Unduh Aplikasi

Humas RSUCM: Rapid Test Berbayar Tak Berlaku bagi Pasien, Hanya untuk Kepentingan Mandiri

Humas RSUCM: Rapid Test Berbayar Tak Berlaku bagi Pasien, Hanya untuk Kepentingan Mandiri
Foto: Ist

LHOKSEUMAWE – Kepala Bagian Humas Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) mengklarifikasikan soal biaya rapid test di rumah sakit pemerintah tersebut yang dianggap mencekik leher masyarakat.

“Untuk masyarakat yang melakukan tes mandiri atau kepentingan pribadi memang dikenakan tarif, untuk paket I Rp625 ribu dan Paket II Rp855 ribu. Namun jika itu untuk kepentingan pasien tidak dikenakan tarif apapun yaitu gratis,” kata Jalaluddin kepada AJNN.

Baca: Tarif Pemeriksaan Covid-19 di Aceh Utara Dinilai Mencekik Rakyat

Jalaluddin menjelaskan, kepentingan mandiri atau pribadi yang dimaksud yakni, masyarakat yang melakukan tes untuk kepentingan supaya bisa naik pesawat agar bisa keluar daerah. Atau karyawan dari perusahaan yang ingin berpergian daerah lain.

“Kami tegaskan lagi, jika pasien ingin berobat, tidak dikenakan tarif apapun di RSUCM. Jadi masyarakat yang ingin berobat tidak perlu risau, karena tidak dikenakan tarif apapun alias gratis,” ucapnya.

Sambungnya, Rapid Test yang tersedia di RSUCM stoknya hanya untuk pasien yang ingin berobat, bukan untuk kepentingan tes mandiri karena stoknya yang terbatas.

Sebelumnya, PRK Aceh Utara diminta segera memanggil Tim Gugus Tugas Penaggulangan Covid-19 daerah setempat. Pasalnya, rasionalisasi tarif pemeriksaan virus mematikan yang ditetapkan oleh pihak manajemen Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) sangat tinggi.

“Disini kami mempertanyakan penggunaan anggaran APBK Aceh Utara tahun 2020, untuk penanganan Covid-19 setelah dilakukannya refocusing dan realokasi anggaran oleh pemerintah daerah setempat,” kata Koordinator Gerakan Transparansi Dan Keadilan, Muslem Hamidi, Kamis (4/6).

Selain itu, sambung Muslem, yang menjadi perhatian alasan rasionalitas tarif pemeriksaan Covid-19 yang ditetapkan oleh pihak manajemen RSU Cut Meutia. Padahal pemerintah Aceh Utara sudah melakukan realokasi anggaran daerah untuk penanganan virus tersebut.

“Anggaran yang direalokasi itu lantas digunakan untuk apa? Kenapa masyarakat masih harus mengeluarkan biaya saat melakukan pemeriksaan. Kemana anggaran yang direalokasi hingga mencapai puluhan miliar tersebut,” ujarnya.

Komentar

Loading...