Unduh Aplikasi

INTERMESO

Inovasi Tapi Kaku

Inovasi Tapi Kaku
Ilustrasi: Fotolia

“SULIT, bang...sulit,” aku langsung menyanggah pandangan Bang Awee saat dia mengaku setuju dengan usulan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Orang nomor dua yang kini menjadi nomor satu di Pemerintah Aceh itu menyebut perguruan tinggi sebagai ujung tombak pembangunan Aceh.

Bukan hanya Nova atau Bang Awee. Ratusan masyarakat Aceh berharap peran perguruan tinggi untuk membangun Aceh. Apalagi saat ini, perguruan tinggi di Aceh banyak melakukan kerja sama. Baik dengan lembaga atau dengan sesama perguruan tinggi.

“Abang lihat saja becak motor. Jika orang-orang di perguruan tinggi di Aceh mau meluangkan sedikit ilmu mereka, becak-becak di Aceh saat ini harusnya lebih aman untuk dikendarai. Karena bukan sekadar gerobak yang disangkutkan dengan motor,” aku berujar.

Menurutku, becak-becak saat ini sangat tidak nyaman dan aman untuk dikendarai. Memang nyawa itu ada di tangan Tuhan. Tapi seharusnya perguruan tinggi berperan untuk meningkatkan standar keamanan becak yang ada,

Misalnya dengan mendisain cakram rem di roda ketiga becak merupakan bagian terpisah dari sepeda motor. “Jangankan mau buat becak bertenaga listrik. Merancang sistem pengeraman yang layak untuk sebuah becak saja pun tak pernah terdengar. Padahal, kendaraan ini masih banyak digunakan,” aku terus menyerocos.

“Cukup..cukup...” kata Bang Awee. “Kau ini mengkritik atas dasar kompetensi apa? Pendidikan kau apa? Kalau cuma berkhayal, itu anak kecil pun bisa. Untuk menciptakan sebuah produk, kau harus melakukan riset yang terus menerus. Uji coba terus menerus. Sehingga hasilnya benar-benar bisa digunakan,” kata Bang Awee.

Bang Awee juga menyebut untuk sebuah riset diperlukan banyak biaya. Itu yang jarang tersedia. Hanya ada riset-riset tertentu dana itu tersedia. Itupun dengan berbagai persyaratan yang memusingkan kepala. Malam itu, gaya Bang Awee persis banyak orang kampus yang kukenal. Kaku dan sangat birokratis. 

“Bang, harusnya sebuah proses itu dimulai dari hal yang sederhana. Jangan langsung ingin menciptakan pesawat. Buatlah produk-produk kecil yang bermanfaat bagi masyarakat. Itulah yang membedakan antara seorang pengkhayal dan inovator,” kataku sambil melangkah meninggalkan Bang Awee, di sebuah warung kopi di Lampu Merah Batoh, Banda Aceh.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...