Unduh Aplikasi

Islam Itu Rahmat, Bukan Laknat

Islam Itu Rahmat, Bukan Laknat
ilustrasi.

TINDAKAN sekelompok orang yang merusak dan membakar bangunan di lokasi pendirian Masjid Taqwa Muhammadiyah, di Samalanga, Bireuen, benar-benar memalukan. Tindakan mereka jelas tak bisa ditolerir. Ini sangat merendahkan harga diri masyarakat Islam. Dan ini juga merendahkan derajat para perusak yang mengklaim diri sebagai gerakan Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

Masjid ini dibangun dengan mengikuti aturan perizinan yang berlaku di Aceh. Sehingga panitia pendirian masjid mendapatkan izin mendirikan masjid. Bahkan petugas dari Kantor Kementerian Agama Bireuen juga terlibat dalam proses penentuan arah kiblat, sesuai dengan ajaran Islam.

Muhammadiyah sendiri adalah salah satu organisasi massa Islam yang memiliki sejarah panjang di negeri ini. Ini bukan organisasi terlarang seperti Ahmadiyah, yang jelas-jelas menerapkan ibadah dan akidah melenceng dari Islam. Jadi, tak ada alasan bagi siapapun di negeri ini menuding bahwa praktik ibadah yang dijalankan melenceng dari ajaran Ahlusunnah wal Jamaah.

Namun ternyata, keberadaan Muhammadiyah dijadikan ancaman. Rencana pembangunan masjid ini ditolak. Sekelompok orang menghalangi kedatangan Profesor Din Syamsuddin untuk meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini. Padahal Din Syamsuddin adalah pemikir Islam modern. Dia menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia sebelum digantikan oleh KH Makruf Amin, yang menjabat saat ini.

Kedangkalan berpikir dan klaim bahwa diri merasa paling benar dalam menjalankan Islam adalah jebakan yang sering dihadapi oleh setiap muslim. Entah yang berpendidikan atau saat beramai-ramai dengan kelompoknya. Kelompok atau muslim model ini sangat anti dengan toleransi dan keberagaman yang menjadi warna dalam Islam. Mereka dengan mudah mengafirkan kelompok yang tak sependapat dengan mereka.

Para pembakar dan “promotornya” lupa bahwa umat Islam itu harus seperti lebah; hanya memberikan terbaik: madu. Lebah tak pernah membuat patah cabang pohon atau bunga yang dihinggapi. Namun menolak dianiaya saat berhadapan dengan kezaliman. Dan Islam itu satu; seperti badan. Saat satu anggota tubuh merasakan sakit, maka yang lain juga ikut merasakan.

Karena itu, ulama-ulama di Aceh harus bersikap menghadapi persoalan ini. Bila polisi harus mengusut tuntas pembakaran ini dan menyeret pelakunya ke meja hukum, maka para ulama harus segera bermufakat untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Ulama tak boleh diam saja atau malah memanfaatkan krisis ini demi kepentingan kelompok tertentu. Karena Islam itu harusnya menjadi rahmat bagi semua orang, bukan menjadi laknat yang membinasakan orang-orang di sekitarnya.

Komentar

Loading...