In Memorian Prof Farid Wajdi

<i>In Memorian</i> Prof Farid Wajdi
Foto: Ist

Oleh: Saifuddin Bantasyam

Kehilangan yang mendalam dirasakan oleh banyak orang sehubungan dengan meninggalnya Prof Dr H Farid Wajdi, MA (Ketua Majelis Adat Aceh) dan Rektor UIN Ar-Raniry 2014-2018 pada Sabtu 14 Agustus 2021.

Kepergian beliau seperti sangat mendadak, belum sampai dua hari dalam perawatan di RSUD Meuraksa, Banda Aceh.  Tak pelak, hal ini menimbulkan rasa kaget dan kesedihan yang tak terlukiskan. 

Dalam berita yang dipublikasi oleh beberapa media, ada satu hal yg menarik perhatian saya, yaitu bahwa Prof. Farid dikenang sebagai pendakwah yang bersuara sangat lantang, bernada tinggi, baik saat menjadi khatib maupun saat memberi ceramah agama dalam berbagai forum.

Namun, beliau tidak hanya lantang dalam mengkritik, melainkan juga sangat berani sehingga kadang memunculkan kekhawatiran akan terjadi hal-hal yang tidak baik kepada beliau.

Sedemikian berani dan lugasnya beliau, sehingga ada yang mengatakan bahwa beliau tak akan tergantikan. Tak akan ada lagi sosok intelektual cendiakawan di Aceh yang menyerupai beliau dalam berdakwah. 

Beliau tahu tentang suara lantang itu. Buktinya, setelah menyampaikan pesan dengan cara yang sangat keras, beliau kemudian menurunkan volume suaranya, walaupun kadang-kadang suara itu naik lagi. Intinya adalah ada kesadaran dalam diri beliau tentang suara dengan nada tinggi itu dan kemudian memperbaikinya agar yang mendengar menjadi nyaman.

Saya memiliki kenangan terhadap Prof. Farid. Saya lupa tahun berapa, suatu hari saya dan beberapa kawan menemui Prof Farid di ruang kerja beliau sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry saat itu.

Tujuan kami bertemu adalah untuk menyampaikan undangan kepada beliau menghadiri suatu acara, sekaligus memohon dukungan agar IAIN bersedia menjadi tuan rumah serangkai konferensi internasional yang diselenggarakan oleh ICAIOS. 

Setelah selesai pertemuan yang sedikit formal, kami kemudian berbincang-bincang santai.  Beliau mengawali bincang santai itu dengan mengatakan bahwa dirinya betul-betul 100% merah putih, “sementara, awak droeu neuh (kami semua 7 orang yang hadir dalam pertemuan itu) belum tentu sudah betul-betul merah putih” kata beliau diiringi tawa kami bersama.

“Bapak-bapak tahu bahwa saya itu karena keras sekali melakukan kritik-kritik, sering dikaitkan dengan GAM, atau dituduh berkawan dengan GAM. Tidak nasionalis. Tidak NKRI.  Lalu saat saya akhirnya diundang sebagai khatib Idul Fitrii di Istiqlal, maka semua sangkaan kepada saya itu terbantahkan” jelas Prof. Farid.  

Mengapa tak terbantahkan? Hal itu, kata beliau, terjadai saat mendapat undangan sebagai khatib ke Istiqlal, Jakarta, yang dihadiri oleh presiden dan wakil presiden.  

“Segala hal mengenai pribadi saya diperiksa oleh pihak intelijen, sampai kepada kakek nenek saya, keluarga saya, organisasi apa saja yang saya masuk, pokoknya semuanya tanpa tinggal sedikit pun, lat batat kayei batei” terang beliau.

Hasil pemeriksaan, semuanya oke, tak ada masalah. “Maka saya pun disetujui sebagai khatib di Istiqlal. Lon tuan betul-betul merah putih” kata beliau menutup bab merah putih itu. Kami sangat antusias mendengar pengalaman beliau itu.

Lalu, setelah itu  tiba-tiba beliau bilang kurang lebih seperti  ini. “Saya tahu banyak yang mengkritik saya saat berkhutbah atau berceramah, dakwah. Mereka bilang saya ini kreuh that (keras sekali) dalam bicara. Jangan-jangan di Istiqlal juga begitu. Mungkin Pak Saifuddin dengar itu ya beberapa kali (beliau sambil melihat ke saya, saya kaget juga sedikit karena tiba-tiba beliau sebut saya, mungkin beliau berasumsi saya salah satu pengkritik beliau, wallahu’alambisawab).” Kami semua tersenyum mendengar itu.

“Untuk beu awak droeu neuh tupue (agar Anda semua tahu), gaya saya yang nada keras atau lantang itu sebenarnya sudah saya lembutkan. Jika berbagai ayat Al-quran atau hadis yang saya baca itu saya terjemahkan apa adanya, apalagi jika saya terjemahkan ke dalam bahasa Aceh, maka dakwah saya bisa lebih keras dari yang disebut sudah keras saat ini.”

Lalu, beliau pun memberi contoh dengan membaca satu ayat.


“Kalau saya terjemahkan ke dalam bahasa Aceh, maka bunyinya adalah ……” beliau lalu menerjemahkan ke dlm bahasa Aceh. “Nah, betulkan, lebih keras, sangat keras? Cuma ya saya tak mau seperti itu. Lagei yang ka na mantonglah (seperti yg sudah ada sajalah). Namun, disebut keras dan lantang, sebenarnya tidak. Sudah saya lembutkan!” kata beliau. 

Sungguh sebuah pertemuan yang sangat bermakna bagi kami. Beliau sangat akrab, memperlakukan kami seperti sahabat-sahabatnya, tak terlihat berjarak.  

Saya mendengar, karakter Prof. Farid memang demikian, mudah bergaul dan suka bercengkrama, beramah tamah dengan berbagai kalangan. Itu sebabnya, beliau selalu menerima penghormatan dari banyak orang. Jadwal sebagai khatib untuk beliau bahkan sudah penuh sampai tahun 2024. Masya Allah. 

The news that he passed away storm the heart of many. Berita tentang kepergian beliau teramat sangat mengejutkan siapa pun yang pernah mengenal beliau. Bagi yang belum mengenal, mungkin mencoba mencari tahu, siapa gerangan sosok yang kepergiannya disampaikan secara luas di media massa, yang kepergiannya dishalati oleh ratusan, bahkan ada yang menyebut seribu lebih, jamaah, yang kepergiaannya dilepas dengan tangis dan haru teramat dalam.

Seperti apa kita ingin dikenang ketika kita pergi menghadap Ilabi Rabbi? Ada yang dikenang secara buruk karena berbagai perilaku atau perbuatan. Juga ada yang dikenang dengan baik tiada henti. Kita semua bisa memilihnya.

Saya dan juga ribuan yang lainnya bersaksi, Insya Allah, Prof. Farid pergi dalam keadaan dikenang dengan teramat sangat baik tentang intelektualitasnya, keluasan ilmu agamanya, kebersahajaan dalam berperilaku, dan keramahan dalam berinteraksi.

Semoga juga Allah SWT menerima seluruh ibadah dan amal Prof. Farid, mengampuni dosa-dosanya  serta dapat hendaknya dipertemukan kembali dengan keluarganya kelak, sama-sama di surga jannah. Gone from our sight, but never from our heart. Selamat jalan Prof. 

Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini