Unduh Aplikasi

Jangan Ada Black Campaign di Pilkada Aceh

Jangan Ada <i>Black Campaign</i> di Pilkada Aceh

Oleh: Ambo A. Ajis

Gemuruh langit Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 Aceh semakin menggeliat di atmosfer Aceh. Dan, kesemarakannya semakin menguat, apalagi kini menjelang berakhirnya tahun 2016 yang sekaligus menjadi pluit tanda masuknya tahun 2017 dan penanda semakin dekatnya hari bersejarah 15 Februari 2017, yakni, hari pencoblosan untuk jabatan gubernur, wali kota dan bupati di Aceh periode mengabdi ke Rakyat tahun 2017-2022.

Alhasil, suasana sosial di Aceh, juga turut “gaduh” dengan berbagai trik kampanye dan pendekatan untuk menarik minat, simpati, hasrat para pemilih, agar datang ke kotak suara dan mencoblos pilihannya.

Walau terlihat normal dan biasa-biasa saja, beberapa peristiwa tak sedap ternyata hadir mengiringi jalan menuju “laga” krusial tanggal 15 Februari 2017 ini. Misalnya, peristiwa pemukulan dan penembakan, juga perobekan stiker, penurunan bendera dan sebagainya. Ini dapat ditafsir sebagai agenda intimidasi kepada calon lain. Namun, peristiwa lain yang sangat tidak masuk akal dan sangat disayangkan oleh juru bicara dari partai peserta yang ikut dalam kompetisi ini adalah penghinaannya kepada kepada kandidat Doto Zaini Abdullah dan Irwandi Yusuf, yang sedikit banyak menyisakan kerusakan di tatanan sosial masyarakat pendukung dan masyaraat umum di seluruh Aceh.

Berbagai peristiwa di atas menjadi cacat yang melekat dalam Pilgub Aceh tahun 2017 yang penyelesaiannya juga sangat tidak transparan dan bahkan cenderung terasa “diabaikan”. Dan hal ini, menjadi kesakitan bagi yang tersakiti sekaligus penanda adanya jalan menuju keretakan sosial. Argumentasinya, kualitas pemilu yang cacat akan melahirkan pemimpin yang cacat. Bagi penulis, ini menunjukan bahwa demokrasi yang sedang kita jalankan memiliki kelemahannya sendiri.

Dalam konteks Aceh, kita tidak ingin ada agenda-agenda yang lebih “ganas” selain persoalan penembakan dan pemukulan yang menjadi cara-cara jelek pihak tertentu, atau perusakan alat calot seperti spanduk, baliho dan stiker; dan yang terakhir soal penghinaan personal Doto Zaini Abdullah dan Irwandi oleh lawan politik di atas. Misalnya, ada gerakan black campaign yang mengarah pada anti kepemimpinan asal usul calon. Sebagai contoh, anti pada pemimpin dari Pidie sebagaimana asal usul Zaini Abdullah (AZAN).

Jika ini terjadi, maka retakan-retakan akibat gempa politik dengan skala lebih besar akan mengaum dalam dinamika sosial kita. Karenanya, menjadi peringatan kepada para tim-tim kampanye dari semua kandidat agar mematuhi etika dalam berkampanye. Hindarilah cara-cara menghalalkan segala cara untuk memaksakan kehendak. Jangan jadikan demokrasi yang digunakan saat ini, berubah dari kehendak rakyat menjadi kehendak nafsu keserakahan.

Sebagai kesimpulan, penulis menasehatkan agar demokrasi yang sedang berjalan prosesnya ini jangan dinodai dengan ujaran kebencian, ujaran penghinaan, jangan mengintimidasi dan jangan melakukan black campaign dengan mendasarkan pada ujaran-ujaran kebencian yang mengarah pada asal usul calon, seperti jangan pilih dari Pidie, atau sudah cukup Pidie, dan lain-lain contoh black campaign yang menodai dan merugikan demokrasi kita.

Penulis adalah pemerhati sosial politik di Aceh

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...