Unduh Aplikasi

Jeritan Hati Pemulung di Tengah Virus Corona

Jeritan Hati Pemulung di Tengah Virus Corona
Pemulung memilah dan menyortir barang-barang bekas yang dikumpulkan. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – “Meunyoe hana tajak pileh broh-broh sit hana peng” begitulah ucapan yang keluar dari mulut Mahmudiah, seorang pemulung asal Gampong Lhok Mon Puteh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Sembari tangannya terus menyortir botol minuman bekas, wanita paruh bawa itu mengatakan kalau kebutuhan sehari-harinya dari penghasilan memulung botol dan gelas minuman bekas di Tempat Penampungan Akhir (TPI), Alue Lim, Lhokseumawe.

Matahari sangat terik, cuaca sangat panas, sejumlah pemulung terlihat tak kenal lelah dan terus mengutip benda-benda yang bisa dijual untuk menghasilkan uang, di tumpukan sampah yang menggunung tersebut.

Bukan karena tidak takut terhadap Corona Virus Disease (COVID-19), di tengah masyarakat lain mengisolasi diri untuk menghindari penyakit mematikan itu. Namun, pemulung terus berjuang untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Katanya gudang tempat beli barang bekas akan ditutup di Medan. Kemungkinan besar barang-barang bekas yang kami kumpulkan ini harus disimpan dulu dan tidak bisa dijual,” ujar wanita yang mengenakan baju berwana kobinasi hitam dan putih, serta jelbab kurung hitam.

Sejumlah pemulung terus mengangkut barang bekas yang sudah dipisahkan dan disortir serta dimasukkan ke dalam karung. Bukan hanya di kalangan laki-laki, pemulung di lokasi itu di dominasi oleh kaum wanita.

Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar juga dengan kancah membantu orangtuanya untuk memperoleh penghasilan yang lebih banyak.

“Harganya sudah sangat turun, sebelumnya kalau gelas minuman bekas setelah disortir Rp8 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp4 ribu per kilogram, sementara botol bekas sebelumnya Rp3500 per kilogram kini menjadi Rp2500 per kilogram,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pemulung lain, Intan. Dia menyebutkan, kalau ada pemberitahuan besok para pemulung tidak boleh lagi untuk mengutip sampah. Hal itu membuatnya sangat tertekan.

“Kalau kami tidak bekerja, dari mana kami bisa dapat uang untuk makan, jajan anak-anak,” katanya didampingi oleh suaminya disela-sela istirahat.

Sambung Intan, semenjak mewabahnya virus corona, penghasilan yang mereka peroleh juga turun drastis, sebelumnya dalam tiga hari bisa memperoleh penghasilan Rp500 ribu, kini menjadi Rp100 ribu per tiga hari.

“Mata pencarian kami semata-mata disini, kalau tidak dibolehkan kerja, ya selama 14 hari kami tidak aka nada penghasilan, mau makan apa coba kan,” imbuhnya.

Komentar

Loading...