Unduh Aplikasi

Idul Fitri Zaman Now

Idul Fitri Zaman Now
Ilustrasi: the indian express.

SETELAH menjalani puasa selama satu bulan penuh, umat muslim di seluruh dunia merayakannya dengan Idul Fitri. Saking pentingnya, Allah SWT mengharamkan muslim untuk berpuasa di hari ini agar dapat merasakan nikmat di hari yang sering disebut-sebut dengan hari kemenangan.

Hari ini juga sering kali ditandai dengan hal-hal yang baru. Pakaian baru, kendaraan baru, telepon genggam baru. Padahal, ini tak ada kaitannya sama sekali dengan Idul Fitri. Tapi karena sudah menjadi budaya, ya sudahlah. Sepanjang itu tidak dilakukan dengan cara berlebihan.

Namun budaya “serba baru” ini sedikit demi sedikit mulai berkurang. Sama seperti berkurangnya kecenderungan mereka terhadap simbol-simbol kesalehan. Generasi kini tak lagi menganggap baju koko atau peci sebagai simbol kesalehan. Berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi yang cenderung menganggap kesalehan dapat diukur dengan pakaian “islami”.

Generasi ini juga berbeda dengan generasi sebelumnya yang terlalu banyak berbicara tentang kesalehan. Generasi yang lebih senang membesar-besarkan kesalehan. Memamerkannya lewat pernyataan dan penampilan. Generasi yang senang melebih-lebihkan segala sesuatu tentang agama, meski tindakannya dan gaya hidupnya jauh berbeda dengan tuntunan agama.

Budaya memamerkan “kesalehan” ini menjadikan generasi muda tak terlalu tertarik dengan urusan ini. Mereka jadi sulit untuk mempercayai bahwa bapak atau kakek mereka, yang sering kali berbicara tentang agama dan berpakaian dengan ala ustaz, malah bertindak keji dengan berlaku korup; sesuatu yang sangat jauh dari tuntunan agama.

Mereka bukan anti terhadap kesalehan. Generasi ini malah mulai mencari akar kesalehan yang bukan sekadar topeng atau pakaian. Mereka mencari kesalehan dengan dorongan diri sendiri untuk belajar dan memahami apa itu kesalehan. Mereka mencoba melawan “kesalehan” yang digembar-gemborkan banyak orang, entah itu politikus atau kapitalis.

Mereka, generasi baru, juga mencoba melawan kesalehan yang hanya ditampakkan lewat penampilan. Mencoba melawan budaya yang hanya menuntut seorang anak untuk mengkhatamkan Alquran ketimbang mengamalkan dan mempertahankan isinya walau satu ayat.

Mungkin pada Idul Fitri kali ini, generasi zaman now akan memahami bahwa Islam bukan sekadar gamis, surban, peci, sajadah, kaligrafi, pandai membaca Alquran atau fasih berceramah dan menghapalkan ayat-ayat Alquran.

Mungkin pula generasi zaman now akan mengajarkan generasi sebelumnya bahwa nilai, akhlak, kepedulian sosial, keteraturan hidup adalah esensi yang diajarkan Islam; sebuah kesalehan sosial.

Dan itu semua dilatih selama sebulan penuh berpuasa Ramadan. Sehingga, Idul Fitri ini benar-benar dirasakan nikmat kemenangan dan perasaan yang rendah. Jauh dari penyakit sombong dan riya.

Bukan pula sekadar menebar foto diri dengan ucapan “Selamat Idul Fitri” yang kosong atau menyalin ucapan selamat dan menyebarkannya ke nomor kontak di telepon genggam. Tanpa makna. Hampa.

Komentar

Loading...