuasa.
 
Setiap tantangan global apapun yang serius seperti Covid-19, peran AS dalam sejarah pasca Perang Dunia II selalu menjadi sangat penting dan telah terbukti relatif berarti. Saat ini peran itu  adalah tantangan Biden yang paling serius, disamping mengurus persoalan pandemi domestik AS.
 
Bagi AS sendiri, kegagalan Trump mengendalikan pandemi adalah aib internasional dihadapkan dengan keberhasilan rival strategisnya, Cina yang jumlah korban Covid-19 kurang dari 5.000 jiwa. Ditengah jumlah korban dunia yang mecapai 2 juta jiwa, hampir 20 persen terjadi di AS, padahal jumlah penduduk AS hanya 4 persen dari total jumlah penduduk global. Sementara itu menurut prediksi terakhir badan pengendali penyakit menular AS, Center for Desease Control and Prevention (CDC), jumlah korban kematian Covid-19 AS bepeluang mencapai angka 500.000 jiwa pada bulan Februari 2021.
 
Tantangan itu kini mulai dijawab oleh Biden dengan sejumlah Instruksi Presiden segera setelah beberapa jam ia dilantik. Butir-butir dari instruksi itu mencerminkan keteguhan dan keseriusan pemerintah baru AS untuk sekaligus méngurus AS dan juga membantu masyarakat internasional. Jika pada era Trump, masker adalah sesuatu yang langka dengan urusan pemerintah federal, dan bahkan dijadikan bahan olok-olok oleh Trump, bagi Biden yang sangat percaya dengan ilmu pengetahuan, masker adalah sesuatu yang sangat serius. Ia sendiri yang terus menggunakan masker pada saat kampanya, kini terus menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari dimanapun ia berada.
 
Secara konstitusi, negara Paman Sam itu tidak memberi izin kepada pemerintah federal untuk menetapkan kewajiban kepada negara bagian, semisal kewajiban memakai masker untuk warga. Biden dalam instruksinya mewajibkan pamakaian masker kepada pekerja federal, kontraktor yang berurusan dengan pemerintah federal, dan seluruh pihak yang memasuksi atau melintasi bangunan atau properti federal di mana-mana di seluruh AS. Kebijakan seperti ini praktis akan membuat mayoritas warga AS terpaksa menggunakan masker ketika keluar rumah.
 
Dalam hal vaksin pemerintah baru AS akan melakukan 100 juta vaksinasi dalam 100 hari pertama presiden baru bertugas. Ini adalah angka yang sangat  signifikan, mengingat selama presiden Trump dari 31 juta vaksin yang telah di distribusikan, hanya 12 juta penduduk yang baru mendapat vaksinasi. Kelambatan itu lebih banyak terjadi akibat kelemahan sistem dan pelayanan kesehatan negara bagian yang tidak disadari atau tak dipedulikan oleh Trump. Mengatasi hal itu, presiden baru ini akan mengerahkan pasukan pengawal keamanan nasional dan menyediakan dana sebesar 20 milyar dollar dan pembuatan klinik komunitas untuk vaksinasi yang sepenuhnya akan dijalani oleh lembaga penanganan kondisi darurat federal, FEMA. Tidak hanya itu, akan dibuat juga klinik vaksin yang bergerak, mobile clinic, untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit didatangi dan dilayani.
 
Dalam konteks kepemimpinan global, pemerintah baru AS ini akan membatalkan keputusan presiden Trump yang membuat AS keluar dari Lembaga Kesehatan Internasional WHO, dan bahkan menuduh WHO sebagai antek-antek Cina. Biden kembali akan membuat AS menjadi bagian penting dari WHO, dan bahkan akan berperan lebih besar lagi seperti apa yang terjadi terhadap peningkatan kewaspadaan terhadah sejumlah kejadian epidemi masa lalu sebangsa SARS dan Ebola. Biden sendiri bersama sama dengan Obama pernah berpengalaman memimpin kerjasama internasional bersama-sama dengan WHO dalam memerangi sejumlah epidemi yang terjadi selama masa jabatannya sebagai Wapres selama delapan tahun.
 
Seiring dengan kembalinya AS ke WHO, Biden merencanakan akan membuat kebijakan negara itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Menteri Luar Negeri AS yang baru bahkan menyebutkan AS akan bergabung dengan Covax untuk memperkuat inistiatif internasional dalam rangka menjamin ketersediaan vaksin untuk kolompok masyarakat berisiko tinggi terhadap Covid di negara-negara miskin. Seperti diketahui Covax adalah sebuah aliansi global yang beranggotakan duapertiga negara di dunia didukung WHO yang ditujukan untuk menjamin akses vaksin untuk seluruh penduduk di dunia, terutama bagi mereka yang tak mampu di sejumah negara miskin.
 
Dengan masuknya AS kembali ke WHO dan menjadi salah satu motor penting Covax, maka jaminan ketersediaan 2 milyar dosis vaksinasi untuk rakyat di negara-negara miskin di dunia akan terjamin. Bagi Biden dan sebagian besar masyarakat AS, kembalinya AS ke WHO dan menjadi pemegang peran penting untuk gerakan vaksinasi global, maka keberadaan AS dalam panggung kesehatan internasional telah kembali seperti semula, terutama sebelum Trump menjadi presiden.
 
Negara sebesar AS tentu tidak pernah lepas dari berbagai bencana, dan pada umumnya kitika AS dilanda bencana, hampir semua negara di dunia juga relatif terpengaruh, bahkan dalam banyak hal mengalami hal yang serupa walaupun tidak sama. Jawaban yang diberikan oleh pemimpin AS akan menentukan keberadaan AS dan dunia pada masanya. Menurut banyak pengamat, tingkat keparahan AS kali ini dalam hal pandemi yang tidak bisa diatasi oleh Trump memiliki bobot kerumitan yang sama dengan bobot kerumitan  perang sipil semasa  Abraham Lincoln, depresi dan Perang Dunia II pada masa Rosevelt, dan Perang Dingin ketika Reagan berkuasa. 

Ukuran kehebatan pemimpin diukur dari kemampuannya mengatasi persolan besar dan bahkan krisis hebat nasional dan internasional. Tantangan itulah yang kini dihadapi oleh Biden.
 
Keberhasilan Biden menangani Covid-19 baik pada level domestik maupun dalam konteks kepemimpinan global AS, akan sangat menentukan terhadap pulihnya ekonomi internasional dan berbagai persoalan yang menyangkut dengannya. Sehebat apapun Cina dalam mengatasi Covid-19 berikut dengan kemampuan navigasi ekonominya yang sangat luar biasa, belum memberikan kekuatan penuh kepada pemulihan ekonomi global. Memang pada akhirnya, sekalipun Cina telah berada di teringkat dua ekonomi dunia, tanpa pulihnya ekonomi AS, kehidupan global akan terus dihantui oleh ketidakpastian yang belum tampak skenario akhirnya. AS dan Biden kini harus memberikan jawaban itu.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...