Unduh Aplikasi

Hasutan Keji Massa PalsuĀ 

Hasutan Keji Massa Palsu 
Ilustrasi: The Malta Independent

ADA saja pihak yang melakukan upaya tandingan menghadapi pergerakan-pergerakan sosial yang mengarah pada kritik pemerintah. Dan hal ini dilakukan dengan sangat masif dan terstruktur. 

Salah satunya adalah dengan menggelar aksi tandingan. Saat mahasiswa dan pekerja menggelar aksi unjuk rasa menolak Undang-Undang Cipta Kerja, muncul sekelompok orang yang menyuarakan dukungan. Meski belakangan diketahui bahwa mereka tidak memiliki dasar pengetahuan yang sama kuat dengan para penolak. 

Saat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, yang dipelopori oleh Din Syamsuddin serta sejumlah tokoh nasional, mendeklarasikan diri, muncul massa menolak keberadaan mereka. Spanduk-spanduk penolakan pun bermunculan. Tak hanya kata-katanya yang seragam, bentuk hurufnya juga sama. 

Terlihat jelas bahwa spanduk-spanduk itu ditempah di tempat yang sama. Atau dibuat oleh orang yang sama lantas disebarluaskan untuk dicetak di banyak tempat di hampir seluruh Indonesia, terutama daerah-daerah yang menerima kelompok-kelompok pengkritik pemerintah. 

Saat Kodam Jaya membersihkan spanduk ucapan selamat datang kepada Habib Rizieq Shihab, muncul ratusan papan bunga yang menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut. Padahal tindakan Kodam Jaya itu sangat bertentangan dengan fungsi mereka dalam menjaga kedaulatan. Bahkan tindakan itu memunculkan cibiran bahwa TNI menjadi kaki tangan oligarki politik. 

Lantas, tak lama kemudian, sekelompok orang berunjuk rasa di Simpang Lima Banda Aceh. Mereka menolak kedatangan Rizieq dan mengeluarkan seruan adu domba dengan menyebut di Aceh ada ulama yang lebih hebat dari Rizieq. 

Mereka berunjuk rasa dengan atribut lengkap. Mulai dari jas seragam hingga spanduk yang berisi penolakan dan hasutan. Sepintas, unjuk rasa itu sepertinya murni sebagai bagian dari demokrasi. Namun saat dilihat lebih dekat, orang-orang yang berunjuk rasa hampir tak memahami apa yang mereka suarakan. 

Mereka hanya datang dan berdiri memegang spanduk, berharap mendapat perhatian warga dan wartawan untuk diberitakan. Lantas pulang tanpa tujuan yang jelas. Tanpa target layaknya sebuah unjuk rasa digelar. 

Di Banda Aceh, aksi itu dibubarkan oleh mahasiswa yang merasa terhina atas perilaku massa aksi palsu itu. Beruntung tak sempat terjadi keributan karena kepolisian segera mengantisipasi. 

Namun hal ini harus jadi perhatian kita bersama. Bahwa ada tangan-tangan tak nampak yang mencoba memprovokasi dan menebarkan hasutan di tengah kedamaian. Tentu saja ini seharusnya jadi tugas kepolisian untuk mengungkapkannya. 

Kepolisian, terutama Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, jangan menganggap hal ini sebagai perkara enteng. Urusan fitnah memfitnah ini harus dituntaskan dengan jelas dalangnya, apa motivasinya, dan yang terpenting, mengapa mereka melakukan hal ini.

Sebagai orang yang beragama, perilaku ini jelas sangat tercela dan tak pantas dilakukan. Bahkan agama menyebut fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. 

Komentar

Loading...