Unduh Aplikasi

Bukan Sekadar Politik, Lebih Dari Itu: Identitas dan Martabat!

Bukan Sekadar Politik, Lebih Dari Itu: Identitas dan Martabat!
CERITA ketidakadilan dalam lakon pemekaran Aceh berawal dari satu kata: ketimpangan. Suara ini diteriakkan dari dataran tinggi Gayo dan menggema hingga pesisir barat dan selatan Aceh. Lantas, muncullah Alabas: Aceh Leuser Antara Barat Selatan. Nama yang mungkin akan segera terwujud dalam waktu yang tak lama lagi.

Ketimpangan ini tidak hanya urusan bagi-bagi kue politik, atau sekedar urusan menampung “putra daerah” dalam kabinet satuan kerja. Bahkan ini bukan urgensi dari pemekaran itu sendiri, lebih dari itu: Identitas dan Martabat.

Sejak lama masyarakat Gayo dianggap sebagai tamu di tanah sendiri. Mereka dianggap bukan Aceh, meski jelas bahwa mereka adalah penduduk lokal asli Aceh. Eksistensi mereka diabaikan. Ini juga bukan masalah besar, karena toh masyarakat Gayo memiliki cara sendiri untuk bertahan di tengah drama “anak tiri dan anak kandung” ini.

Jangankan hal yang mendasar berupa keadilan dan kesejahteraan, persoalan sederhana berupa jalan saja hingga kini tak pernah tuntas. Lihat saja jalan menuju dataran tinggi Gayo seperti tak pernah mendapat perhatian serius. Menghubungkan Bireuen dan Takengon, satu-satunya akses tercepat bagi masyarakat Gayo melangkah ke Banda Aceh atau ke Medan, Sumatera Utara, tak pernah mulus.

Sempat muncul harapan saat Pemerintah Aceh menggerus bukit untuk melebarkan akses jalan. Langkah ini menjadi penanda bahwa tak pernah ada perbedaan antara kawasan pesisir timur Aceh dan dataran tinggi Gayo.

Pemerintah seperti tak pernah bersungguh membangun akses yang layak sebagai nadi perekonomian masyarakat Gayo. Hanya sekejap menikmati jalan yang mulus, jalan negara ini kembali rusak. Tak ada perawatan. Bahkan kondisinya kini semakin memperihatinkan, terutama di Kecamatan Juli, Bireuen.

Hakekat jalan adalah pemersatu. Menghubungkan satu titik dengan titik lain. Mempertemukan dua daerah. Menghilangkan batas dan sekat. Jalan adalah tempat berbagai langkah bersatu. Jika akses masyarakat terhambat, tentu ini akan berdampak pada tingkat perekonomian.

Masyarakat Gayo butuh jalan untuk mengantarkan hasil kekayaan alam ke luar daerah. Mereka butuh kemudahan untuk mengakses daerah lain, seperti kemudahan yang dirasakan saudara-saudara di daerah lain. Sebagai daerah pariwisata, Gayo juga butuh akses yang memudahkan pelancong untuk datang ke daerah mereka.

Andai saja dinas terkait peka terhadap hal ini, mungkin saja tuntutan pisah ini tak terlalu menggema. Pemekaran memang urusan politik, namun jauh lebih penting dari itu, mekar adalah urusan ekonomi, keadilan dan kesejahteraan. Saat Gayo terus tertinggal, dan daerah lain bergelimang kemudahan, tentu tak ada salahnya mereka menuntut pemekaran. Siapa sih yang nggak butuh kemajuan.

Komentar

Loading...