Unduh Aplikasi

Imsak dan Takjil

Imsak dan Takjil
ilustrasi
DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia, imsak diartikan sebagai saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum; berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai datang waktu berbuka.

Dalam kalender imsakiyah, waktu menahan ini disahkan 10 menit sebelum azan subuh disuarakan. Di Aceh, ini ditandai dengan suara sirene. Namun tak sedikit pihak yang memahami bahwa waktu imsak sebenarnya adalah saat azan Subuh berkumandang.

Jika dilihat dari asal bahasa, penggunaan kata-kata imsak lebih tepat jika diganti dengan kata berjaga-jaga. Sehingga saat azan Subuh berkumandang, waktu imsak sebenarnya, tak ada lagi umat muslim yang “bergelut” dengan hidangan. Masing-masing bersiap-siap untuk melaksanakan salat Subuh.

Lantas bagaimana dengan takjil? Kata ini juga mengalami degradasi makna yang sangat tajam. Saat ini, takjil diartikan sebagai makanan berbuka puasa. Di hotel-hotel, di tempat-tempat penjual makanan, kata-kata ini dipakai untuk menggantikan kata-kata hidangan berbuka puasa.

Padahal dalam Kamus Bahasa Indonesia, takjil berarti mempercepat berbuka puasa. Ini adalah kata kerja, bukan kata benda. Di Arab, berbuka puasa disebut sebagai ifthar. Bahkan dalam doa berbuka puasa, disebutkan Allahumma laka sumtu, wa bika aamantu, wa ala rizkika aftartu. Aftartu berarti "aku makan malam". Karena memang, waktu berbuka bersamaan dengan datangnya malam hari.

Kesalahan-kesalahan ini sebenarnya menggambarkan betapa kaum muslimin sering tidak memahami kata-kata yang mereka ucapkan. Sehingga tak mengherankan jika banyak orang bertindak tanpa mengetahui dasarnya perbuatannya. Hanya sekadar ikut-ikutan, biar dianggap gaul dan kekinian.

Salah satu yang paling fatal adalah kebiasaan mengunggah foto makanan untuk berbuka puasa di media sosial. Memamerkan deretan minuman dan makanan yang disebut mereka sebut “takjil”. Alih-alih bersyukur karena mendapatkan nikmat berbuka puasa, malah mengumbar kesombongan dan memancing rasa iri. Apalagi di saat yang bersamaan, banyak dari saudara-saudara mereka yang masih merasakan lapar meski waktu berbuka puasa telah tiba.

Berpuasa pun hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Tidak memahami esensi berempati, terutama kepada orang-orang yang tidak mampu membeli ifthar semeriah dan sebanyak orang-orang yang memamerkan sajian ifthar mereka. Atau jangan-jangan, kaum muslim di Indonesia juga tak memahami makna berpuasa di bulan Ramadan. Alahmak!
Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...