Unduh Aplikasi

Isu Pemukulan Kadis Syariat Islam, Keuchik: Kita Serahkan kepada Kepolisian

Isu Pemukulan Kadis Syariat Islam, Keuchik: Kita Serahkan kepada Kepolisian
Ilustrasi.
LANGSA - Keuchik Karang Anyar, Ahmad Tukiran, menegaskan tidak ada pemukulan Kepala Dinas Syariat Islam Langsa Ibrahim Latif di masjid  kampung itu. Jumat lalu, sempat terjadi keributan di halaman Masjid Baburrahmah, namun itu bukan pemukulan.

"Tidak ada pemukulan Kadis Syariat Islam usai menyampaikan khutbah Jumat,” kata Ahmad Tukiran, kemarin malam.

Pernyataan ini disampaikan di hadapan Imam Gampong Abdullah Misman, Ketua Tuha Peut Suprayetno, Ketua BKM Ngatiman, di balai desa Karang Anyar

Ahmad Tukiran menegaskan anggota Tuha Peut Karang Anyar, Hariono, yang saat itu percis berada bersama Ibrahim Latif, juga menegaskan tidak ada aksi pemukulan oleh Ahmad Tukiran.

Kejadian ini, menurut Ahmad Tukiran, berawal saat Ibrahim Latif ingin menemui Haji Aswin, yang merupakan temannya usai salat Jumat di masjid itu. Ibrahim mengajak Hariono. Mereka pun berjalan menuju Aswin yang salat di atas kursi roda, di samping pintu sebelah kanan masjid.

Tak lama, seseorang bernama Jalaluddin, usai salat sunat, menunjuk Ibrahim dari jauh dan berujar, “berani juga kau ke Masjid Jarang Anyar.” Ibrahim tak membalas tudingan itu. Dia hanya tersenyum.

Jalaluddin merasa tersinggung dengan pernyataan Ibrahim terkait acara organ tunggal di desa itu yang dinilainya mencemari nama desa mereka. Lalu Jalaluddin mendekati Ibrahim yang masih duduk bersila di masjid.

Dengan tangan kanannya, dia menunjuk Ibrahim sambil mengancam, “ini terakhir kalinya kau memijakkan kaki di masjid ini.”

Menanggapi Jalaluddin, Ibrahim bangkit dari duduknya. Saat itulah telunjuk Jalaluddin mengenai pipi kiri Ibrahim. Ibrahim menatap Jalaluddin dan berkata dengan suara meninggi, “ini bukan masjid kau.”

Melihat keduanya emosi, Hariono didampingi Imam Gampong, merangkul Jalaluddin dan mengajaknya keluar dari masjid. Setelah kejadian itu, Hariono memanggil Ketua BKM masjid dan Kepala Urusan Sosial, Senen, yang saat itu masih berada di masjid.

Di hadapan Haji Aswin, Ibrahim mengatakan kejadian tadi tidak bukan hal serius. Karena masalah ini dianggap selesai tuntas, “mereka pun bubar,” kata Tukiran.

Setengah jam kemudian, Tukiran menerima pesan singkat dari telepon genggam berisi ancaman. “Apabila yang bersangkutan dalam waktu dua jam, terhitung dari sekarang, tidak meminta maaf kepada saya, maka kasus tersebut akan saya perpanjang dan akan dipublikasikan ke media massa,” ujar Ibrahim.

Isi pesan singkat itu ditindaklanjuti serius oleh aparat desa. Mereka menemui Jalaluddin. Di rumah tersebut, di saat bersamaan, terlihat petugas Wilayatul Hisbah Langsa.

Pihak-pihak yang bersengketa sepakat untuk menindaklanjuti hal ini usai Magrib. Jalaluddin dan perangkat gampong meminta maaf kepada perwakilan Ibrahim, yang diwakili perwakilan dari Dinas Syariat Islam.

“Jadi, tidak ada persekongkolan aparat gampong, sebagai mana diberitakan media massa. Jangan sampai menjadi fitnah dan dipolitisir. Kita sesama umat muslim saling menjaga kata-kata dan bahasa yang santun dan benar," kata Tukiran.

Tukiran juga meminta masyarakat untuk tidak terpancing dengan isu yang berkembang. Persoalan ini, kata dia, ditangani aparat kepolisian. “Jadi kita tunggu proses hukum yang sedang berlangsung," harap Tukiran.

Komentar

Loading...