Unduh Aplikasi

Jangan Kaitkan Isu Beli Jabatan dengan Zaini Abdullah

Jangan Kaitkan Isu Beli Jabatan dengan Zaini Abdullah
Ilustrasi. Foto: Net

Oleh: Ambo A. Ajis

Etika pemerintahan di Aceh, sekali lagi mendapatkan ujian besar (qubra) terkait isu yang sedang menggelinding menyangkut jual beli jabatan kepala dinas di Provinsi Aceh, dimana nilainya dikabarkan mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 5 miliar rupiah seperti yang ditulis di tribunnews.com.

Dan, sangat sulit untuk menghindar gelinding isu tersebut menerpa semua urat etis kita, karena momentumnya berada dalam masa kepala Pemerintah Aceh hari ini yang berstatus Pelaksana Tugas (Plt). Pertanyaannya kemudian, apakah beliau, Plt Gubernur Aceh ikut tergoda atau menuju tergoda dalam dilema isu di atas, semoga saja tidak demikian.

Walau terasa sulit melihat kebenarannya, sungguh kondisi pemerintahan model seperti di atas, dipastikan berakhir tragis, mengapa karena tipe pemerintahan seperti ini secara langsung menyinggung nilai-nilai moralitas dan mempertontonkan wajah keserakahan dan kezoliman yang sangat dibenci umat Islam di Aceh. Dan, kita berharap bahwa semoga Aceh tidak tercoreng oleh perbuatan hina seperti ini, karena akan membutuhkan waktu yang lama membersihkan “koreng” yang menggorogoti tersebut.

Di lain sisi, ada rasa miris dalam pikiran, karena semenjak pemerintahan dr. Zaini Abdullah, isu jual beli jabatan ruang-ruangnya telah dipangkas habis dengan konsep pemerintahan yang bersih. Walau begitu, dalam manajemen isu yang sengaja disemburkan oleh dukun-dukun politik, ada saja sisa aroma yang tertinggal, dan sempat menyeruak dari ketiak begundal-begundal seberang. Yakni, mereka di seberang sana, berada di lingkar kekuasaan, selalu menawarkan dan membangun kroni-kroni anggaran hanya untuk mengenyangkan perut yang sejengkal, dan membiayai ambisi politik untuk menjadi “raja” dikemudian hari dengan cara menjadi broker jabatan. Tetapi, dapat dipastikan dr. Zaini Abdullah sama sekali tidak tergoda dengan rayuan jelek tersebut.

Namun kasus di atas, bisa disebut menyedihkan, karena sungguh disayangkan, jika Plt Gubernur Aceh hari ini juga harus merasakan buah pahit dari warisan begundal-begundal seberang yang selalu berpesta di rumah-rumah kroninya yang remang-remang, ditemani perempuan cantik dan tawa riuh kemenangan yang faktanya kemenangan semu.

Tapi, baiknya kita kembali ke dr. Zaini Abdullah (AZAN) sebagai Gubernur Aceh 2012-2017; Pertama, seharusnya beliau tidak memiliki kekayaan paling rendah, jika melakukan perbuatan tercela tersebut di atas. Secara logika, jika mengganti tiga kali jabatan kepala dinas dan dikalikan 32 jabatan kepala dinas, maka seharusnya uang di rekening dr. Zaini Abdullah (AZAN) adalah Rp 480 miliar rupiah. Tetapi faktanya, uang di rekening beliau sebagaimana postingan KIP Aceh hanya sebesar Rp 1,6 miliar rupiah. Nah, sekarang sudah jelas, jika ada yang secara sengaja atau tidak sengaja mencoba mengaitkan aroma bangkai black campaign kasus jual beli jabatan di atas untuk memfitnah dr. Zaini Abdullah (AZAN), maka jelas itu fitnah besar.

Padahal bisa dikatakan, Aceh sangat beruntung memiliki gubernur yang bersahaja seperti dr. Zaini Abdullah (AZAN) karena selalu menjauhi perbuatan tercela seperti itu.

Kedua, sangat tidak masuk akal jika mengatakan dr. Zaini Abdullah (AZAN) memiliki perbuatan tercela itu, karena semua orang Aceh tahu kalau orang tua dr. Zaini Abdullah (AZAN) adalah seorang ulama yang tegas melawan perbuatan mungkar seperti memeras dalam bentuk jual jabatan. Dengan kata lain, ajaran Islam yang tertanam dalam pikiran dan perbuatan dr. Zaini Abdullah (AZAN) jelas jauh dari perbuatan tercela tersebut.

Ketiga, sebagai anak ideologis Muhammad Hasan Tiro, tentu saja, dr. Zaini Abdullah (AZAN) tidak pernah diajari untuk mengambil hak orang lain dan menjual bangsa untuk kepentingan sejengkal perut, atau kepentingan memuaskan hasrat birahi di atas ranjang, atau kepentingan menimbun harta dengan berbagai mobil mewah dan aset tanah yang luas dan lain sebagainya. Mengapa, karena sebagai lulusan University of Acheh di Gunung Halimon, ideologi dr. Zaini Abdullah (AZAN) adalah ideologi memerdekan Aceh dari pembodohan. Dan jelas, menjual jabatan adalah tindakan pembodohan kepada rakyat Aceh dan dosanya sungguh sulit terampunkan dunia akhirat.

Dengan kata lain, hanya orang gila saja atau orang yang gagal paham saja yang mengatakan bahwa jual beli jabatan di Pemerintahan Aceh yang terissukan hari ini, pernah dilakukan oleh dr. Zaini Abdullah (AZAN). Namun, jika ada yang mengatakan itu dilakukan oleh seseorang di seberang sana, dan mendompleng di pemerintahan dr. Zaini Abdullah (AZAN), maka itu diluar tanggungjawab siapapun.

Pada akhirnya, hanya Allah Subhana Wataala dan pelakunya sendiri yang tahu dan sengaja mengaitkan isu jual beli jabatan untuk memburukkan popularitas dr. Zaini Abdullah (AZAN), dengan tujuan menjegal rakyat Aceh memilih dr. Zaini Abdullah (AZAN).

Tetapi, mungkin saja momentum memanfaatkan kondisi kekuasan hari ini benar-benar hendak dimanfaatkan okum tertentu, lalu ketika ketahuan oleh wartawan, dia mencari kambing hitam untuk menyelamatkan diri. Semoga, mereka yang sedang coba-coba peruntungan menjual jabatan di Pemerintahan Aceh hari ini (yang di masa dr. Zaini Abdullah (AZAN) tidak bisa berkutik), segera taubat dan sadar bahwa perbuatannya itu salah besar dan merusak masa depannya sendiri dan nama baik Aceh.

Penulis adalah pemerhati sosial politik di Aceh

Komentar

Loading...