Unduh Aplikasi

Herzaky: Pengambilalihan Demokrat untuk Usung Moeldoko Capres 2024

Herzaky: Pengambilalihan Demokrat untuk Usung Moeldoko Capres 2024
Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. Foto: IST.

JAKARTA - Pasca konferensi pers Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Senin (1/1) kemarin siang, berkembang spekulasi, siapa sosok pejabat penting pemerintahan yang diduga terlibat dalam upaya kudeta Partai Demokrat.

Kemudian Kepala Staf Presiden Moeldoko dalam konferensi pers secara virtual, Senin (1/2) kemarin berusaha menjelaskan soal tudingan dirinya merupakan sosok di balik upaya pengambilalihan Partai Demokrat secara paksa.

Saat itu Moeldoko mengatakan sebenarnya dirinya tidak mau mengomentari isu tersebut. Akan tetapi, ia tidak ingin isu tersebut justru dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo dan Istana Kepresidenan.

Baca: Presiden Tak Tahu Apa-apa

Penjelasan Moeldoko tersebut ditanggapi oleh Kepala Badan Komunikasi Strategis, Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. Menurutnya AHY tidak menyebutkan nama, karena mengedepankan asas praduga tak bersalah, dan menunggu proses konfirmasi.

Namun tadi malam, pihaknya menyaksikan dan kita mendengar langsung penjelasan dari KSP Moeldoko dalam konferensi pers virtual. Dalam konferensi pers tersebut terlihat Moeldoko Nervous dan gugup. 

"Respon beliau sudah terprediksi. Nervous, gugup, dilihat dari gerakan tangan dan beberapa kali KSP Moeldoko menyebut gua gue," ujar Herzaky kepada AJNN.

Dalam penjelasannya Moeldoko menganggap dirinya dikaitkan dalam gerakan ini, karena berdasarkan foto-foto belaka. Padahal menurut Herzaky faktanya tidak demikian. 

"Untuk itu, atas nama Partai Demokrat, saya perlu memberikan tanggapan atas pernyataan Moeldoko," ujarnya.

Hal pertama menurut Herzaky adalah, pertemuan antara Moeldoko dan beberapa kader Demokrat, tidak dilakukan di rumah, melainkan di luar rumah. Kedua, kedatangan kader Demokrat dari daerah ke Jakarta, dilakukan secara terstruktur dan sistematis oleh para pelaku gerakan. 

"Ada yang mengundang, membiayai tiket pesawat, menjemput di bandara, membiayai penginapan, termasuk konsumsi," ungkap Herzaky.

Hal ketiga, kata Herzaky, jika Moeldoko mengatakan konteks pembicaraannya tidak dimengerti, sungguh sulit dipahami. 

Berdasarkan keterangan yang dimiliki oleh Demokrat, pembahasan utama yang disampaikan oleh pelaku gerakan dalam pertemuan itu adalah rencana mengusung Moeldoko sebagai calon Presiden 2024.

"Untuk memuluskan rencana itu, para pelaku gerakan mempersiapkan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat, melalui proses Kongres Luar Biasa," kata Herzaky menjelaskan.

Kemudian yang keempat, proses pengiriman surat Ketua Umum kepada Bapak Presiden, menurut Herzaky merupakan buah dari komitmen dan kesepakatan antara kedua belah pihak, untuk saling menjaga hubungan baik dan komunikasi yang lancar.

"Komitmen ini, dilakukan juga untuk menghentikan tindakan orang-orang yang gemar mencatut dan mengatasnamakan Bapak Presiden, maupun nama Ketua Umum Partai Demokrat, dengan tujuan yang tidak baik dan mengadu domba," ujarnya.

"Jadi jangan dibelokkan, kok malah kita dianggap berhadapan dengan Istana," kata Herzaky mengingatkan.

Menurut Herzaky, pihaknya sekedar memberikan saran dalam situasi pandemi seperti ini, orang-orang yang diberi amanah dan jabatan oleh Presiden, seharusnya fokus bekerja untuk membantu rakyat. Jangan dulu bicara capres-capresan. 

"Kasihan Presiden. Jangan sampai amanah yang sudah diberikan, dibalas air tuba. Selanjutnya, saya juga ingin memberikan tanggapan terkait konferensi pers para pelaku gerakan yang dilaksanakan pada siang hari ini," kata Herzaky.

Mereka menurut kabar berencana menjemput KSP Moeldoko sebagaimana menjemput Bapak SBY pada tahun 2004 sebagai calon presiden. Lalu ada pelaku gerakan bernama Bapak Yus Sudarso, menyatakan.

“Apa salahnya kami melakukan ini," ujar Herzaky meniru ucapan salah satu pelaku.

Menurut Herzaky, kesalahan para pelaku adalah upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat yang sah melalui Kongres Luar Biasa. Dulu, menurut Herzaky kejadian seperti itu tidak ada. termasuk saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) duduk sebagai Dewan Pembina. 

"Jadi, kalau Moeldoko mau menjadi Capres melalui Partai Demokrat, ya bikin Kartu Tanda Anggota  (KTA) dulu sebagai kader Partai . Jangan tiba-tiba ingin menjadi Ketua Umum, apalagi melalui Kongres Luar Biasa (KLB). Itu saja sudah salah besar. Itu inkonstitusional," ujarnya.

"Pak Moeldoko itu siapa? Pak Moeldoko itu KSP, stafnya Presiden. Tugasnya sekarang membantu Presiden menyelesaikan pandemi dan krisis ekonomi," ujar Herzaky menambahkan.

Herzaky meminta Moeldoko untuk tidak disibukkan atau memikirkan pencapresan. 

"Kasihan rakyat, lagi pandemi kok malah memikirkan pencapresan. Kasihan Presiden yang membutuhkan bantuan semua pihak untuk menangani krisis pandemi dan ekonomi," ujarnya.

Partai Demokrat menurut Herzaky mengajak, semua pihak untuk kembali bekerja dan fokus membantu rakyat mengatasi pandemi serta krisis ekonomi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Partai Demokrat juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh yang sudah solid di bawah kepemimpinan AHY. 

"Bersama kita kuat, bersatu kita bangkit.
Tuhan bersama kita," pungkas Herzaky.

Komentar

Loading...