Unduh Aplikasi

Hospitality

Hospitality
ilustrasi
SYAHDAN, pada 800 Miladiyah, Khalifah Abbasiyah di Baghdad, Irak, mendirikan sebuah rumah sakit. Rumah sakit ini, di era modern, diakui sebagai rumah sakit pertama di dunia dan menjadi rumah sakit termodern. Bahkan melampaui kecanggihan rumah sakit di Eropa, yang dibangun berabad-abad kemudian.

Dalam sejumlah literatur, disebutkan rumah sakit ini mengenalkan metode diagnosis dan penyembuhan beragam penyakit. Dr Emilie Savage-Smith dari Oxford, Inggris, mengungkapkan di abad ke-12 dan abad ke-13 Miladiyah, di Mesir dan Suriah dibangun rumah sakit terbesar di dunia. Dan ini tercatat sebagai pencapaian besar Islam di abad pertengahan.

Savage-Smith pun mengungkapkan kekagumannya kepada Islam yang mengajarkan perawatan seluruh jenis penyakit tanpa memandang status ekonomi pasiennya. Semua, laki-laki, perempuan, warga sipil, militer, kaya, miskin, muslim dan non-muslim.

Di Aceh, berabad-abad kemudian, sebuah kemunduran terjadi saat seorang ibu dan anak meninggal dunia karena kelalaian para petugas medis. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak, simbol keramahtamahan, saling tolong menolong dan kemanusiaan hilang berganti kekakuan dan birokratisasi.

Kematian seorang ibu dan anak di rumah sakit ini menjadi perlambang ketiadaan hubungan antara dokter-perawat-pasien. Di sini, di negeri yang mengklaim sebagai daerah syariat, nyawa tak lebih berharga dari waktu libur atau aturan administrasi yang berbelit-belit.

Kita tentu tak bisa menyalahkan kasus ini kepada Direktur RS Ibu dan Anak, para dokter spesialis dan perawat di rumah sakit itu. Mereka adalah produk dunia kedokteran yang korup. Mulai sejak meresepkan obat, tindakan medis, dan pengadaan alat-alat kesehatan.

Betapa korupsi dengan mudah menghilangkan hati nurani. Suryani dan anaknya adalah bukti. Wajar jika Gubernur Aceh Zaini Abdullah menaruh perhatian khusus dalam kasus ini. Dalam dua hari terakhir, Zaini intensif melakukan pertemuan dengan Muslem Puteh, suami dan ayah korban. Ini adalah cara Zaini meminta maaf kepada keluarga pasien yang dikecewakan oleh rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan.

Para pembisik Zaini juga harusnya tidak menyeret-nyeret urusan ini ke ranah politik. Apalagi sampai menjadi kesempatan untuk “jual beli” jabatan. Santer terdengar tuntutan untuk mencopot direktur rumah sakit itu. Jangan sampai, proses penunjukan direktur baru, kalau memang pencopotan terjadi, malah menjadi bumerang bagi pelayanan di rumah sakit itu.

Suryani dan oroknya adalah martir yang harus menjadi pengubah sistem kedokteran di Aceh, secara keseluruhan. Baik di tingkat pendidikan maupun di tingkat pelayanan.
Karena itu, perlu dokter--dan birokrat--yang bersih untuk memimpin seluruh rumah sakit milik Pemerintah Aceh.

Atau minimal, dokter yang mau meninggalkan seluruh dunia kelam kedokteran--dengan segala pernak pernik hedonisme di dalamnya--dan menebusnya dengan mengembalikan fungsi rumah sakit ini sebagai sebuah sarana kebajikan; hospitality.

Komentar

Loading...