Unduh Aplikasi

Hukuman Mati untuk Predator Seksual

Hukuman Mati untuk Predator Seksual
Ilustrasi

KEPOLISIAN bergerak cepat menangkap AB (25). Warga Kecamatan Bukit, Bener Meriah, ini diduga melecehkan secara seksual enam anak di daerahnya. Dia ditangkap di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Penangkapan ini menjaga asa masyarakat terhadap kinerja kepolisian dalam menangkap para predator seksual. Tentu saja publik berharap si pelaku, jika terbukti bersalah, harus dihukum setimpal.

Berbicara soal setimpal, tentu saja kembali lagi kepada hati, baik korban ataupun orang tua mereka. Karena siapapun tak akan rela mendapatkan perlakuan buruk tersebut. Bahkan mungkin si predator.

Karenanya, berbekal Undang-Undang Pemerintah Aceh, perlu terobosan hukum yang benar-benar berefek dan membuat orang yang berniat mencabuli seseorang, terutama anak-anak, berpikir jauh lebih panjang.

Islam mengancam penjahat seksual ini dengan hukuman berat. Dalam Alquran disebutkan bahwa hukuman bagi pemerkosa adalah hukuman mati.

Penjahat seksual ini dikategorikan sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya. Mereka membuat kerusakan di bumi. Hukuman setimpal bagi mereka adalah dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya, serta dibuang ke luar daerah.

Kejam? Tunggu dulu. Menilik rentetan peristiwa sejenis terjadi di Aceh, hukuman ini tentu layak dipertimbangkan. Apalagi, Aceh memiliki kekhususan. Ini harusnya jadi "pekerjaan rumah" para pakar hukum Islam untuk mengaplikasikannya.

Hukuman ini tak perlu dianggap berlebihan. Melihat ke belakang, sempat muncul wacana hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual ini.

Namanya memang tidak seseram potong tangan atau dibunuh, tapi tetap saja efeknya bikin ketir calon pelaku. Jika Islam menawarkan hukuman, jangan malah dianggap ekstrem. Toh, masyarakat Aceh kan memang progresif, tak ada salahnya mengaplikasikan hukuman ini.

Komentar

Loading...