Unduh Aplikasi

Insiden 150

Insiden 150
Ilustrasi: deposithphoto.

PEMADAN aliran listrik ke gardu Pelabuhan Balohan Sabang benar-benar memalukan. Apalagi perkaranya hanya karena Badan Pengusahaan Kawasan Sabang menunggak pembayaran aliran listrik. 

Pejabat PLN menyebut BPKS menunggak pembayaran iuran listrik selama empat bulan. Total utang BPKS tak banyak. Hanya Rp 150 juta. Bahkan setelah diberikan surat peringatan oleh PLN, BPKS tak mampu membayar tagihan itu. 

Jika memang pejabat BPKS mengatakan bahwa mereka punya mesin pembangkit listrik sendiri, dan listrik dari PLN tidak bermanfaat bagi aktivitas pelabuhan, itu sah-sah saja. 

Sama seperti saat pejabat itu menyebut mereka hanya mengandalkan listrik tenaga diesel untuk operasional pelabuhan. Menggunakan listrik PLN, sama saja dengan pemborosan karena di saat yang sama mereka juga membeli solar untuk menyalakan generator listrik itu. 

Namun utang tetap utang. Seberapa lihai pun si pejabat berkilah, utang itu tidak akan terhapus. Di sisi lain, preseden ini menunjukkan bahwa BPKS tidak cakap dalam mengurus keuangan. 

Seharusnya, sejak awal, manajemen dapat memutuskan untuk menggunakan listrik dari PLN atau terus menerus membeli solar untuk menyalakan generator listrik. Sehingga, tidak ada anggaran yang tidak tepat sasaran. 

Efisiensi adalah kunci dalam mengelola bisnis. Dan kejadian ini membuktikan bahwa dalam urusan ini, manajemen tak cukup cakap mengendalikan anggaran. 

Komentar

Loading...