Unduh Aplikasi

Isi Seminar di UIN Ar-Raniry, Steffy Burase Yakin Pariwisata Aceh Go International

Isi Seminar di UIN Ar-Raniry, Steffy Burase Yakin Pariwisata Aceh Go International
Steffy Burase saat menjadi pembicara Seminar Nasional yang berlangsung di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

BANDA ACEH - Setelah melakukan kegiatan sosial seperti mengunjungi Panti Jompo dan anak-anak difabel. Kini, Steffy Burase dipercaya sebagai pemateri dalam Seminar Nasional yang berlangsung di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Kegiatan seminar nasional itu mengangkat tema Narkoba dan Syariat Islam antara Regulasi dan Tragedi, Jumat (11/10) siang. Dalam seminar itu juga tampil sebagai pemateri, ulama Aceh, Tgk H Ahmad Tajuddin atau yang akrab disapa Abi Lampisang.

Dengan mengunakan baju hitam dengan dipadu jilbab berwarna coklat, Steffy Burase menyampaikan berbagai pandangannya terhadap nilai pariwisata Aceh dan barang haram narkoba. 

Dalam diskusi tersebut, Steffy berbicara tentang bagaimana membangun Aceh dari sektor pariwisata yang berbasis syariah tanpa miras dan narkoba.

Seperti diketahui, Steffy memang aktif di dunia pariwisata, khususnya dalam mempromosikan Indonesia ke kancah international. Backgroundnya adalah event concepteur, branding dan promotion, event organizer serta production house.

Dirinya juga sudah membuat cukup banyak iklan pariwisata untuk mancanegara tentang pengembangan dan promosi pariwisata ke international. 

"Karenanya saya sangat tertarik tentang perkembangan pariwisata di Aceh yang merupakan tantangan terbesar bagi saya. Saya yakin bukan hanya saya, tapi hampir semua merasakan hal serupa," kata Steffy Burase kepada AJNN, Sabtu (12/10). 

Steffy menyampaikan, dengan pesatnya wisata halal di kancah international, seharusnya menjadi peluang besar bagi Aceh untuk mengembangkan pariwisata syariah. 

Menurut Steffy, ketika berbicara tentang wisata halal maka artinya  pembahasannya adalah lokasi wisata yang moslem friendly, dimana negara-negara mayoritas non muslim sudah memiliki fasilitas untuk wisatawan muslim mancanegara, punya tempat ibadah dan lain sebagainya.

Sementara pariwisata syariah berbeda lagi, kata Steffy, wisata halal itu cukup ramah terhadap wisatawan muslim, sedangkan wisata syariah adalah wisata yang siapapun wajib mematuhi dan mengikuti semua aturan dalam islam. 

"Nah, selama saya mengenal Aceh sejak dua tahun terakhir ini, yang saya sadari adalah tidak mudah bagi pendatang-pendatang khususnya non muslim untuk berani datang kesini," tuturnya. 

Steffy melihat, tantangan terbesar Aceh itu adalah bagaimana bisa meyakinkan mancanegara kalau Aceh tetap welcome terhadap perbedaan meskipun berbasis syariah.

"Itu lah yang sebenarnya ingin saya bahas bersama adik-adik mahasiswa. Yang mungkin dilihat sebagai kekurangan, justru bisa menjadi kelebihan yang luar biasa kalau kita melihat dari sisi yang lain," terang Steffy. 

Steffy menuturkan, wisata muslim sebenarnya bisa meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata yang luar biasa, mengingat jumlah populasi umat islam di dunia ini mencapai dua miliar.

Kemudian, banyaknya makam-makam ulama besar juga sejarah peninggalan nenek moyang di Aceh, dan itu dapat dimasukan dalam daftar tour wisatawan yang wajib dikunjungi saat berada di tanah rencong. 

"Saya pribadi sebenarnya sangat tertantang sejak awal, hanya saja sebelum melangkah terlalu jauh yang harus dilakukan pertama kali adalah edukasi terhadap masyarakat untuk lebih welcome terhadap penduduk asing," ujarnya. 

Steffy memandang, Aceh bisa sangat berkembang dan bahkan go international jika semua pihak kompak dan selalu berpikiran positif. Karena pariwisata Aceh yang begitu indah, namun belum begitu banyak diketahui orang.

"Bagaimana mengenalkan Aceh ke mata dunia, tugas kita sama-sama, saya pribadi bukan sebagai warga Aceh tapi orang yang mencintai negeri ini dan merasa bahwa negeri ini wajib mendapatkan yang layak, terkenal di seluruh dunia akan keindahannya," harap Steffy. 

ADV

Komentar

Loading...