Unduh Aplikasi

Jerit Pedagang Kecil Yang Dihimpit Pandemi Covid

Jerit Pedagang Kecil Yang Dihimpit Pandemi Covid
Putra saat membereskan lapak dagangannya. Foto: Darmansyah Muda

ACEH BARAT- Putra,(29) menghela nafas panjang. Wajah kesalnya terlihat begitu jelas saat dihampiri AJNN pada Jumat, (27/8) pukul 17.30 WIB. Ia berdiri tepat di belakang gerobak kopi keliling miliknya, yang ia parkir dibahu jembatan pelabuhan Jetty Meulaboh, Desa Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Kendaraan hilir mudik, sebagain orang juga lalu lalang berjalan kaki, di beberapa titik terlihat penumpukan massa. Ada yang berdiri antrian panjang dekat geladak kapal perintis sabuk nusantara untuk masuk kedalam, sebagain lagi terlihat bersama sepeda motornya berdiri sejajar dengan gladak kapal itu.

Mereka yang berdiri sejajar dengan haluan kapal, sedang menunggu sepeda motor mereka diangkut menggunakan katrol, oleh awak kapal sabuk nusantara yang saat ini dikenal dengan tol laut. Mereka adalah penumpang Kapal Perintis Sabuk Nusantara tujuan Kabupaten Kepulauan Simeulue.

Putra yang dibalut oblong hitam bercorak putih saat AJNN menghampiri baru saja selesai mengangkut dua meja dan dua kursi dari keranjang botol bekas berwarna merah milik salah satu produk ke atas grobak kopi miliknya.

Ia siap siap-siap tancap gas meninggalkan pelabuhan milik pemerintah daerah, yang dibangun oleh Pemerintah Singapura pada tahun 2007 lalu dengan mengengkol sepeda motor scooter tahun 90-an yang telah ia rekatkan dengan grobak kopi miliknya itu.

“Mana bro,” sapa salah seorang awak media televisi berpostur tinggi 178 centi meter yang saat itu bersama AJNN menghampiri Putra. Di kalangan jurnalis pria ini disapa Siaf, sedangkan nama lengkapnya Afsah.

Dengan lugas, Putra,mengatakan ia terpaksa meninggalkan lokasi itu, karena lokasi yang biasa ia gunakan sebagai lapak berdagang kopi keliling telah dilarang berjualan.

Lebih lanjut kepada AJNN, Putra mengungkap kekesalannya atas larangan berjualan di bahu jembatan pelabuhan jetty tersebut. Pasalnya larangan berjualan itu tanpa dibarengi dengan sosialisasi terebih dahulu.

Alasan penumpukan massa di pelabuhan membuat ia dilarang berjualan di lokasi tersebut, saat ini pemerintah sedang berupaya mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disease atau Covid-19.

“Disini bisanya pedagang kopi, bakso, kacang , pop ice dan lain-lainnya. Yang sangat dikecewakan sosialisasi enggak ada sama sekali. Tiba-tiba kita diinstruksikan tidak boleh jualan dengan alasan penumpukan massa,” kata Putra kepada AJNN.

Putra mengatakan larangan berjualan tanpa ada sosialisasi sebelumnya itu merupakan instruksi dari Pemerintah Kabupaten setempat bersama pihak Kepolisian yang mendatangi para pedagang kaki lima tersebut langsung.

Akibat larangan berjualan tersebut membuat, Putra, bersama beberapa pedagang keliling lainnya yang selama ini memanfaatkan pelabuhan jetty sebagai tempat menjajal dagangan mereka kehilangan mata pencaharian.

Tempat itu padahal selama ini menjadi lokasi wisata pilihan sore hari bagi warga Meulaboh menghabiskan waktu menikmati sunset. Dengan dilarangnya berjualan tanpa imbauan lebih dahulu menurut Putra membuat ia kesulitan mencari lapak baru.

Bukan karena dilarang secara tiba-tiba dengan alasan penumpukan massa membuat mudah penyebaran COVID 19 saja yang membuat ia kesal, namun ia menilai aturan tersebut seperti hanya menindas pedagang kecil dengan penghasilan pas-pasan.

“Alasan mereka ya salah satunya penyebab berkumpulnya orang sehingga tersebarnya virus corona. Cuma yang kita sayangkan bang ada beberapa cafe, warung kopi dan pasar sekalipun termasuk yang besar besar kayak mall kurang perhatian dari pemerintah,” keluh Putra.

Harusnya, kata dia, jika memang menerbitkan aturan jangan ada kesenjangan bagi pedagang, namun sama-sama diimbau untuk tidak lagi berjualan.

Ia menjelaskan, dirinya telah menjajal dagangannya di tempat itu sekitar 2,5 tahun dan setiap harinya ia berhasil memperoleh omzet 200 ribu per harinya. Memang, kata dia, sejak wabah virus SARS-CoV-2 itu melanda Indonesia pendapatannya menurun drastis bahkan sehari-hari tidak sampai lima puluh ribu.

Putra juga berpesan kepada pemerintah selain berlaku adil dalam membatasi berdagang kepada pedagang kecil, juga menyediakan hand sanitazer disetiap sudut kota Meulaboh untuk mencegah dan mendeteksi penyebaran virus corona secara dini.

Menurutnya pencegahan dengan hanya melakukan sosisalisasi tidak akan efektif, tanpa dipadu dengan aksi nyata dalam penyediaan kebutuhan yang dapat mengajarkan masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS.

Komentar

Loading...