Unduh Aplikasi

Harga dan Produktifitas Pala di Abdya Anjlok

Harga dan Produktifitas Pala di Abdya Anjlok
Pala abdya
ACEH BARAT DAYA – Harga dan produktifitas Pala di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) anjlok. Pasalnya, dalam setahun petani setempat hanya mampu mengasilkan biji pala 500 kilogram per hektare, dengan harga jual tergolong murah, akibatnya banyak petani pala beralih ketanaman lain.

Saudi, warga Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya, Jum’at (30/10) mengaku, tidak bisa berharap banyak dari hasil pala miliknya, sehingga terpaksa beralih ke tanaman lain seperti kopi dan tanaman yang sifatnya bisa menguntungkan lebih banyak.

Kata Saudi, harga pala saat ini terlalu murah, dalam kondisi basah, agen pengepul hanya mampu membayar dengan harga antara Rp.8 ribu sampai dengan Rp.12 ribu per kilogram.

“Kondisi saat ini jauh berbeda dengan masa lalu, dimana pala bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat di Abdya yang ketika itu masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Selatan. Saat itu daerah kita dikenal dengan penghasil minyak pala, sirup pala dan kue pala,” sebutnya.

Sementara itu, Irwandi warga Desa Alu Sungai Pinang Kecamatan Jeumpa, Abdya juga mengaku banyak tanaman pala mereka mati mendadak akibat diserang hama sehingga terpaksa beralih untuk menanam tanaman lainnya.

"Banyak tanaman yang mati, akibat diserang hama, sehingga beralih ke tanaman lainnya,” tuturnya.

Bukan itu saja sebutnya, harga pala juga semakin anjlok, sehingga tidak sedikit dari petani pala disana enggan untuk merawat tanamannya.

"Pala banyak yang mati, harganya pun murah, terkadang pohon pala itu dibiarkan tumbuh diantara semak belukar yang terus mengancam pertumbuhan pohon pala,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Abdya, Herman Suriadi, mengatakan, sebelum tanaman pala di Abdya terserang penyakit, hasil produktifitas pala dalam setahun bisa mencapai satu ton per hektare, bahkan bisa lebih dari itu.

Namun saat ini, pasca banyaknya penyakit yang menyerang tanaman pala, sehingga produktifitas pala jauh menunurun, karena banyak tanaman yang mati secara mendadak. Selain itu kurangnya perawatan dari para petani akibat rendahnya harga pala, juga menjadi faktor utama merosotnya produksi pala di Abdya.

“Dalam setahun bisa dikatakan petani hanya mampu menghasilkan 500 kilogram untuk satu hektare tanaman pala,” sebutnya.

Dari 3000 hektare lebih lahan pala yang tersebar di sembilan kecamatan dalam Kabupaten Abdya, tambah Herman, baru setengah yang sudah menghasilkan pala, selebihnya masih dalam tahap pertumbuhan dan perawatan.

Akan tetapi, bila dilihat dari cara pengembangan, termasuk penanggulangan hama penyakit, sistem pertanian pala di Aceh masih belum memenuhi standar yang maksimal dan jauh tertinggal dari provinsi lain.

“Makanya produktifitas pala di Abdya belum ada kemajuan yang berarti,” katanya.

Solusinya sebut Herman, untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, agar mendukung pengembangan komoditi pala sekaligus mendorong terbukanya pasar yang mampu menampung penghasilan pala petani di Aceh dan Abdya khususnya.

|JULIDA FISMA

Komentar

Loading...