Unduh Aplikasi

Islam sebagai Ideologi Kerajaan Lamuri pada Abad ke-15 Masehi

Islam sebagai Ideologi Kerajaan Lamuri pada Abad ke-15 Masehi
Arkeolog asal Aceh dan Malaysia melakukan penelitian terhadap sejumlah batu nisan yang berada di dilokasi Kerajaan Lamuri, di kawasan perbukitan Kreung Raya, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya , Kabupaten Aceh Besar. Selasa (13/03/18). Menurut eskripsi bahasa arab yang berada dibatu nisan itu merupakan makam Malek Zailal Abidin dan Malek Jawaluddin yang diduga sebagai pejabat kerajaan Lamuri 144 Masehi, abad ke 15. Selasa (13/03/18).(KOMPAS.com/RAJA UMAR)

Oleh: Ambo Asse Ajis

Lamuri adalah nama tempat yang telah diidentifikasi para ahli yang merupakan sebuah negeri tepat di ujung barat pulau Sumatera. Yaitu, negeri yang lebih awal hadir dari Kerajaan Aceh Darussalam (1507). Tetapi, sebelum nama Lamuri menjadi populer di kenal para ahli masa lampau, bukti catatan para pelancong (pedagang) yang melintasi Selat Malaka pada abad ke-10 Masehi, memastikan bahwa lokasi persis tempat Lamuri saat ini juga punya nama lain yang jauh lebih awal atau lebih kuno lagi.

Nama pertama yang di catat tersebut adalah Rami (sumber dari catatan pelancong bernama Ibnu Khordbh pada abad ke-9 M atau sekitar Tahun 800an Masehi). Nama keduanya adalah Ramin atau Ramni (sumber dari catatan pelancong bernama Abu Zaid Hasan pada tahun 916 Masehi atau abad ke-10 M; demikian juga pelacong bernama Masudi pada tahun 943 Masehi atau abad ke-10 M).

Nama ketiganya adalah Ilamuridecam (sumber dari Prasasti Tanjore tahun 1030 Masehi atau abad ke-11 M). Nama keempatnya adalah Lan-Wu-li (sumber dari catatan geograper Cina bernama Chau Yu Kwa yang menulis buku berjudul Chen-Fan-Che tahun 1225 Masehi atau awal abad ke-13 Masehi; demikian juga geograper Cina lainnya bernama Chau-Ju-Kua tahun 1278 Masehi). Nama kelimanya adalah Lambri (sumber dari Marcopolo tahun 1291 Masehi).

Di hal yang lain, saya sendiri belum menemukan referensi penyebutan nama Lamuri terkait asal usul penamaannya. Dalam artian, saya belum menemukan penyebutan tegas sumber rujukan yang menyebut ada nama kerajaan Lamuri. Selain penemuan benda berbentuk Cap yang ditemukan pada Tahun 2014 lalu (lihat: http://misykah.com/benda-aneh-bertulis-lamuri-ditemukan-di-lamreh-aceh-besar/). Adapun temuan ini sendiri belum dikonfirmasi oleh peneliti dan perlu tindaklanjut penelitiannya. Dan, untuk memudahkan persamaan persepsi, saya tetap menggunakan nama Lamuri atas objek dan subjek yang sedang di bahas ini.

Nisan Tipe Plak Plin bukti ideologi Islam Kerajaan Lamuri abad ke-15 Masehi

Meskipun lokasi Lamuri telah didatangi pelancong (pedagang) Islam yang langsung dari tanah Arab (Ibnu Khordbh tahun 858 Masehi atau abad ke-9 M; Abu Zaid Hasan pada tahun 916 Masehi atau abad ke-10 M; Masudi pada tahun 943 Masehi atau abad ke-10 M), bukti arkeologis dan sejarah menunjukan bahwa negeri ini belumlah Islam hingga akhir abad ke-13 Masehi sebagaimana catatan Marcopolo (Tahun 1291 Masehi).

Namun demikian, bukti di atas menegaskan dengan sangat jelas bahwa ada kehadiran orang Islam dan amat sangat integral dalam kehidupan ekonomi di negeri ini disebabkan aktifnya hubungan dagang dengan negeri Arab sejak abad ke-9 Masehi. Dan, potensi orang Islam bermukim sejak abad ke-8 Masehi hingga abad ke-13 Masehi tentu saja besar sekali terjadi di Lamuri.

Dengan demikian, sejak kapan Islam kokoh menjadi ideologi kerajaan Lamuri? Saya dapat menyampaikan bahwa fakta arkeologis saat ini menunjukan Islam sebagai ideologi (mabda) di Lamuri baru terjadi pada abad ke-15 Masehi yang dibuktikan secara arkeologis. Tinggalan nisan-nisan kuno khas Kerajaan Lamuri yang disebut tipe plak plin menjelaskan hal tersebut. Selain itu, catatan tertulis utusan Kerajaan Lan-Bu-Li (Lan-Wu-Li) ke Cina terjadi pada Tahun 1412 Masehi.

Bukti arkeologis tentang keberadaan makam tertua tipe Plak Plin telah di dokumentasi dengan baik oleh Husaini Ibrahim (Universitas Syaih Kuala), Saryulis Saryulis (Universitas Sains Malaysia) dan Saidin Mukhtar (Universitas Sains Malaysia) dalam makalahnya yang berjudul Kajian Epigrafi Pada Batu Nisan Islam di Tapak Lamreh Dan Kaitannya Dengan Kerajaan Lamuri (2018). Demikian juga pekerjaan luar biasa dari Masyarakat Pecinta sejarah Aceh (MAPESA) dan Central Informasi of Samudera Pasai Heritage (CISAH) yang telah mendokumentasi bacaan epitaf pada nisan-nisan tipe Plak Pling di Aceh Besar, telah amat berjasa dalam memperluas bahan kajian tentang kuatnya Islam di abad ke-15 Masehi di Lamuri (lihat Website MAPESA dan CISAH).

Nisan plak plin tertua yang masih ada saat ini dengan angka tahun antara lain:
1. Nisan makam Amir Qura Khudaijah (?) (Wafat 816 H/1414 M)
2. Nisan makam Malik Alawuddin (Wafat 822 H/1419 M);
3. Nisan makam Malik Syamsuddin (Wafat 822 H/1419 M)
4. Nisan makam Sultan Muhammad bin Alawuddin (Wafat 834 H/1431M);
5. Nisan makam Malik Nizar bin Zaid (?) (Wafat 837H/ 1434 M);
6. Nisan makam Malik Jawaduddin (Wafat 842 H/1439 M)
7. Nisan makam Malik Zainal ‘Abidin (Wafat 845 H/1442 M?)
8. Nisan makam Malik Muhammad Syah (Wafat 848/1444 M)
9. Nisan makam Malik Zaid (?) (Wafat 840 H/1437 M?)
10. Nisan makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Isma’il (Wafat 852 H/1449 M) dan
11. Nisan makam Sultan Muhammad Syah (Wafat 908H/1503 M).

Bukti lainnya berupa bukti catatan tertulis dari Cina (Dinasti Yuan, berkuasa dari Tahun 1368-1644 Masehi) mencatat bahwa pada tahun 1412 ada utusan dari Raja Lam-Bu-Li (Baca: Lamuri) yang raja tersebut Maha-Ma-Shah (Baca: Muhammad Syah/tokoh yang diduga meninggal tahun 1503 M) telah mengirim utusan delegasi ke Cina membawa bingkisan/hadiah persahabatan secara teratur dan di antara utusan tersebut ada yang bernama Sha-Che-Han (Syah Johan). Keterangan tertulis ini merupakan keterangan tertua yang menyangkut keberadaan duta dari Kerajaan Lamuri.

Kesimpulan

Sampai saat ini, kebenaran bukti arkeologis berupa nisan kuno tipe plak pling abad ke-15 Masehi di atas, tidak diperdebatkan eksistensi sampai hari ini. Tetapi berbeda dengan bacaan epitaf nisan kuno yang usianya di anggap lebih tua, sampai hari ini masih diperdebatkan sebagai akibat perbedaan cara baca dan hasil penerjamahannya.

Misalnya, bacaan Suprayitno (2011) terhadap nisan tanpa nama di Benteng Kuta Lubok di baca angka kematiannya tahun 1007 M (awal abad ke-11 M) sebagaimana isi tulisannya “Evidence of the Beginning of Islam in Sumatera: Study on the Acehnese Tombstone”. Tetapi pihak lain membacanya justru lebih muda usianya. Demikian juga bukti pendukung lainnya seperti nisan lain abad ke-11 Masehi ataupun catatan dari negara tetangga lainnya sama sekali tidak ditemukan yang sejaman dengannya sehingga klaim tersebut patut diragukan.

Begitu juga kesimpulan Suwedi Montana (1997:87) dan Repelita (2008) yang menyebutkan adanya nisan tipe plak pling dengan nama Sultan Sulaiman bin al-Basyir bin Abdullah di areal Benteng Kuta Lubok yang mangkat pada tahun 1211 Masehi (awal abad ke-13 M) sebagai penanda Lamuri adalah kerajaan Islam sama sekali tidak di dukung bukti keberadaan nisan itu sendri saat ini (tetapi barangkali nisan ini telah hilang akibat Tsunami 2004 lalu). Meski begitu, bukti arkeologis pendukung kehidupan lainnya maupun catatan dari pelancong atau catatan ke-negara-an lain yang sejaman saat itu tidak menunjukan ada kehidupan Kerajaan Islam masa itu.

Hal yang berbeda dengan data arkeologis dan catatan sejarah dari Cina yang secara jelas menyebutkan bahwa pemerintahan Islam telah eksis pada awal abad ke-15 Masehi sejak berkuasanya Sultan Muhammad bin Alawuddin yang wafat Tahun 834 Hijriah atau tahun 1431 Masehi.

Adapun masa sebelum abad ke-15 Masehi, di yakini pemerintahan ketika itu model kerajaan Hindu dengan penduduk yang umumnya hidup dengan berdagang sebagaimana catatan para pelancong dari abad ke-9 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi di atas.

Anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Aceh-Sumatera Utara

iPustakaAceh

Komentar

Loading...