Unduh Aplikasi

Hukum Berat Direktur RSIA

Hukum Berat Direktur RSIA
MARI sejenak kita berpikir mundur dan memikirkan kembali rasa kemanusiaan kita. Mari lihat kembali ke sekeliling kita. Memikirkan bagaimana dulu kita mengidolakan seorang dokter karena mampu “menghalau” kematian, menyembuhkan luka dan menyelamatkan sebuah kehidupan.

Namun itu tak bertahan lama. Perlahan-lahan, pandangan kita bergeser tentang sosok mulia ini. Dipaksa berubah oleh keadaan yang semakin jauh dari nilai-nilai kedokteran. Dan kini, profesi ini dianggap sebagai profesi bergengsi. Bukan profesi mulia.

Proses masuk ke fakultas kedokteran yang memerlukan banyak uang membuat “benih” dokter mulai terserang “virus” sombong. Selama menjalani pendidikan, karena kebanyakan yang masuk ke fakultas ini adalah orang-orang kaya, mahasiswa miskin dipaksa untuk mengikuti arus hedonisme. Sehingga memproduksi dokter-dokter tanpa hati, hanya bermodalkan alat dan otak.

Usai pendidikan, pikiran seorang dokter hanya memikirkan cara mengembalikan "investasi" yang selangit dan merangkai impian tentang hidup enak seorang dokter. Rumah mewah, pergaulan high class, kendaraan-kendaraan bagus, semua membutakan impian masa kecil tentang mulianya seorang dokter.

Selama bertugas, seorang dokter “dipaksa” berpikir bisnis. Semua dihitung dengan nominal; untung-rugi. Bayangkan, seorang yang mengajar di kelas kedokteran harus bertugas di rumah sakit umum. Lantas sore hingga malam hari, mereka mulai mengumpulkan uang dengan membuka praktik.

Ada seorang dokter yang melayani 70 pasien sehari hanya dalam waktu 7 jam. Tak ada interaksi sosial. Jangan harapkan perbincangan intim dengan seorang dokter. Karena memang, tak ada hubungan sosial di sini. Yang ada hanya bisnis.

Manajemen RSIA, terutama direktur rumah sakit itu, harus bertanggung jawab karena gagal menghadirkan pelayanan medis jujur. Kematian seorang ibu dan anak, di tengah kecanggihan peralatan medis yang dimiliki pemerintah, adalah sebuah kegagalan fatal. Apalagi karena tak ada dokter spesialis. Ini jelas-jelas memalukan.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah harus segera memberhentikan direktur rumah sakit dan mereka yang bertanggung jawab langsung terhadap proses persalinan di rumah sakit itu sampai hasil audit medis dikeluarkan. Gubernur juga harus memecat mereka yang lalai dan memberikan sanksi administratif, jika mungkin memecat mereka dari profesi mulia ini karena gagal menghadirkan ruh kemanusiaan di rumah sakit itu.

Langkah lain yang tak kalah penting: polisi harus masuk ke dalam kasus ini dan menyingkap fakta serta menyeret dokter dan petugas yang lalai menyebabkan kematian pasien. Karena jelas ini adalah kasus malapraktik.

Bahkan lebih parah lagi, ini adalah kasus penelantaran dan kelalaian yang menyebabkan kematian. Cukuplah Muslem Puteh yang menjadi korban ketidakmanusiaan dunia kedokteran.

Komentar

Loading...