Unduh Aplikasi

Ijtihad USK Membangun Peradaban

Ijtihad USK Membangun Peradaban
Ilustrasi: Quanta.

Universitas Syiah Kuala menjadi satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dana hibah riset Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Jumlah dana yang diterima USK hanya di bawah Universitas Brawijaya sebesar dan Universitas Andalas. 

Dana riset yang diterima USK mencapai Rp 9,8 miliar. Uang ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi lewat penelitian yang dapat membantu mengentaskan berbagai persoalan dalam masyarakat serta mendorong pembangunan nasional.  

Di era digital saat ini, inovasi memegang peran penting dalam kehidupan sosial. Keberadaannya dibutuhkan untuk menjawab tantang global yang semakin kuat. Semua orang bisa saja punya ide. Namun untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah produk yang berguna bagi banyak orang, itu masalah lain lagi. 

Untuk mendorong inovasi, sangat dibutuhkan penelitian. Dan produk-produk yang keluar dari hasil penelitian dari USK harus mampu bersaing dengan produk-produk yang diciptakan oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki cengkeraman bisnis yang mengakar dalam masyarakat kita, disadari atau tidak.

Karena itu, yang harus didorong, selain riset, adalah kemandirian berpikir dan mental yang kuat. Para peneliti harus didorong untuk mampu bersikap merdek dan mau melakukan sesuatu tidak sekadar menghasilkan sesuatu dalam jangka pendek, mereka jangan terkotak-kotak.  

USK, sebagai kampus terkemuka, harus berani menanam sesuatu yang mungkin hasilnya baru dapat dinikmati bertahun-tahun kemudian. USK, dengan sumber daya yang melimpah, harus mampu berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai pada 10 atau 20 tahun ke depan. 

Jangan lagi ada pemikiran pendek yang hanya mengedepankan besok. Selama ini, sudah cukup kita menyaksikan orang-orang yang disibukkan mengurusi hari esok, tanpa berpikir untuk jangka panjang. USK harus bersifat universe; semesta. 

Bangsa ini pernah menjadi bangsa besar. Dan kini, kita malah tertinggal jauh dari bangsa lain akibat sikap tidak mandiri. Dan semua itu disebabkan oleh orang-orang yang hanya berpikir jangka pendek. Sisi kapitalis sudah menutupi watak bangsa yang seharusnya hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. 

Rp 9,8 miliar untuk riset bukan angka yang besar. Namun jika uang itu diniatkan untuk menciptakan sesuatu sebagai wujud kemandirian Aceh dan bangsa ini, mungkin akan ada satu dua hal yang bisa menjadi andalan yang jauh lebih berharga dari uang yang telah dikucurkan itu. 

Sepanjang universitas tidak terkotak-kotak oleh fakultas-fakultas, mungkin akan banyak inovasi yang bisa muncul dari USK. Karena kreativitas, riset dan inovasi adalah ijtihad kita membangun peradaban yang lebih baik lagi.

Komentar

Loading...