Unduh Aplikasi

Harimau Sumatera, Terjepit di Antara Api dan Asap

Harimau Sumatera, Terjepit di Antara Api dan Asap
Gambar harimau sumatera hasil kamera jebak yang dipasang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dikutip dari suara.com

Oleh: Azhar*

Kebakaran hutan dan kabut asap di Riau dan Jambi merupakan peristiwa terburuk dalam pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia. Perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan masyarakat perambah hutan bersatu padu merusak hutan dan lahan di Bumi Lancang Kuning dan Jambi. Perusakan hutan dan lahan tersebut mengaplikasikan pembukaan hutan dan lahan dengan biaya murah (low cost) dengan api . Hasilnya kabut asap dan penderitaan bagi masyarakat yang terpapar pencemaran udara serta menurunnya kualitas lingkungan.

Sayangnya, kejadian ini berulang setiap tahun, dari tahun ke tahun. Andai keledai jatuh dua kali ke lubang yang sama, maka manusia yang membiarkan hal ini lebih buruk lagi perangainya. Pemerintah tak mampu mencegah pembakaran hutan dan lahan kecuali datang saat turun hujan. Puncaknya Agustus–September 2019. Bahkan asapnya sempat dirasakan hingga masyarakat di Banda Aceh, 1.300 kilometer dari lokasi kebakaran hutan dan lahan.

Asap hasil kebakaran hutan dan lahan secara umum berisi gas CO, CO2, H2O, jelaga, debu (partikel), ditambah dengan unsur-unsur yang telah ada di udara seperti N2, O2, CO2, H2O, dan lain-lain (Samsul Bahri, Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Kepala Bidang Perencanaan dan Penunjang Pelaksanaan UPT Hujan Buatan, BPPT. 2002).

Kandungan asap ini berbahaya bagi makhluk hidup, baik terkena langsung maupun tidak, hingga di masa yang akan datang. Kandungan logam berat akibat asap dan partikelnya dapat larut di udara dan berproses melalui air hujan hingga meretas pada sistem rantai makanan di alam liar. Kejadian dapat menurunkan kualitas genetis. Dampak lain dari kebakaran hutan dan lahan adalah kematian spesies tanaman hingga satwa liar; terbakar kepungan api atau menghirup udara kotor secara langsung. Berbagai jenis fauna ini merupakan penyeimbang alam. Ketiadaannya mengganggu keseimbangan alam.

Hal ini juga dirasakan harimau sumatera yang berada di zona bahaya asap dan kebakaran hutan di hutan alam Riau. Mengutip Greenpaece, sebanyak 857 titik api berada di harimau sumatra dan sisanya 253 berada di luar habitat. Di seluruh Pulau Sumatera terdeteksi ada 1.769 titik panas. Paling banyak ditemukan di Jambi yaitu 799 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 619.

Badan Meteorologi dan Geofisika Riau mendeteksi 211 titik. 150 titik api di antaranya berada pada level confidance di atas 70 persen. Untuk jumlah 211 titik panas itu, paling banyak di Indragiri Hilir yakni 68 titik. Kemudian disusul Indragiri Hulu 45 titik. Pelalawan 36 titik, Rokan hilir 25 titik, Kampar 12 titik, Bengkalis 9 titik, Dumai 6 titik, Kuansing 5 titik, dan Kepulauan Meranti 5 titik.

Sementara untuk titik api dari kebakaran hutan dan lahan yang berjumlah 150 titik itu tersebar di 8 kabupaten. BMKG mendeteksi titik api paling banyak di Indragiri Hilir yakni 47 titik.Kemudian disusul Rokan Hilir 19 titik, Indragiri Hulu 10 titik, Kampar 9 titik, Dumai 6 titik, Bengkalis 6 titik Kep Meranti 4 titik, dan Kuansing 4 titik (BMKG, Riau 2019).

Bencana buatan manusia ini menjadi ancaman serius bagi habitat harimau sumatra dan satwa lainnya, apakah harimau sumatera mampu berdaptasi? Faktanya: ekosistem di sekitar wilayah harimau sumatera kikis oleh kegiatan manusia di Provinsi Riau.

Skenario Satwa Mangsa
Dari segi ekologis, kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kematian sejumlah spesies tanaman sebagai pakan utama satwa herbivora, seperti rusa, kijang, babi hutan dan bermacam primata. Jelas saja ini mengganggu kehidupan satwa mega predator seperti harimau sumatera yang menjadikan hewan-hewan itu pakan.

Perubahan habitat akibat kebakaran dan gangguan anthropogenic (ulah manusia) lain sangat mempengaruhi perkembangan jumlah habitat pinggiran yang disukai beberapa spesies herbivora.Pada tingkat ini, penyusutan populasi herbivora akan berkurang. Dengan hitung-hitungan sederhana itu, besar kemungkinan terjadi kepunahan harimau yang hidup dalam kelompok habitat yang berskala kecil yang kurang memiliki konektifitas jelajah ke wilayah lain di mana harimau dapat bertahan hidup. kelompok-kelompok kecil yang terisolir ini adalah kelompok rentan.

Harimau dapat punah dalam pecahan kelompok habitat yang kecil yang mengalami penurunan mutu akibat faktor-faktor yang menentukan tadi. Di samping faktor-faktor extrinsic seperti pengaruh spesies lain (misalnya pathogen, pemangsa atau pemburu liar) dan catastrophe (banjir, kebakaran atau kemarau) dan faktor intrinsik seperti demographic stochasticity (unsur peluang dari ukuran, struktur dan distribusi penduduk) serta kerusakan genetis atau dikarenakan oleh faktor-faktor ini semua terjadi sekaligus.

Satwa krnivora utama seperti harimau diestimasi oleh para peneliti berada pada jaringan puncak dan akan menjadi besar dari segi ukuran tubuh, namun, jarang dalam segi jumlahnya. mereka hidup dalam skala kecil dari energi yang tersedia dalam kehidupan, bahkan nyaris punah, dan merekalah yang pertama kali menderita apabila ekosistem di sekitar mereka mulai dirusak (Wilson 1993).

Di samping itu, Skenario lainnya yang lebih menguntungkan bagi harimau untuk bertahan hidup adalah dengan adanya blok hutan di habitat yang ada berdekatan dengan sungai dan sumber air yang tidak terbakar. Diperkirakan harimau akan tertuju pada area ini. Maka area ini dapat dijadikan prioritas zona penyelamatan.

Upaya Konservasi
Faktanya,jumlah harimau sumatera saat ini tersisa 400 individu di seluruh Sumatera. Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70 persen dalam seperempat abad terakhir. Di Provinsi Riau, saat ini diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau di Riau dan dari hasil pengamatan melalui kamera jebak ditemukan 30 individu harimau sumatera (WWF-Indonesia,2010)

Daerah konservasi harimau sumatera di Riau dikembangkan oleh WWF-Indonesia dengan mengembangkan data dengan pendekatan ilmiah. Daerah potensial itu berada di rawa gambut Kuala Kampar-Kerumutan, hutan dataran rendah di Tesso Nilo, and di Rimbang Baling  serta kawasan rimba Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Belum diketahui dengan pasti nasib hewan-hewan eksotis itu. Ke depan sangat dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk pemantauan populasi di wilayah ini. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera 2007 -2017 yang dicanangkan oleh Kementerian Kehutanan RI sepertinya kian sulit dicapai, mengingat kerusakan hutan yang secara terus menerus terjadi di Riau.

Butuh keseriusan Pemerintah,baik Pusat, Provinsi hingga kabupaten untuk menyelamatkan harimau di Riau, jika tidak, bakar membakar lahan dan asap akan muncul kembali di musim kemarau tahun 2015, 2016, 2019 dan seterusnya, hingga harimau dan hutan di Riau hilang.

Usaha konservasi harimau Sumatera memang harus terus dilakukan agar menyelamatkan sisa populasi di hutan Riau. Harimau adalah simbol perlawanan terhadap perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri dan berbagai perusakan hutan di Provinsi Riau. Harimau sumatera adalah aset bangsa tak ternilai di Bumi Lancang Kuning.

*) Penulis adalah pengamat satwa liar Indonesia dan alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan, TGK Chik Pantee Kulu, Banda Aceh.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...