Unduh Aplikasi

Jangan Kami Menabung Dendam

Jangan Kami Menabung Dendam
Ilustrasi: Illline

NEGARA seharusnya tidak mengabaikan kasus-kasus kekerasan yang pernah terjadi di Aceh. Pengungkapan pelaku pelanggaran hak asasi manusia di Aceh bahkan, seharusnya, jadi prioritas setelah perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia diteken di Helsinki, Finlandia.

Namun hingga lebih dari satu dekade, kasus-kasus kekerasan urung diungkap. Negara sepertinya setengah hati untuk mengungkapkan pelaku dan aktor-aktor banyak kasus pelanggaran HAM di Aceh. Ini bukan tentang ganti rugi. Ini adalah tentang memahami masa lalu untuk memperbaikinya di masa depan. 

Seperti yang disuarakan oleh Aliansi Daulat Rakyat Aceh untuk Arakundo. Demonstran yang terdiri dari kalangan mahasiswa ini mendesak agar kasus pelanggaran HAM di Arakundo diungkap.Pengungkapan sejarah kekerasan ini adalah penuntun untuk menjalani masa depan Aceh yang lebih baik. Ini bukan sekadar tentang siapa melakukan apa. Jauh dari itu, ini adalah tentang bagaimana sebuah bangsa dibangun dan dibesarkan.

Kultur kekerasan yang terjadi di masa lalu sangat dekat kaitannya dengan kekerasan-kekerasan yang terjadi di saat ini. Saat seorang anak bangsa melihat kekerasan di masa lalu tak pernah terungkap, atau bahkan diabaikan dengan harapan segera dilupakan, maka dia akan dengan mudah mengulang jejak pelanggaran HAM itu dalam bentuk berbeda.

Tanpa pengusutan dan penuntasan kasus pelanggaran HAM di Aceh, cerita kekerasan akan terus berulang. Pelanggar HAM akan merasa nyaman dengan perbuatannya karena merasa bebas melakukan apapun yang mereka lakukan atas nama “kekuasaan”. 

Pengusutan kasus pelanggaran HAM ini juga penting untuk memastikan tak ada dendam lagi di Aceh. Karena dendam hanya akan mendatangkan kebencian. Mematikan hati nurani dan mengacaukan pikiran. Negeri ini tak akan tumbuh lebih baik dengan segunung dendam.

Komentar

Loading...