Unduh Aplikasi

Hasil Donasi, Guru SMPN 5 Lhokseumawe Bangun Rumah Layak Huni untuk Zahra

Hasil Donasi, Guru SMPN 5 Lhokseumawe Bangun Rumah Layak Huni untuk Zahra
Anggota DPRA foto bersama dengan keluarga Zahra dan Guru SMPN 5 Lhokseumawe di rumah baru dibangun. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Lhokseumawe membangun rumah layak huni untuk Zahra (15), seorang siswi yang bekerja sebagai kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

Rumah tersebut dibangun menggunakan dana hasil donasi dari sejumlah dermawan dari berbagai daerah. Dan dibangun di Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Baca: Zahra, Remaja 15 Tahun di Lhokseumawe Jadi Kuli Bangunan untuk Bertahan Hidup

Wali Kelas Zahra, Nurhayati menceritakan awal mula mengetahui bahwa muridnya itu tinggal di tempat tidak layak. Saat itu semenjak pertama belajar secara daring, Zahra tidak pernah masuk sekolah, apalagi tidak memili smartphone.

“Setelah selesai satu semester, kami panggil orang tuanya untuk ambil rapor, ternyata enggak datang,” katanya kepada AJNN, didampingi Kepala Sekolah, Sri Ariyanti dan Wakil, Rahmawati, Kamis (4/2).

Lanjut Nur, ketika memasuki semester ke dua, ibunya juga tidak datang ke sekolah. Kemudian dirinya melaporkan ke bagian kesiswaan untuk menjemput ke rumahnya, agar remaja itu mendapatkan rapor juga ijazah dari SMPN 5 Lhokseumawe.

“Kemudian kami naik becak berangkat ke Uteunkot mencari Zahra, kami sempat mutar-mutar karena tidak tau rumahnya, dan kemudian kami tanya pada ibu-ibu, saat ditunjukkan saya kaget bahwa sebuah gubuk, tapi disana ada baju Zahra dan sepatunya,” ujarnya.

Kemudian lanjut Nur, pihaknya menanyakan ibunya, ternyata lagi ditempat kanduri bantu-bantu agar dapat uang, setelah ibunya dimintai untuk pulang ke rumah sebentar, mereka menanyakan Zahra.

“Saat kami tanya Zahra dimana, ibunya jawab kalau sedang kerja, kemudian kami tanya kerja apa ibunya enggak jawab, langsung menjemput Zahra. Ternyata murid kami ini bekerja bangunan, ikat kawat dan menggali pondemen bangunan. Saat itu kami kaget melihat tangannya kembung dan pecah,” kisahnya.

Sepulang dari sana, sambungnya, mereka meminta izin kepala sekolah menggalang dana untuk bantu Zahra, dan ternyata pihak sekolah menyetujuinya. Saat itu pula donasi mulai masuk.

“Data donasi masuk kami lengkap, karena ada bukti dibuku semua. Alhamdulillah rumah layak huni hasil galang dana sudah kami bangun, akan tetapi bukan tanah milik sendiri,” ujarnya.

Namun, lanjut Nur, pihaknya masih terkendala anggaran untuk membuat kamar mandi, toilet dan loteng. Disebabkan awal mula program pihak sekolah hanaya membangun rumah dan dapur agar bisa berteduh.

Komentar

Loading...