Unduh Aplikasi

INTERMESO

Jepang, Nazi dan Indonesia

Jepang, Nazi dan Indonesia
Ilustrasi: city school

DI Jepang, Kaisar Naruhito mengungkapkan rasa penyesalan yang dalam atas segala tindakan pendahulunya di masa Perang Dunia II. Berulang kali, di berbagai kesempatan, Naruhito berjanji merefleksikan peristiwa perang dalam kehidupan dan memastikan Jepang tidak akan mengulangi tindakan itu.

Kaisar berusia 75 tahun itu juga berjanji untuk mengikuti jejak ayahnya, yang mengabdikan selama 30 tahun karirnya untuk menebus kesalahan perang atas nama Hirohito, kaisar Jepang saat ini.

Di sekolah-sekolah di Jerman, seluruh pelajar mendapatkan pengetahuan tentang pasukan Nazi. Meski sejarah itu tak mengenakkan, terutama setelah Nazi kalah, juga dalam Perang Dunia II, tetap saja pemerintah Jerman menganggap penting sejarah tentang Nazi dengan sosok Hitler sebagai aktor utamanya.

Bagi Jerman, penting untuk memastikan sejarah itu tidak terulang kali. Dan yang lebih penting, pemerintah Jerman mengenalkan siapa sebenarnya orang Jerman. Sehingga bangsa ini tidak bingung dalam memandang masa depan.

Hal ini tak dilakukan oleh Indonesia. Di masa Presiden Suharto, korban-korban kekerasan hanya jadi angka. Tak pernah ada kejelasan. Semua dibiarkan berlalu tanpa kepastian. Bahkan saat rezim Suharto digantikan oleh orang yang dulu ditindasnya, tetap saja tak ada kepastian nasib korban kekerasan di masa lalu.

Ada yang bilang Indonesia bangsa yang besar. Namun kata-kata itu terasa hambar. Terutama di saat hampir tak ada upaya serius dari negara untuk menyajikan sejarah dengan apa adanya.

Lantas saya teringat dengan sebuah cerita yang menyebut bangsa Indonesia adalah bangsa pesolek. Semua yang buruk bisa dibuat indah, tergantung seberapa besar seseorang mampu membiayai konsultan humasnya.

Di negeri ini, semua bisa diatur. Dipadan-padankan ke dalam situasi, sesuai dengan “kearifan lokal”. Seorang pemimpin di negeri ini bisa dengan mudah berbalik menjadi B meski semua orang tahu dia adalah A, dan dia tak perlu merasa malu atau merasa bersalah.

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...