Unduh Aplikasi

Harga Kopi Turun, Petani dan Eksportir Kopi Terancam

Harga Kopi Turun, Petani dan Eksportir Kopi Terancam
Pemerhati Ekonomi/Sosial dan sejarah, Zulfikar Ahmad (Aman Dio). Foto AJNN/Fauzi Cut Syam.

ACEH TENGAH - Wabah Covid-19 selain berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat secara umum, wabah ini juga mengguncang perekonomian masyarakat, yang bergantung hidup pada sektor pertanian. Di kabupaten Aceh Tengah jika dilihat dari tahun 2018 sampai 2019, peningkatan kemiskinan di Kabupaten ini sebesar 0,8 persen. Saat angka kemiskinan itu dibandingkan dengan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ternyata di sektor pertanian terjadi penurunan pendapatan sebesar 0,7 persen.

Di kabupaten Aceh Tengah, kopi merupakan komoditas pertanian utama. Kalau berbicara pertanian di Aceh Tengah maka tidak terlepas dari Kopi. Dengan angka tersebut berarti ada penurunan pendapatan dari komoditas pertanian terutama kopi sebesar 0,7 persen, sehingga bertambahnya orang miskin 0,8 persen atau lebih kurang 1000 orang.

Data tersebut disampaikan oleh pemerhati ekonomi dan sosial Gayo, Zulfikar Ahmad dalam dalam sebuah diskusi Publik "Sabtuan" yang diselenggarakan koordinator LSM Jang-Ko, Maharadi di Bayakmi Caffe, pada Sabtu (22/8/2020) yang lalu dalam tema diskusi tentang "Bedah UUPA Dalam Konteks Kekhususan Aceh".

Sebelum adanya wabah Covid-19, petani Gayo menurut Zulfikar juga mengalami masa sulit akibat kemarau. Pada rentang waktu tahun 2018-2019, jumlah hari kering (kemarau) pada tahun tersebut lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya hama lalat buah yang membuat kopi menjadi kosong. Sehingga kopi mengalami "Pesel" atau saat dijemur, setengah bagian buah kopi hilang.

"Ini yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi kemudian pendapatan, sehingga meningkatkan jumlah orang miskin sekitar 1000 orang kalau kita bandingkan dengan PDRB," ujar Zulfikar Ahmad atau akrab disapa Aman Dio.

Aman Dio mengungkapkan bahwa ada sekitar 48 ribu Kepala keluarga (KK) di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang sebagian besar kehidupannya bergantung pada kopi. Di dalam undang undang Pemerintah Aceh (UUPA) nomor 11 tahun 2006 pasal 154 dan pasal 155 membahas khusus tentang perekonomian. Dalam hal ini dirinya ingin berfokus pada dana Otonomi Khusus (Otsus). Aman Dio dana Otsus bisa membantu petani kopi. Selama ini, dana Otsus selalu dikonsentrasikan kepada pembangunan infrastruktur.

"Pertanyaannya, apakah pembangunan infrastruktur penting? Pembangunan infrastruktur penting. Kita butuh jalan ke kebun kopi, sekolah di sekitar kebun kopi dan sarana kesehatan di sekitar kebun kopi. Akan tetapi dalam pasal 183 disebutkan bahwa selain pembangunan infrastruktur ada hal lain yang perlu diperhatikan, salah satunya pembangunan ekonomi rakyat," ujarnya.

Kondisi di Gayo hari ini. Sejak terjadi Wabah Covid-19 atau sebelumnya, kata Aman Dio, rata - rata eksport kopi melalui Belawan, Sumatera Utara 5000 ton/bulan. Sehingga dalam 12 bulan bisa mencapai 60000 ton. Jumlah 60 ribu ton tersebut yang selama ini mendukung kehidupan masyarakat Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah).

Tapi menurut Aman Dio, sejak terjadinya wabah Covid-19, terjadi penurunan ekspor sebesar 20 persen atau 1000 ton/bulan. Kalau dilihat saat Covid-19 dari bulan Maret sampai Agustus dan sampai sekarang atau mau memasuki bulan September, saat ini ada 20.000 ton kopi tertahan di sejumlah gudang yang ada di Medan, Sumatera Utara. Saat Covid-19 harga kopi di tingkat petani juga turun sekitar 5-6 ribu/bambu.

"Ada sebagian masyarakat kita yang berspekulasi membeli barang dalam jumlah yang banyak, lalu disimpan dengan harapan akan naik harganya ditambah ada petani yang tidak mau menjual kopi karena harga yang terlalu rendah," ujar Aman Dio.

Aman Dio memperkirakan saat ini ada 30 -32 ribu ton kopi dalam keadaan tertahan. Masalahnya kata Aman Dio, pada bulan September, Gayo akan memasuki musim panen kopi dan puncaknya dari bulan April sampai Juni tahun 2021. Kalau kita ambil jumlah rata - rata ekspor jumlahnya ada sekitar 60000 ton, ditambah 30000 ton saat ini, berarti ada sekitar 90000 ton barang yang akan tertahan.

"Saat kopi turun, pendapatan masyarakat 0,7 persen dari PDRB tadi, bisakah dibayangkan apa yang akan kita hadapi pada bulan Januari 2021 nanti dan Oktober besok," kata pria yang juga birokrat di Kabupaten Bener meriah tersebut.

Kondisi seperti ini menurut Aman Dio akan menyebabkan semuanya tertahan, akan ada satu beban. Dirinya berharap perhitungan tersebut salah.

"Kalau perhitungan saya salah maka 48 KK di Aceh Tengah dan Bener Meriah selamat. Namun kalau benar, apa yang harus dilakukan," ujar Aman Dio.

Persoalan harga kopi sebenarnya terjadi di eksternal bukan internal petani dan pelaku tata niaga kopi Gayo. Petani dan eksportir bukan tidak bisa jual kopi, masalahnya adalah tidak ada yang mau membeli. Para pembeli sudah mulai menurunkan volume permintaan sejak bulan April. Biasanya rata - rata eksportir kopi di Gayo bisa mengirimkan 3-5 kontainer/bulan. Saat ini, ada yang satu kontainer pun tidak jalan.

Pada bulan Juli kemarin cuma ada satu eksportir yang mengekspor kopi sebanyak 12 kontainer, dengan tingkat harga 4 dolar. Artinya, harga kopi sudah turun jauh dari harga yang semestinya. Sebelumnya harga kopi Gayo ditingkat internasional 6 sampai 7 dolar. Kalau harga kopinya menyentuh harga 3 dolar, maka ditingkat petani, harga kopi akan berada dibawah 5000 rupiah/bambu.

"Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan kita. Para eksportir biasanya, mendapat kontrak penjualan 3 bulan sebelumnya. Itu paling cepat," ujar Aman Dio.

Selain 3 bulan, kontrak penjualan kopi ada juga yang enam bulan sebelumnya, biasanya setiap 3 bulan. Sejak bulan Juli lalu, dari hasil pengamatan Aman Dio terhadap beberapa eksportir, ternyata tidak ada satupun eksportir yang mendapatkan kontrak baru. Kopi sekarang tertahan karena kontrak baru tidak ada.

"Maka kemungkinannya akan terjadi penumpukan kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang tidak akan mampu dibeli dan terserap oleh eksportir, sehingga tidak terjadi perputaran roda ekonomi ini akan menyulitkan seluruh sektor pertanian yang ada di wilayah tersebut," ujar Aman Dio.

Lebih lanjut Aman Dio mengatakan kalau barangkali hal yang disampaikannya ini adalah prediksi pesimis dan salah, dirinya sangat bersyukur kalau apa yang disampaikannya itu salah, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

"Baru turun 5000 harga kopi/bambu, kantor Bupati Bener Meriah sudah mulai dijemur kopi, apa yang akan terjadi pada April sampai Juni tahun depan jangan - jangan, seluruh kantor Bupati akan ditumpuki dan menjadi tempat jemur kopi," ujar Aman Dio.

Aman Dio kembali mengingatkan bahwa persoalan harga kopi saat ini bukan pada eksportir, petani, Pemerintah daerah dan Pemerintah pusat, tapi persoalannya dari luar. Aman Dio mengatakan, andai kata vaksin Covid-19 bisa ditemukan pada Januari tahun depan yang kemudian membuat seluruh ekonomi internasional berjalan baik dan kopi kita berjalan normal kembali. Masyarakat Gayo masih punya satu tantangan lagi yaitu rendahnya harga kopi.

"Kopi yang ada saat ini, di seluruh dunia tertahan, bukan hanya di daerah kita. Bahkan Vietnam, Brazil juga tidak bisa mengekspor kopi. Begitu vaksin Covid-19 didapat, maka kopi akan membanjiri pasar internasional, maka harga juga akan down," ujarnya.

Aman Dio juga menyampaikan bahwa petani dan pelaku tata niaga kopi menghadapi beberapa tantangan dalam waktu yang sangat cepat. Dirinya berharap apa yang dia perkirakan salah. Kalau ini benar terjadi, maka dia mengatakan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan masyarakat Gayo.

Kaitan Harga Kopi Dengan UUPA

Lalu apa kaitan persoalan kopi dengan UUPA. Salah satu persoalan dalam pasal 183 UUPA disebutkan tentang pemberdayaan ekonomi rakyat dan pengentasan kemiskinan. Pemerintah melalui UUPA bisa membantu petani kopi menghadapi persoalan ini. Kalau saat ini, kopi Gayo tidak laku, maka persoalan bukan hanya sampai tahun 2021, saat tidak ada yang membeli kopi, kata Aman Dio, maka tidak ada ongkos untuk merawat kebun tersebut.

"Begitu kebun kopi rusak. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan kebun kopi bisa berproduksi secara normal, setidak membutuhkan waktu 3 kali panen atau sama dengan 2 sampai 3 tahun yang akan datang," ujarnya.

Persoalan ini menjadi masalah karena terjadinya penurunan produktivitas, yang dihadapi petani bukan karena kopinya yang tidak berbuah. Kopi tetap akan berbuah, tetapi terjadi penurunan produktivitas. Ditambah tantangannya adalah perubahan iklim pada tahun 2018 dan 2019.

"Mestinya UUPA yang ada saat ini mestinya bisa menjadi pintu masuk kita sebagai suatu keistimewaan," ujar Aman Dio.

Sebagai penutup Aman Dio menyampaikan kalau UUPA bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang memungkinkan akan dihadapi masyarakat Gayo. Persoalan kopi Gayo ini tidak bisa diterima begitu saja dengan pasrah. Gejolak sosial dari kejadian ini akan sangat besar. Ongkos - ongkos sosial akan menjadi sangat besar. Ini seharusnya bisa kita fikirkan secara bersamaan - sama karena kaitan dan dampaknya terlalu besar.

Komentar

Loading...