Unduh Aplikasi

Heppi Yang Bikin Happy

Heppi Yang Bikin Happy
Lampu petromak bertenaga surya

Oleh: Alit Ferdian

PENAMPILAN pria paruh baya ini bak pemuda kekinian. Dia sering kali mengenakan kaos oblong dan bersepatu lapangan yang diklaimnya pemberian seorang teman. Namanya Heppi Sulaiman. Pertemuan kami terakhir berlangsung di sebuah warung kopi di Lhokseumawe.

Seperti penampilannya, berbicara dengan Heppi selalu bikin happy. Tak ada istilah “jaga wibawa” meski usia kami terpaut jauh. Selalu saja ada yang menarik dari Heppi. Di pertemuan pertama kami, di sebuah kampus politeknik, diskusi bersama Heppi sangat terstruktur. Mungkin karena suasana dan lokasi pertemuan yang mengharuskan seorang akademisi tampil serius.

Heppi Sulaiman

Sudah dua tahun kami berteman tapi tanpa perayaan hari pertemanan selayaknya di facebook, dimana teman Heppi merupakan teman saya juga baik muda dan orang tua. Dia memang dikenal sebagai pribadi yang suka berteman dengan siapa saja.

Dengan nama lengkap Heppi Yuhaimi. Dia mengajar di Politeknik Lhokseumawe. Di kampus itu, dia dipercayakan untuk mengembangkan model kampus berbasis komunitas di Aceh Barat. Saya menilai dirinya sangat fokus kepada dunia energi apalagi tengah pengembangan energi terbarukan.

Hal ini juga didukung dengan pengalaman belajar belai tentang energi baru terbarukan. Dia pernah mengatakan bahwa kami di perguruan tinggi mempunyai tiga misi penting yang harus dijalankan, yaitu pendidikan, pengabdian dan penelitian.

Dari setiap misi tersebut, setiap akademisi memiliki terjemahan yang berbeda-beda. Katakanlah seorang dosen yang memiliki kecenderungan di dunia pendidikan hanya fokus mengajar untuk menciptakan para ahli dalam sebuah bidang keilmuan.

Atau seorang dosen yang lebih suka melakukan penelitian. Dia akan melakukan inovasi-inovasi yang terdokumentasikan dalam dokumen-dokumen penelitian atau naskah akademik yang berharap dokumen itu akan berguna untuk kemaslahatan ummat.

Dan yang ketiga adalah tenaga pengajar yang memiliki kecenderungan bekerja sebagai pekerja sosial yang mengaplikasikan keilmuannya secara langsung untuk menjawab dan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Heppi mengatakan, “belum ada, hingga hari ini, saya menemukan seorang tenaga pengajar dari ratusan tenaga pengajar yang saya temui yang memiliki ketiga sense atau rasa tersebut.”

Singkat cerita, sebuah topik obrolan kami tentang energi surya saat itu sampai kepada sebuah komunitas di sekitar Danau Laut Tawar di Aceh Tengah. Sebelumnya kami berdiskusi bahwa Dataran Tinggi Gayo merupakan salah satu lumbung energi yang ada di Aceh. Mirisnya, masih ada masyarakat di daerah itu yang belum mendapatkan layanan energi itu sendiri.

Hal ini disebabkan oleh minimnya akses ke wilayah-wilayah tersebut. Tercatat, lebih dari lima desa yang ada di Tanah Gayo memiliki presentasi yang cukup rendah berdasarkan data Indek Kesulitan Geografi (IKG).

Dari potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia sampai ke identifikasi masalah secara alami, Heppi tetap menggiring diskusi ini ke arah solusi. Begini setidaknya kutipan diskusi kami yang yang sudah kami rapihkan dari bahasa warung kopi.

Ketersediaan dan tingginya harga minyak tanah menjadi kendala masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar untuk menghidupkan lampu petromak yang rutin digunakan nelayan pencari ikan depik setiap malam hari sebagai mata pencarian.

Dengan adanya lampu tenaga surya dengan kualitas cahaya dan bentuk masih sama dengan bentuk Petromak aslinya, diharapkan dapat membantu mereka mencari nafkah tanpa harus menyisihkan 8 persen modal mereka untuk membeli minyak tanah serta tetap menjaga nilai-nilai tradisional masyarakat lokal.

Harapan beliau bahwa masyarakat nanti dapat membuat lampu tenaga surya sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lokal dengan biaya yang terjangkau yang bisa digunakan untuk mencari nafkah ataupun hanya sekadar penerangan saja. Hasil diskusi ini akhirnya menjadi pekerjaan rumah kami masing-masing untuk mewujudkanya dengan kapasitas yang kami miliki.

Pada 2017, Heppy berkesempatan mengaplikasikan gagasan warung kopi menjadi kenyataan dengan adanya dukungan dana eksperimental dari DAIWA securities sebuah perusahaan di Jepang. Dengan bermodalkan kemampuan keilmuan dan didukung oleh ketersediaan komponen lokal akhirnya Heppi memulai eksperimen tersebut, yang dimulai dengan melakukan kajian sosial dan teknis yang dilakukan dengan tinggal langsung bersama masyarakat nelayan di sekitar Laut Tawar.

Tantangan pun datang dari masyarakat bahwa mereka menginginkan petromak bertenaga surya tapi harus memiliki kemampuan cahaya yang sama dengan petromak minyak tanah milik mereka. Pekerjaan mulai dilakukan, berbagai skenario, berbagai komponen dan desain dibuat dan diuji.

Kegagalan desain bukan hal aneh lagi. Karena memang sering terjadi kegagalan. Karena spesifikasi lampu petromak minyak tanah yang diinginkan masyarakat merupakan spesifikasi tinggi dan sulit untuk sebuah lampu bertenaga surya. Setiap keringat pasti akan terbayarkan jerih payah Heppi berbuah hasil dengan terciptanya sebuah lampu petromak tenaga surya yang siap diuji coba pemakaianya ke masyarakat nelayan.

Hasil uji coba berlangsung lancar tapi fatal karena cukup sempurnanya lampu diciptakan tetapi warna lampu jugalah yang membuat petromak akan sulit dimanfaatkan oleh nelayan. Karena warna kuning pada lampu adalah salah satu kunci kesuksesan nelayan dalam meraup hasil yang banyak selain tingkat cahaya lampu. Alhasil ekperiment membuat cahaya menjadi kuning adalah sebuah tantangan baru.

Kini lampu yang diciptakan Heppi mulai digunakan untuk penerangan sehari-hari ataupun lampu darurat ketika listrik padam. Kondisi ini memang sering terjadi di daerah itu. Ada 10 keluarga nelayan di desa Kelitu, Lelabu dan Pedemun yang mulai menggunakan petromak bertenaga surya.

Meski belum digunakan secara efektif untuk mencari ikan, produk itu menjadikannya populer dan dijuluki dengan “Bapak Lampu Surya”. Apapun julukannya, yang jelas, Happi membuat masyarakat di daerah itu terbantu dan senang.

Komentar

Loading...