Unduh Aplikasi

Ikan dan Bawang Merah Sumbang Inflasi di Lhokseumawe

Ikan dan Bawang Merah Sumbang Inflasi di Lhokseumawe
Ilustrasi inflasi. Foto: Shutterstock

LHOKSEUMAWE – Sejumlah jenis ikan dan bawang merah menjadi penyumbang Inflasi di Kota Lhokseumawe pada Maret 2020. Hal tersebut berdasarkan data yang dihimpun Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Lhokseumawe.

Lima komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi di Lhokseumawe yakni ikan tongkol (andil: 0,30 persen), ikan dencis (0,16 persen), cumi-cumi (0,08 persen), ikan teri (0,04 persen) dan bawang merah (0,04 persen).

“Kenaikan harga ikan laut disebabkan terbatasnya pasokan, akibat kondisi angin dan pasang purnama sehingga gelombang laut cenderung tinggi,” kata Kepala KPw-BI Lhokseumawe, Yukon Afrinaldo, Selasa (6/4).

Sementara itu, sambung Yukon, terbatasnya pasokan baik dari lokal maupun luar daerah mendorong kenaikan harga bawang merah. Sementara kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan mengikuti harga emas dunia.

Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 April 2020, Inflasi Kota Lhokseumawe, Maret 2020 tercatat sebesar 0,64 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Februari 2020 sebesar 0,49 persen (mtm).

Apabila dilihat periode 3 tahun kebelakang, pada Maret selalu mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum yaitu dengan rincian, (-) 0,45 persen pada Maret 2019, (-) 0,25 persen pada Maret 2018 dan (-) 1,40 persen pada Maret 2017.

“Inflasi Kota Lhokseumawe juga lebih tinggi dari Kota Banda Aceh (0,60 persen mtm) dan Meulaboh (0,52 persen mtm). Secara agregat, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,60 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,44 persen (mtm) serta lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 0,10 persen (mtm),” jelasnya.

Baca: Dampak Covid-19, Perputaran Uang di BI Lhokseumawe Melambat

Namun demikian, sambung Yukon, secara tahunan inflasi Kota Lhokseumawe Maret 2020 sebesar 3,36% (y o y), masih berada pada kisaran sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0 persen ± 1persen (y o y).

“Inflasi Kota Lhokseumawe bulan Maret 2020 terutama bersumber dari kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan sumbangan sebesar 0,45 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,11 persen,” ungkapnya.

Di sisi lain, tambah Yukon, terdapat komoditas yang memberikan andil penurunan harga (deflasi) yaitu udang basah sebesar (-) 0,07 persen, beras (-) 0,06 persen, minyak goreng (-) 0,05 persen, cabai merah (-) 0,02 persen, dan jeruk nipis (-) 0,01 persen.

Penurunan harga beras tersebut seiring dengan masuknya periode panen di beberapa sentra produksi. Sementara harga minyak goreng dan bawang putih mulai menurun, karena permintaan yang menurun sehubungan dengan pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah.

Selanjutnya harga cabai merah mengalami penurunan karena adanya tambahan pasokan dari panen lokal Aceh antara lain di Ketol Aceh Tengah.

“Ke depan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2020, yaitu 3,0 ± 1 persen. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga,” imbuhnya.

Komentar

Loading...