Unduh Aplikasi

Harga Gabah Merosot, DPRK Dinilai Tidak Peka Terhadap Petani Sawah

Harga Gabah Merosot, DPRK Dinilai Tidak Peka Terhadap Petani Sawah
Ilustrasi. Foto: Ist

ACEH BARAT DAYA - Memasuki musim panen padi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), harga gabah kering terus beranjak turun dari harga sebelumnya Rp 4.800/Kg kini turun menjadi Rp 4.300/Kg.

Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa  Abdya (Hipelmabdya), Hafijal kepada AJNN mengungkapkan, merosotnya harga gabah padi membuat petani di kabupaten berjulukan breh sigupai itu terus merugi.

Baca: Masuki Panen Raya, Harga Gabah di Abdya Terus Merosot

Sebab, kata Hafijal, penghasilan dari hasil panen yang petani dapatkan tidak sebanding dengan ongkos yang sudah dikeluarkan oleh petani.

Menurut Hafijal, turunnya harga gabah disaat para petani memasuki panen raya, sebab kebutuhan ekonomi, mau tidak mau para petani harus menjual hasil panen milik mereka dengan harga rendah. 

"Tidak stabilnya harga jual gabah kering tentu saja sangat merugikan petani, karena disaat yang bersamaan setelah panen padi, petani harus menutupi berbagai macam biaya pra panen dan pasca panen, sehingga petani tidak ada pilihan lain selain menjual gabah dengan harga rendah," kata Hafijal, kepada AJNN,  Jumat (12/2).

Hafijal mengatakan, seharusnya pihak Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya, yang membidangi masalah tersebut lebih peka mendengar dan menyalurkan aspirasi petani kepada pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan merosotnya harga gabah.

"Bapak-bapak dewan di komisi B seharusnya lebih tau dan peka terhadap kondisi para petani di Abdya, apalagi dewan merupakan perpanjangan lidah petani untuk menyampaikan aspirasi mereka," tuturnya.

Lebih lanjut, ungkap Hafijal, DPRK Abdya melalui Komisi B memanggil Bupati untuk mempertanyakan kapan kilang padi modern milik Pemkab setempat di fungsikan untuk mengatasi persoalan merosotnya harga gabah. 

"Selama ini kami melihat banyak program Pemkab Abdya yang menyentuh petani, itu artinya kepedulian pemerintah terhadap petani sangat tinggi, akan tetapi kami berharap pendampingan untuk petani jangan hanya dilakukan sebelum panen tiba, yaitu dengan program membagikan bibit gratis, penggarapan lahan ada subsidi biaya, dan juga dibagikan pupuk gratis untuk perawatan padi, namun pendampingan pasca panen kami pikir juga sama pentingnya digalakkan," sebutnya.

Hafijal menjelaskan, jika para petani harus bertarung sendiri dengan pihak agen tentu akan membuat petani tetap terpaksa untuk menjual gabah dengan harga rendah. Sehingga, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam melawan agen padi yang mempermainkan harga gabah.

"Kita meminta DPRK untuk segera memanggil pihak terkait untuk memastikan kapan kilang padi modern milik Pemda yang dibangun menghabiskan biaya Rp 7,75 miliar tersebut difungsikan, karena cita-cita awal pembangunan kilang padi modern itu adalah untuk membantu petani mengatasi anjloknya harga gabah saat panen raya," tutupnya.

Komentar

Loading...