Unduh Aplikasi

Jang-Ko Sebut Pelayanan Rumah Sakit Buruk, Direktur RS Datu Beru Membantah

Jang-Ko Sebut Pelayanan Rumah Sakit Buruk, Direktur RS Datu Beru Membantah
Foto: Net

BANDA ACEH - Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) meminta Bupati Aceh Tengah Shabela Abu Bakar mencopot Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon dari jabatannya.

Hal itu disampaikan Koordinator Jang-Ko, Maharadi. Hal itu sesuai dengan laporan masyarakat terkait dugaan buruknya pelayanan di rumah sakit tersebut.

"Kami menerima informasi karena banyaknya keluhan masyarakat atas pelayanan rumah sakit yang begitu buruk," kata Maharadi melalui keterangannya kepada AJNN, Kamis (25/7).

Maharadi menyampaikan, sikap tegas harus dilakukan bupati guna memperbaiki manajemen secara menyeluruh terhadap semua pegawai dan karyawan, baik bidan, perawat maupun dokter.

Kata Maharadi, pihaknya menerima laporan dari salah satu pasien Jumardi asal kampung Mahbengi Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, yang mengaku menerima pelayanan buruk terhadapnya di ruang Kepies lantai II Rumah Sakit Datu Beru Takengon.

Kekesalan pasien tersebut karena kekosongan perawat, dan ia sempat membuat video, lalu diunggah di akun facebook miliknya Jumardi Teknik Gayo.

"Bupati harus tegas dan mengambil sikap, dikarenakan kondisi pelayanan buruk rumah sakit terus berulang, ini membahayakan jika terjadi sesuatu terhadap pasien dan berakibat fatal atas keteledoran perawat sehingga menimbulkan korban jiwa," ujarnya.

"Perlindungan hak pasien sudah di atur dan tercantum dalam pasal 32 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit," sambung Maharadi.

Maharadi menjelaskan, ada beberapa poin yang menjadi hak pasien, diantaranya memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit, tentang hak dan kewajiban pasien, memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.

"Semua sudah jelas di atur oleh Perlindungan hak pasien juga tercantum dalam pasal 32 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit," tandasnya.

Sementara itu, Direktur RS Datu Beru Takengon, Dr Hardi Yanis membantah kalau terjadi kekosongan pelayanan pasien seperti yang disampaikan tersebut. Saat itu, perawat sedang berada di dalam ruangan memeriksa pasien lainnya.

"Itu bukan kekosongan, perawatnya lagi di ruangan, di kamar pasien, jadi dia lihat kan di resepsionis, perawatnya lagi di kamar pasien semua," tegas Hardi.

Dirinya menegaskan bahwa tidak akan terjadi kekosongan yang membuat terhenti pelayanan rumah sakit. Bahkan perihal tersebut pihaknya sudah menanyakan langsung kepada perawat yang bertugas saat itu.

"Kalau kosong saya jamin tidak kosong, perawat setelah kita cek lagi diruangan," pungkasnya.

Komentar

Loading...