Unduh Aplikasi

Jaksa Ungkap Rencana Sadis Zuraida Hanum Habisi Nyawa Hakim Jamaluddin

Jaksa Ungkap Rencana Sadis Zuraida Hanum Habisi Nyawa Hakim Jamaluddin
Sidang kasus pembunuhan hakim Jamaluddin digelar lewat video conference (Datuk Haris/detikcom)

MEDAN - Tiga terdakwa kasus dugaan pembunuhan hakim Jamaluddin menjalani sidang dakwaan hari ini. Jaksa pun mengungkap detail rencana pembunuhan Jamaluddin yang dirancang oleh salah satu terdakwa, Zuraida Hanum.

Sidang tersebut digelar secara online di PN Medan, Selasa (31/3/2020). Para terdakwa, yakni istri Jamaluddin, Zuraida Hanum; serta dua eksekutor Jefri Pratama dan Reza Fahlevi, tetap berada di rutan sementara majelis hakim, jaksa dan penasihat hukum terdakwa berada di ruang sidang PN Medan.

Dalam dakwaannya, jaksa membeberkan soal rencana Zuraida untuk membunuh suaminya, Jamaluddin. Zuraida pun merancang sendiri cara menghabisi nyawa suaminya tersebut.

Rencana Zuraida, kata jaksa, disampaikan kepada dua eksekutor Jefri dan Reza di salah satu kafe di Jalan Ngumban Surbakti, Medan. Percakapan di kafe itu diawali dengan penyampaian keinginan Zuraida dan Jefri untuk menikah usai Jamaluddin terbunuh.

"Jefri berkata kepada saksi M Reza Fahlevi 'Dek, ada yang mau abang sampaikan. Kak Hanum ada masalah sama suaminya. Suaminya selama ini suka main perempuan, suka marah-marah sama orang tua Kak Hanum dan suaminya merendahkan keluarga Kak Hanum. Kak Hanum tidak bisa sama suaminya kalau bercerai di pengadilan, dia mau agar suaminya dibunuh'. Kemudian saksi M Reza Fahlevi langsung berkata kepada terdakwa 'Betul itu kak, nanti kakak cuma manfaatin Bang Jefri, karena setau Reza Bang Jefri orangnya lurus nggak neko-neko dari dulu. Kakak serius nggak nyuruh kek gitu?'," ucap jaksa.

"Kemudian terdakwa menjawab 'Iya serius. Memang rencana kami mau nikah sama Bang Jefri bukan main-main, selama ini kakak udah nggak tahan udah lama kakak pendam, udah cukup sakit hatilah, Reza memang betul mau bantuin Bang Jefri sama kakak untuk bunuh suami kakak? Nanti kalau udah siap bunuh, kakak kasih uang seratus juta dan setelah itu nanti kita umrah' dan saksi M Reza Fahlevi menjawab 'Iya kak, Reza mau tapi kakak serius kan sama Bang Jefri. Nanti cuma manfaatin aja', kemudian terdakwa menjawab 'Nggak, tanya aja langsung sama abangmu'. Lalu saksi M Jefri Pratama menjawab 'Iya za'," sambung jaksa.

Baca: Zuraida Hanum Tidur 2 Jam di Samping Jasad Hakim Jamaluddin

Setelah percakapan tersebut, jaksa mengatakan Zuraida menyampaikan rencana membunuh Jamaluddin. Rencana tersebut diawali dengan menjemput kedua eksekutor di pasar (pajak) Johor dan membawa keduanya ke rumah.

"Setelah itu terdakwa berkata 'Nanti habis magrib jam 7 aku jemput depan Pajak Johor, terus habis itu kalian kubawa ke rumah. Nanti sampai di rumah kalian di atas lantai 3 di loteng aja, nanti jam 1 ku-missed call baru kalian masuk eksekusi. Kamar nggak aku kunci, terus kalian masuk, nanti kain sudah aku siapkan di atas di pinggir tempat tidur. Nanti satu orang bekap pakai kain, satu orang lagi pegang tangan dan badan, dan nanti aku menahan kakinya, jadi kita buat seakan-akan kematian itu dikarenakan sakit jantung' Kemudian saksi M Jefri Pratama dan saksi M Reza Fahlevi berkata 'Iya'," tutur jaksa menjelaskan rencana yang dirancang Zuraida.

Setelah itu, Zuraida disebut memberikan uang Rp 2 juta kepada keduanya. Uang itu diberikan untuk membeli ponsel, sepatu serta jaket.

Zuraida juga mengingatkan kedua orang tersebut agar tidak menggunakan pakaian sehari-hari saat hari eksekusi. Pertemuan kemudian berakhir.

Rangkaian rencana tersebut kemudian dieksekusi Kamis (28/11/2019). Dimulai dari penjemputan di Pajak Johor hingga membunuh Jamaluddin pada Jumat (29/11/2019) dini hari.

Namun, ada perubahan rencana karena ada memar di wajah Jamaluddin. Jasad Jamaluddin kemudian dibuang dengan menggunakan mobil ke kebun sawit di Desa Suka Dame, Kultalimbaru, Deli Serdang.

Atas perbuatannya, Zuraida didakwa melanggar Pasal 340 atau 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1,2 KUHP. Sementara, Jefri dan Reza dijerat dengan pasal yang sama meski didakwa dalam berkas berbeda.

Komentar

Loading...