Unduh Aplikasi

Jangan Abaikan Nasib Guru Honorer

Jangan Abaikan Nasib Guru Honorer
Ilustrasi.
NEGARA tak boleh lalai dalam memperhatikan nasib para guru honorer kategori II. Surat resmi Gubernur Aceh kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, untuk segera memberikan Nomor Induk Pegawai Honorer Kategori II di Aceh, harusnya dapat segera diberikan.

Dalam surat itu, Gubernur Aceh juga memberikan penjelasan sebagai pegangan pemerintah pusat, bahwa para honorer itu telah melewati serangkaian proses administrasi yang diverifikasi dan divalidasi oleh tim yang dibentuk Kepala Badan Kepegawaian Negara. Mereka juga dinyatakan lulus dalam ujian kompetensi dasar dan bidang oleh panitia nasional.

Yang terpenting, para guru honorer ini telah menunjukkan bakti mereka kepada negara dalam kurun waktu 10-20 tahun. Ini jelas bukan waktu yang pendek untuk mengabdi. Bahkan sebagian besar mereka adalah guru yang bekerja di daerah-daerah pedalaman Aceh.

Guru adalah modal penting bagi negara untuk membangun negara. Di tangan merekalah maju atau mundurnya pendiidikan ditentukan. Sayangnya, perlakuan negara terhadap pentingnya peran mereka masih setengah hati. Dalam berbagai rezim, guru hanya dijadikan sebatas komoditas politik.

Di Aceh, masih banyak guru yang tidak digaji oleh negara hanya karena mereka tidak mengajar di sekolah-sekolah milik negara. Padahal, yang mereka didik adalah anak-anak bangsa, sama seperti mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah negeri.

Dengan sederet aturan main, harusnya para pegawai honorer ini segera mendapatkan status yang layak. Status yang layak berarti gaji yang layak.

Di sisi lain, daerah juga tak boleh sesuka hati mengangkat guru tanpa memperhatikan jumlah kebutuhan guru di setiap sekolah di setiap daerah. Apalagi hanya berdasarkan kedekatan emosional dan kekerabatan.

Pemerintah daerah harus benar-benar jeli dalam menempatkan seorang guru di sebuah daerah. Termasuk tidak mudah menyetujui rencana mereka untuk pindah ke sekolah di perkotaan setelah diangkat sebagai pegawai negeri sipil di daerah pedalaman.

Tanpa perhitungan yang matang soal jumlah guru, tidak hanya negara yang terbebani. Hal ini juga akan mengorbankan para siswa, karena para guru tidak lagi berfokus pada mengembangkan anak didik.

Dalam hal ini, negara harus juga mendidik para guru agar tidak sekadar mengajar. Karena yang dibutuhkan para siswa saat ini adalah pendidik, bukan sekadar pengajar.

Komentar

Loading...